Itu jalanan atau kubangan

Bagi warga bekasi atau yang beraktitas di kota bekasi atau yang sering melewati Jl Kalimalang sebagai jalan penghubung antara Jakarta Timur dengan Bekasi khususnya Jl. KH Noer Ali, pada ruas jalan antara Caman – Galaxy (Superindo) selama 2 tahun ini harus siap fisik dan mental.
Siap fisik karena melalui jalan sepanjang jalan 3km itu penuh perjuangan, harus hati-hati agar tidak terperook kedalam lubang, tepatnya sih kubangan.
Sedangkan kalau persiapan mental karena setiap hari melewati jalan itu yang terlontar adalah sumpah serapah, belum lagi kalau telat mau kekantor, janjian ama gebetan atau kebelet minum kopi di gloria jeans di Bekasi Cyber Park.

Kalau musim kemarau ini masih mending lah, tapi ketika musim hujan tiba, sudah harus bersiap berenang.
Bagi pengendara sepeda motor, cara yang dilakukan agar tidak terjebak dalam lubang adalah dengan melawan arus, pada jalur lawan, dan tentu saja itu membuat bahaya bagi dirinya sendiri serta orang lain.
Kerugian lainnya adalah usia spare part kendaraan akan lebih cepat masa gunanya. Terutama bagian kaki-kaki. itu kaki kendaraan,
Selain kaki kendaraan, kaki pengemudi pun juga harus cepat diganti, maksudnya butuh perawatan, karena sering2 injek rem atau kopling.
Kalau bagi pengendara roda dua, kaki nya juga harus sigap untuk turun. kalau pegal kan harus ketukang pijat atau urut, dan berarti menambah biaya bagi perawatan kaki :p

Entah sudah berapa banyak surat pembaca yang dimasukan kedalam suratkabar, tapi realisasinya tidak ada.
Sebelum pemilihan walikota bekasi, orang banyak berharap dengan perubahan terhadap infrastruktur jalan ini, tapi nyatanya hingga saat ini belum ada perubahan.
Begitu pula setelah pemilihan gubernur jawabarat yang baru, mungkin akan ada perubahan, tapi ya sama saja.

Siapapun pejabatnya, -minumannya teh botol sosro- jalanan itu tetap rusak.

Ada baiknya para pejabat pemerintahan yang berada di wilayah bekasi mengajukan proposal kepada walikota dan dibuat tembusan kepada Gubernur Jawa Barat untuk mengalihfungsikan ruas jalan tersebut menjadi Kolan/tambak ikan lele.
Sesuai dengan lambang kota bekasi.
Kan sekarang lagi seru-serunya alih fungsi… kalau dilaksanakan secara terbuka, ya jauhlah di utak atik KPK.


Dan kalau untuk ruas jalan, bisa saja dibuat jalur -buka tutup- dijalur sebelahnya seperti di puncak. kan lumayan tuh, bisa nambah angkatan kerja bagi pedagang disekitar jalur itu dan menjadi peternak ikan lele.
Siapatahu nanti akan berkembang wisata kuliner di wilayah jalan KH Noer Ali.

Siapapun yang ingin tantangan dan merasa mempunyai kendaraan yang mumpuni untuk off road, ga usah jauh-jauh caro lokasi hingga luar kota, main saja ke arah bekasi melalui Kalimalang.. dijamin bukan tertantang, tapi malah nantangin siapa yg mau benerin jalan

Advertisements

Igh, Ibu … kan kasian anaknya

Minggu lalu, sewaktu akan mengisi bensin, aku mampir lebih dahulu ke atm yang berada
didalam lingkungan SPBU tersebut. didepanku kebetulan hanya ada dua orang, satu orang berada didalam ruangan atm, satu orang lagi antri persis didepanku.

Sambil menunggu, ada beberapa orang yang datang, seorang ibu dengan anaknya yang kira-kira berusia 8-9 tahun. dan bersamaan waktunya datang pula ibu-ibu lainnya.

Tidak lama berada dibelakangku, si anak meminta ibunya untuk mengantar ke toilet, karena sang anak mau pipis. si ibu malah menyuruh anaknya untuk pergi sendiri, ketika sianak menolak, si ibu berteriak memanggil suaminya yang sedang berada didalam mobil. Sang suami tidak bergeming, bahkan hanya melambaikan tangan seperti gerakan mengusir, tidak mau diganggu rupanya.

Orang yang datang untuk antri mulai bertambah, sianak kembali meminta ibunya untuk mengantar ke toilet, mungkin karena jengkel, si ibu sambil mencubit anaknya berkata, jalan sendiri sana, nanti kalau ibu antar kamu, antrian nya diserobot orang. Sang anak pun akhirnya jongkok sambil meringis menahan pipis.

Ternyata si ibu lebih mementingkan antrian ke atm daripada mengantar anaknya ke toilet
dan mungkin si ibu lebih rela anaknya meringis daripada antriannya diserobot.

Antara aku, teman-temanku dan PK(S)

Ketika zamannya masih kuliah dulu, aku bersama dengan sepuluh orang teman dalam satu kelas berteman lumayan erat, lebih tepatnya karena persamaan nasib seperjuangan, yaitu sama-sama harus bekerja untuk membayar uang kuliah.
Dari kumpul-kumpul itulah tercetus ide untuk membentuk usaha bersama yang tujuannya lebih untuk mengamankan status kuliah agar lancar.
Semua kegiatan kami lakukan mulai dari jualan buku, fotokopi jurnal hingga jualan kambing. Setelah waktu senggang biasanya kami berkumpul di Masjid untuk membahas apa yang telah dilakukan dan apa yang akan kami lakukan.

Saat itulah salah seorang temanku mengajak untuk mengikuti pengajian (saya menyebutnya demikian) dengan beberapa orang mentor.
Awalnya saya sempat ragu, karena pada waktu sma ada beberapa teman yang nyaris terjerat NII. (waktu itu akhirnya aku dan teman-teman SMA akhirnya sempat adu otot, kan lagi musim tawuran, jadi ya hayuk-hayuk aja kalau ribut)

Balik lagi ke masa kuliah, singkatnya, kita mendapat hal baru, ilmu baru dari pengajian itu. hingga pada saatnya pemilu, kita semua sepakat untuk turut dalam salah satu partai yang bernama Partai Keadilan.

Sebelum itu, sudah ada beberapa kakak kelas yang menjadi mentor, datanglah kami.. dan ketika datang, ya terus terang saja, kami seperti dipandang sebelah mata,
emosi? ya tentu saja… kami datang baik-baik, ternyata sambutannya tidak seperti yang kami harapkan. Tapi pada akhirnya kami sadar, kami yang salah.
Kami bercelana jeans bahkan ada yang robek-robek bagian dengkulnya, memakai kaos dan berambut gondrong (hal ini menjadi guyonan setiap kumpul tahunan)
Ya mana mau mereka respek, kalau kita mengharapkan orang lain respek dengan kita, tentu kita harus bisa mengatur diri sebelumnya.
Tapi terus terang saja, PK waktu itu terlihat sangat eksklusif sekali.

Akhirnya satu demi satu kawan-kawan merapat kedalam barisan yang berada didaerah tempat tinggal masing-masing.

Pada saat sebelum pemilu 1999 itu, pawai sepertinya menjadi suatu keharusan bagi semua partai, dan tujuan utamanya adalah Bundaran HI.
Ketika itu, salah satau partai yang pawai adalah PK, aku dan Boss aku melihat jalannya pawai dari Wisma Dharmala Sakti tempat aku part time, Boss ku bilang, Partai seperti ini yang akhirnya bisa jadi besar, tertib, rapi, dan santun.
tapi terus terang saja, saya takut untuk masuk Yu, karena mereka kelihatan eksklusif. ya ya, aku teringat pengalamanku dan teman-teman.
Boss ku merneruskan, jika mereka bisa konsisten dan bisa merangkul dengan cara yang lebih bagus, dan bisa memberikan pendidikan dan kesaaran politik , saya yakin mereka akan makin maju dan besar.

Hingga saat ini, Pk yang telah berubah nama menjadi PKS sudah lebih terbuka, tidak seperti dahulu, dan teman-teman kuliahku dulu tetap konsisten mengikuti kegiatan partai.
Dan hingga saat ini hanya aku seorang yang tetap menjadi simpatisan dan belum bisa melebur kedalam PKS, tapi kalau menjadi simpatisan partai lain… maaf-maaf saja pilihan saya hanya untuk menjadi simpatisan dari PKS.