Belajar dari penjual Mie Ayam

Selama di Asem Baris, biasanya, kalau berangkat kerja, aku ga pernah sarapan.
paling cuma minum teh atau kalau ga keburu ya bawa air putih dari rumah. Kalau perut minta diisi, baru deh cari sarapan. Biasanya cari yang ringan-ringan aja, Mie ayam dideket stasiun tebet jadi sasaran.

Senin kemarin, aku sarapan disana. diseberangku, dilantai depan AlfaMart, ada seorang anak kecil kira-kira berusia 10-12 tahun, dengan adiknya yang aku duga berusia 3 tahun, karena ga beda jauh besarnya dengan keponakanku.

Setelah mie yang kupesan datang, aku melihat anak yang paling kecil datang ke penjual mie lalu menyerahkan uang sebesar Rp 500, untuk membeli mie.
Lantas, sibapak meminta anak buahnya untuk membikin mie tersebut, setelah jadi diantarkan ke anak yang lebih besar. Makanlah mereka berdua.

Ketika aku telah selesai, aku bermaksud untuk membayari mie yang dimakan kedua anak tersebut.
Si bapak penjual Mie, lalu tersenyum dan berkata… anak tersebut sudah membayar, kalau bapak mau membayari, belikan saja mereka minum didalam (sambil menunjuk ke Alfa) si bapak bahkan tidak menyaranku untuk mebeli minuman ditempatnmya.
Dan dia juga bilang, kalau bapak mau memberikan sesuatu, jangan berikan uang pak, lebih baik yang lain.

Speechless deh aku…

Advertisements

Guyon ala Aa

Pas acara MQ di Istiqlal tadi siang (200408) saat diberikan sesi tanya jawab, bertanyalah seorang pemuda kepada Aa.
kurang lebih gini inti pertanyaannya, Penanya tersebut salah mengambil suatu keputusan, jadinya dia gelisah terus.
Terus dijawab sama Aa, kalau orang tersebut datang ke Istiqlal tau darimana, dan itu kan merupakan sesuatu yang telah diatur oleh Nya.  Jadi ga ada yang sia-sia, bisa bercerita dan mudah-mudahan hatinya menjadi tenang.

Terus Aa mencontohkan, ada yang setelah pulang dari mengaji disini, tiba-tiba digigit anjing, dan bilanglah orang tersebut : Ya Allah, aku kan habis mengaji, terus kenapa aku digigit anjing, padahal disebelahnya ada tulang.
Aa bilang, jangan putus asa dulu, karena akhirnya di Rumah Sakit ketemu dengan perawat, dan akhirnya perawat tersebut menikah……..
(aku perhatiin banyak yang hadir tersenyum) ….. dengan Dokter
(Aa meneruskan kalimatnya) disambut tawa yang lain
Tapi ga usah khawatir, ada hal yang bisa diambil, akhirnya kan bisa…….. merasakan patah hati

*terus terang, aku jadi ketawa, n mikir.. iya juga ya, siapa tahu orang tersebut akhirnya mendapatkan pengalaman pertama digigit anjing dan kali aja belum pernah merasakan patah hati sebelumnya 😀

[iseng] Ngakalin HRD :p

kalau sebagai karyawan teladan tentu datang paling pagi, dan pulang minimal setelah waktunya pulang telah lewat.

Nah, kalau untuk karyawan yang rada-rada kreatif (bilang aja nakal, susah banget siy), jika mesin absen masih menggunakan mesin manual, belum finger print, ini mudah diakali,
1. bisa titip teman/gebetan/selingkuhan yang datangnya pagi dijamin absen ga bakal merah.
2. bisa titip absen sama OB, kalau ini biasanya keluar sedikit biaya, sekedar uang lelah untuk nyeklokin absen.

Trus, kalo persh udah ada indikasi melihat, kok absen nih pegawai ga pernah merah, padahal kalo di cek ditempatnya, idungnya aja belum nongol. akhirnya, diganti ama sistem finger print lah. mo berkelit gimana lagi coba.

Tapi sebagai karyawan yang kreatif, finger print itu kan biasanya 2 jari yang terdaftar, kalau ini kudu ngedeketin orang IT, datang berdua dengan mitra, misalkan, pas daftar atas nama kita, kasih jari jempol kanan kita, trus, pas diminta sidik jari yang kiri, kasih jari jempol kiri teman kita, begitu pula sebaliknya.
Jadi masih bisa gantian kan buat absen.

Kalau buat bagian lapangan entah itu sales, marketing dsb, pas bangun kesiangan, tinggal laporan by phone.. trus bilang langsung jalan ke lapangan… siang2 baru muncul deh 😀

Itu tadi dalam masalah absen, kalau persh yang menggunakan Voucher taksi, dan kebetulan kita diberi voucher untuk tugas,
bisa aja pas waktu tugas itu, kita naik kendaraan sendiri atau angkutan umum, trus pas kita butuh, kita bisa pakai vouchernya.

Gini contohnya, misal dikasih voucher untuk ke bandara, kita ga pakai, tapi kita naik damri. Voucher ya pegang dulu. pas kita butuh, misalnya dari sudirman mau ke bogor, baru kita pakai tuh voucher.Biasanya persh ga sampai detil untuk re check tanggalnya,
tapi jangan lupa bilang ama sopirnya ditulisnya dari tujuan misalnya dari menkominfo ke bandara, jangan ke bogor, serta jumlahnya disesuaikan kalau kira-kira jumlahnya lebih besar, anggep aja nombok.

Nah, dua trik aja dulu yak…. trik lain nyusul :p :p
*Trik ini buka ngajarin yang ga bener lho… makanya dibilang trik, bukan tips 😀
*lagi iseng*

Oh Za Za

57663

Ini bukan cerita tentang si adek bungsu yang kebetulan mempunyai nama sama.
Tapi ini adalah kisah nyata yang terjadi pada temanku.
Suatu hari beberapa teman-teman dari divisi akan mengadakan makan malam di Sarinah, karena masih ada sedikit kerjaan, salah seorang temanku datangnya belakangan, sedangkan aku sendiri tidak jadi ikut karena harus segera pulang.

Ketika akan pulang, aku di telp oleh temanku, dia menanyakan lokasi bertemunya, aku bilang ga tahu, karena dari awal sudah ga mau ikutan, dan aku sarankan untuk menanyakan pada teman yang sudah datang lebih dulu.

Tidak lama temanku telp kembali dan bilang, Bang, aku udah telp, katanya mereka ada di Oh La La, aku ga bisa nemuin tempatnya, itu lokasinya dimana ya? aku sekarang didepan Oh Za Za

aku tersedak dan sambil menahan tawa bilang, oh za za itu ya oh la la,
yang bikin logo dulu kpleset.. jadi kbacanya oh za za tuh.

Kalau diliat-secara sekilas memang tulisannya seperti oh za za, jadi temanku memang ga salah… 😀