[Ga Penting] Es Teh Manis Panas, jangan pakai lama

seperti biasa, seperti yang udah-udah… kalo makan siang minumanku ga jauh dari es Teh Manis..
Kalo ga ada ya teh botol, apapun brand nya asal yang bukan beraroma buah..

Nah, kalo makan siang ditempat-tempat yang selalu berbeda-beda… (maklum kantor letaknya jauh dengan t4 makan) aku selalu pesan minuman tersebut.
tapi kadangkala kalo aku lagi timbul isengnya (yang kata teman-temanku udah level 7)
aku selalu bilang sama mas atau mbak-mbak yang melayani dengan meminta pesanan minum sbb:

Mas/Mbak2 : Minumannya apa mas??
Akuw : Es Teh Manis Panasnya ya mbak… jangan pakai lama..

Nah… biasanya mas atau mbak2 itu akan membawakan Es Teh Manis 1 gelas.. dengan atau tanpa Lama.

Pernah waktu makan nanggung (antara makan Siang dan amkan malam jam 16.00 bareng Yuna)
aku ngasih tau Yuna,.. aku suruh dengerin baik2 apa yang aku minta..
Yuna sampe melotot dan bilang dasar jahilllll.. iseng amat lo….
terus aku bilang, “nanti yang diantar pasti es teh manis” dan itu betul..

Tapi, tadi siang.. setelah shalat jum’at… aku coba tempat makan baru menunya nasi Ulam..
eh, aku iseng lagi mesen gitu..
Akuw : Mas, Es Teh Manis panasnya satu ya.. jangan pakai lama lho… udah haus niyy
Mas2 : “udah berjalan, berhenti sebentar, nengok kearah aku.. terus mengernyitkan dahi & tersenyum simpul”
Akuw jelas terkejut, dan langsung berpikiran… pasti ini kejadiannya… pasti ini kejadiannya

Eh, ga lama mas2 itu datang sambil bawa ES Teh Manis Panas…
Aku ketawa habis…. terus aku bilang… sungguh mas, selama nyaris 5 taon ini selalu sama..
baru kali ini mas yang bisa menuhin pesanan saya…
Eh mas2nya sambil senyum bilang… yah… kalo saya ga kreatif, besok2 mas ga mau datang lagi donk..

Hahaha…
sungguh… dia mengantarkan 1 gelas Teh Manis panas dengan 1 gelas Es Batu full….
ternyata…. keinginannya cuma satu… biar konsumen menjadi pelanggannya… hebattttttt….

Advertisements

[share] Mendengar dengan Hati

M E N D E N G A R  D E N G A N  H A T I

Setiap orang memiliki tipe mendengar yang berbeda-beda. Jika
dikelompokkan setidaknya ada tiga tipe mendengar.

PERTAMA : MENDENGAR DENGAN MULUT
Orang tipe ini suka memotong pembicaraan aau mencari sela dan
langsung menerobos. Orang seperti ini sebenarnya tidak mendengarkan,
melainkan ingin didengarkan. Biasanya ia akan bercerita tentang
kehebatannya sendiri atau tidak ingin kalah dari teman bicaranya

KEDUA : MENDENGAR DENGAN KEPALA
Orang tipe ini akan kelihatan diam ketika rekan bicaranya berbicara,
namun pikirannya terus berjalan mencoba mencari jawaban-jawaban atau
alasan-alasan kalau pembicaraannya menyangkut dirinya. Bila orang
sedang mengutarakan pendapat atau masalah, pikirannya akan sibuk
membuat analisis atau kesimpulan. Singkatnya, ia sibuk dengan
dirinya sendiri agar pada saatnya nanti, ia memberi jawaban yang
memuaskan. Orang seperti ini biasanya menggunakan kata-kata: “kalau
saya…..” “mestinya…..” atau “seharusnya…..”. Fokus perhatiannya
hanya tertuju pada apa yang dikatakan secara verbal oleh rekan
bicaranya.

KETIGA : MENDENGAR DENGAN HATI
Mendengar dengan hati sering disebut dengan empati. Orang tipe ini
mencoba keluar dari dirinya sendiri dan menempatkan diri seperti
teman bicaranya. Fokus bukan pada apa yang dikatakan tetapi pada
pribadi orang yang berbicara. Disini perasaannya lebih dominan
ketimbang pikirannya, dengan menunjukkan bahasa non verbal atau
bahasa tubuh tertentu. Misalnya menggengam dengan erat, menatap
mata, mengangguk bahkan memeluk tanpa banyak kata. Ia juga berusaha
agar si pembicara lebih leluasa mengungkapkan perasaannya. Untuk
bisa bertipe seperti ini seseorang harus penuh perhatian dan peka
akan kebutuhan orang lain..

Sekarang bagaimana dengan anda ? Ada banyak orang di sekitar
kita yang kita temui tiap hari. Banyak dari antara mereka yang ingin
kita dengar suaranya; banyak dari antara mereka yang sebenarnya
ingin berbicara tetapi menjadi takut dengan sikap kita, banyak dari
antara mereka bukan hanya ingin mendengarkan saja, tetapi juga
didengarkan. Didengar bukan hanya dengan telinga tetapi juga dengan
hati.

Betapa indahnya dunia ini bila kita semua selalu berusaha
untuk selalu mendengar, apalagi dengan hati dan bukan ingin
didengarkan saja.

Email : Taufiqul Halim

[aku belajar] Kesempatan dalam keterjepitan

Belajar dari Pak Maskur

Hari minggu setelah abis kondangan ke teman yg merit didaerah Lemhanas dan kalibata trus abis ikutan acaranya B, ku langsung balik…
Biasalah basa basi dikiit sama pak supir.. Selamat siang, mau kmana tujuannya…  n kirim sms ke teman ngasih tau naik taxi merek apa, asal serta tujuannya.
Tapi pas aku perhatiin, Pak Maskur nama pengemudinya keliatan ceria, selalu tersenyum (atau memang defaultnya aku ga ngerti)

Ya susah, sekalian killing Time (Vhasie version) ngobz lah sama pak pengemudi ini.

Pertanyaan standar yang selalu kutanyakan biasanya pool mana, udah berapa lama narik (bukan narik gerobag lho) knapa tertarik dengan Taxi ini, gimana dengan prospeknya dibanding taxi sejenis dan tentu saja wort it ga dengan apa yang dia dapat selama ini, trus kalo udah mulai ngobz biasanya tanya asalnya dari mana.. biasanya kalo kita berdialog dengan logat yang sama, malah ga canggung buat ngobz.

Ternyata bapak maskur tanpa diminta malah menceritakan awalnya mengemudi.
Dia berasal pemalang, datang ke Jakarta 12 tahun yl, karena ga mau cuma jadi buruh tani saja.
sampai diJakarta, terdampar di daerah kalideres dan karena ga punya ketrampilan, dia hanya narik beca yang harus menyetor tiap hari.. Selama 7 tahun narik beca, dia juga sering membantu ibu-ibu disekitar tempatnya mangkal.. juga berkenalan dengan supir dan kenek matrial.


Ternyata semuanya itu ada hasilnya. dengan berteman bapak Maskur mendapat banyak..
dari Ibu-ibu (PKK) dia boleh mengikuti kurus membuat es puter beserta dengan  bahan-bahanya gratis..
Berteman dengan supir matrial dia bisa sambil belajar mengemudikan mobil..

Setelah 7 Tahun menarik Beca, dan belajar nyupir, bapak Maskur memberanikan diri membuat SIM dan melamar sebagai pengemudi Taksi.. Dalam mengelola budgetnya bapak maskur ini lumayan oke..
dia ga peduli buat tinggal di Mess, dan dia memaksakan diri u/ menabung…
Sebagian dikirim ke kampung untuk istrinya..
sebagian dijadikan modal usaha u/ membuat Es puter yang dipelajari dari ibu2 pkk itu..


Pak maskur mengajak istrinya datang ke Jakarta, dan tinggal didaerah Ciputat..
disana Bapak maskur sekarang mempunyai 6 orang anak buah untuk berdagang es puter dengan penghasilan bersih rata2 30 ribu per orang/hari…
Sebagai pengemudi taksi, pak maskur mempunyai langganan tukang bubur ayam, yang selalu ramai.. dia penasaran banget sama t4 itu..  knapa selalu ramai… dia ga malu2 bertanya, ngobrol2….
karena sering makan dit4 itu, akhirnya diberikan juga resepnya…  hingga resep mentahnya..
dan sekarang istrinya berjualan bubur ayam dirumahnya

Sungguh hebat Pak Maskur ini…
Ada beberapa pelajaran yang aku ambil pertama, dia ga mau nyerah dengan keadaan, mulai dari buruh tani, mbecak.. hingga menpunyai anak buah.
kedua, dia mampu melihat peluang.. yang disesuaikan dengan kemampuannya dia..
Ketiga, dia ga segan-segan bertanya… tentang apa yang membuatnya penasaran…

Sungguh, baru kali ini aku naik taksi ga cuma sekedar ngobz tapi dapat banyak…

You Make Me Feel Brand New – Lyric

My love
I’ll never find the words, my love
To tell you how I feel, my love
Mere words could not explain
Precious love
You held my life within your hands
Created everything I am
Taught me how to live again

Only you
Cared when I needed a friend
Believed in me through thick and thin
This song is for you
Filled with gratitude and love

God bless you
You make me feel brand new
For God blessed me with you
You make me feel brand new
I sing this song ’cause you
Make me feel brand new

My love
Whenever I was insecure
You built me up and made me sure
You gave my pride back to me
Precious friend
With you I’ll always have a friend
You’re someone who I can depend
To walk a path that never ends

Without you
My life has no meaning or rhyme
Like notes to a song out of time
How can I repay
You for having faith in me

GIE, Nomat today 19.15, PS

Temans, Yang mau Nomat, Hari ini di PS jam 19.15. yang mau join tolong kabar2i aja.. sebelum jam 13.00 siang ini. Coz mau beli tiketnya… Thanks

KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN
SOE HOK GIE

Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran”, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih batu dan cemara
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

“Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa naik gunung
Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.”

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya”, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang
itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!

Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.

Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung
Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”

Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil”, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti”.

Arief pun menulis kenangannya lagi: … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.

Mimpi seorang mahasiswa tua
John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: …Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: … Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, … Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: … Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: … Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarla
h mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa”. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik cuma sementara
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Sumber : Copas

[Aku Belajar] 06.00 – 18.00

Hari aku belajar

Bahwa menepati Janji sangat penting
maka maafkan bila aku tidak bisa menepatinya

Bahwa berteman itu harus mengerti karakteristik temanku
Maka maafkan bila aku masih menyinggung perasaanmu

Bahwa sesuatu yang seharusnya ditanyakan, jangan melalui orang lain
tapi tanyakan saja langsung pada aku
Maka Maafkan aku yang sudah mencoba bercerita pada kalian
tetapi orang lain yang kalian tanya….
maka maafkan aku kalau ternyata kalian bakal kehilangan aku
sebagai sahabat….
karena kalian pun memutuskan persahabatanku dengan orang yang
mengerti akan aku…..

Joke : dari milis Stat98its

Berikut ini ada sharing dari seorang kawan kita pemakai mobil berbandrol TOYOTA KIJANG INNOVA.

Jhonny (kawan kita) baru saja membeli mobil gres TOYOTA KIJANG thn 2005 pada akhir februari lalu.

Sehari setelah sampai dirumah tgl 15- 2 - 2005, dengan riangnya sang istri menyambut kedatangan mobil baru tersebut, alhasil mobil tersebut dicoba bersama sang anak.
Namun anehnya mobil tersebut tidak seperti yang diharapkan oleh sang istri,
Mobil tersebut mengalami gangguan mesin yang sangat fatal, yaitu mobil tersebut tidak dapat dilakukan pindah gigi dari 1 menuju ke gigi 2, maka yang terjadi mobil tsb loncat ke gigi 3.

Besokannya sang istri bersama Jhonny pergi ke salah satu bengkel Auto 2000 yang terdekat (bengkel resmi), dengan berasumsi mobil tersebut masih dalam masa garansi. Tetapi pada waktu kawan kita complain ke mekaniknya, dengan mengatakan bahwa mobil tsb tidak bisa pindah ke gigi 2 dan langsung ke gigi 3 , maka sang mekanik(cecep, kepala montir) hanya bengong dan tidak merespon sambil mengerjakan mobil lainnya. Kesal dan geram menjadi satu seketika itu juga saat montir tersebut terus tidak acuh.
Merasa di cuekin akhirnya kawan kita membentak montir tersebut dan minta penjelasan mengapa di bengkel sebesar ini (Auto2000) konsumen diacuhkan complainnya, maka dengan muka sedikit bersabar serta tanpa dosa sang montir mengatakan itu sudah resiko bapak memilih kijang.

Kontan saja Jhonny makin naik darah.
Kan bapak sudah tahu ..lanjutnya, di tv serta di koran juga sudah dijelaskan kalau kijang MEMANG TIADA DUA-NYA ...... (jadi dari gigi ke 1 langsung ke gigi ke 3, 4 dan 5)

Mencintailah hanya karena Allah

Mencintailah hanya karena Allah

Pernahkah hatimu merasakan kekuatan mencintai
Kamu tersenyum meski hatimu terluka karena yakin ia milikmu,
Kamu menangis kala bahagia bersama karena yakin ia cintamu
Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka
Dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta

Pernahkah cinta memerahkan hati membutakan mata
Kepekatannya menutup mata hatimu memabukkanmu sesaat di nirwana
Dan kau tak bisa beralih dipeluk merdunya nyanyian bahagia semu
Padahal sesungguhnya hanya kehampaan yang mengisi sisi gelap hatimu
Itulah cinta karena manusia yang dibutakan nafsunya

Cinta adalah pesan agung Allah pada umat manusia
DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNYA di atas Arsy
Cinta dengan ketulusan hati mengalahkan amarah
Menuju kepatuhan pengabdian kepada Allah dan RasulNya
Dan saat pena cinta Allah mewarnai melukis hatimu,
satu jam bersama serasa satu menit saja

Ketika engkau memiliki cinta yang diajarkan Allah
Kekasih menjadi lentera hati menerangi jalan menuju Illahi
Membawa ketundukan tulus pengabdian kepada Allah dan RasulNya
Namun saat cinta di hatimu dikendalikan dorongan nafsu manusia
Alirannya memekatkan darahmu membutakan mata hati dari kebenaran

Saat kamu merasakan agungnya cinta yang diajarkan Allah
Kekasih menjadi pembuktian pengabdian cinta tulusmu
Memelukmu dalam ibadah menuju samudra kekal kehidupan tanpa batas
Menjadi media amaliyah dan ketundukan tulus pengabdian kepada Allah
Itulah cinta yang melukis hati mewarnai kebahagiaan hakiki

Agungnya kepatuhan cinta Allah bisa ditemukan dikehidupan alam semesta
Seperti thawafnya gugusan bintang, bulan, bumi dan matahari pada sumbunya
Tak sedetikpun bergeser dari porosnya, keharmonisan berujung pada keabadian
Keharmonisan pada keabadian melalui kekasih yang mencintai
Karena Allah adalah kekasih Zat yang abadi

email : Dita Tania Maharani Wahyudi