High Legal Cost For Married

i’m not talking about the cost for the party a.k.a resepsi, but what I meant is the administration fee in order to have yourself a marriage certificate!!!!

*Ngurus surat di kelurahan (pake pengantar dari RT/RW) = 100 ribu
dari kelurahan ke KUA Asal = 150 ribu

Since I’ll be holding my wedding akad in X Building, which is located in J town,

I have to have permission from the local KUA (KUA J)…
this is what they so-called “Surat Numpang Nikah, or Numpang Akad”,
and it’ll cost = 700 ribu….
“Seven hundred thousand rupiah sajah!!!!!”

And this is not included “amplop” for Penghulu, which is optional, of course….
I wonder what made this fee soooooo high that I could almost reach the sky???

Practically, you have to have at least 1 miliion rupiah in order to have a legal marriage (maksudnya legal di sini maksudnya diakui negara yah)

Giling… dan “tarif” ini sama dengan di kota lain, jadi mungkin sudah ada standardnya dan bukan sekedar pungli untuk “bagi2 rejeki” ke aparat negara tsb…
(aku termasuk aparat negara nggak yaaaa??? )

Pantesan aja banyak orang yang ngirim surat buat ikut reality show “Nikah Gratis”.
Karena mereka memang ngga punya uang untuk hanya sekedar to have a proper marriage. Dan nggak heran juga kalo kalo ada yang nekat nikah bawah tangan
(maksudnya di sini nikah bawah tangan untuk orang2 yang bener2 niat nikah untuk tujuan kebaikan ya, bukan yang menikahi selingkuhannya untuk dijadikan istri kedua ketiga ato keempat :p)

Karena males ngurus2 tetek bengek Administrasi, dan juga untuk menghindari biaya yang nggak sedikit itu.. well, minimal ngasih amplop lah buat yang nikahin…

Sharing dikit boleh kan yah…

*sempet shock waktu dikasih tau perincian biayanya… I thought I wouldn’t cost over 500 ribu :p*

** Email dari seorang teman

Advertisements

Choice

A B C D E F G H J K L M I S S Y O U N P Q R T W X Z

A B C D F G H I L O V E Y O U J K M N P Q R S 
T W X Z


A B C F G H J K L M N P Q R T U V W X Y E S I D O Z

B2W : Black 2 Walk :D

Kemarin, hari minggu nyoba gowes sepeda tuaku ke Senayan bareng 3 teman dekat rumah.
ternyata, lumayan juga bikin baju basah kuyup.
Perjalanan yang diperkirakan bakal makan waktu 75 menit, molor jadi 88 menit. ada dua masalah dijalanan.

Masalah pertama,

temanku baru kali ini lagi genjot sepeda, jadi ketinggalan rada jauh, aku sama temanku baru sadar setelah dicawang.
Akhirnya stelah nunggu, kita jalan bareng lagi, 
Ternyata ada satu temanku yang genjotnya semangat beda lumayan jauh lah, beda sekitar 4 menit dia ada didepan. Aku ga bakal bisa nguber, maklum umur ama dengkul ga bisa bohong :p

Di daerah mampang, kita disalip ama 4 orang menggunakan sepeda balap, gila.. asli kencang, kalau kecepatan kita puaaling kenceng cuma 22km/jam tapi lebih seringnya dibawah itu.

Masalah kedua
pas lewat komdak dijalan antara arah ke sudirman dan menuju semanggi,
temanku berhenti di tengah separator yang menuju sudirman,

bersama dengan salah seorang bapak yang memakai sepeda balap tadi.
Temanku memanggil dan minta minum, ternyata buat si bapak.
setelah mendekat, ternyata ceritanya sibapak diserempet mobil, dan mobil itu langsung kabur.. (tipikal orang indonesia yang ga mau tanggungjawab) 
Helm nya pecah, luka didengkul dan disiku, Fyuh… gila juga tuh mobil… bapak tersebut, akhirnya meminta kami  untuk melanjutkan perjalanan, dia bilang dia gpp…
setelah meyakinkan kembali.. akhirnya kami jalan lagi. oh iya.. di helm bapak tersebut ada tulisan Rudy Project, maaf sekali pak kami ndak bisa bantu banyak, karena kami juga ga bawa p3k, cuma minum dan counterpain

Setelah sampai senayan, perjalanan dilanjutkan ke monas, ternyata disana ada yg nyolong start untuk pilkada DKI.. ah, peduli amat…  Karena target selanjutnya balik ke bekasi dengan coba rute baru
kalau berangkatnya Bintara-Kalimalang-Cawang-MT Haryono-Senayan
Pulanngnya nyoba Senayan-Monas-Diponegoro-Matraman-Jatinegara-Ngurah Rai-Bintara

Perjalanan pulang ini lumayan seru, karena harus ngadepin mikrolet yang tiba-tiba motong jalan naikin atau nurunin penumpang. belum lagi motor yang senak udele dewe.

Dari Jatinegara, banyak barengan, ada ibu-ibu yang bawa dagangannya,  tukang ayam potong keliling, tukang garam.. Aku jadi mikir, perjalanan dari Monas sampai jatinegara udah ngerasain cape
apalagi dengan mereka ya, membawa beban sambil ngonthel tiap hari dan itu juga sepedanya tanpa perlengkapan apapun… salut buat mereka yang memang ber-bike-nya emang 2 work..

*masih malu hati*