Bcoz U Cant Handle d’ Truth

Seorang teman saya mengatakan saya gila karena telah mempertaruhkan karir (pekerjaan)
yang sudah saya jalani sejak lama. tapi bagi saya hal itu adalah suatu langkah ke arah depan.

Flash back, Saya bekerja sebagai tukang cari data dalam sebuah kesatuan, dimana kesatuan itu terdiri dari berbagai macam divisi. Saya berada didalam salah satu divisi tersebut.
Awalnya saya bergabung dalam divisi infanteri dibagian terjun langsung ke lapangan.
tapi setelah ada perubahan struktur harus berada dibalik meja (dapur)
Saya mengepalai sebuah dapur dengan ketua ya saya sendiri dong, sekretarisnya saya,
tukang belanjanya saya juga, dan anggotanya ya juga saya lah.
Sebagai prajurit yang baik saya langsung berdiri dan memberi hormat : siap pak, laksanakan.
2 bulan berlalu, saya merasa perlu assisten buat membantu, saya melapor kepada komandan batalyon jawabannya, iya saya tampung dan nanti akan saya sampaikan kepada Mayjen.
3 bulan, 4 bulan, 8 bulan ketika saya meminta kembali, jawabannya selalu seperti itu.
Dengan kondisi seperti itu tentu saja saya kalangkabut. tapi… show must go on kan?
Ternyata dalam mengelola dapur itu banyak juga komandan regu dan komandan batalyon
yang main bypass, mereka belanja sendiri memasak sendiri dan hasilnya diserahkan kepada para perwira menengah.
Segala teguran saya tidak diindahkan, karena mereka selalu bilang Danton sudah tahu.
ketika saya konfirmasi danton, jawabannya berbeda.

Akhirnya saya memberikan beberapa daftar belanja yang ada, dan pada saat akan meracik, biarlah mereka yang melakukannya, pada akhirnya para perwira komplainnya ke saya sebagai pembuat menu karena mereka tidak mengetahui hal yang sebenarnya.

Dan karena masalah database buat memasak yang selalu dibypass, serta tidak dilibatkan, saya tidak menpunyai database sayuran dan bumbu-bumbu yang benar..
jadi, semua kesalahan terletak di pundak saya. 😀
(dan itu pada akhir periode bakal diungkit-ungkit untuk menutupi masalah indisipliner :p :p)

Didalam dapur itu ada hikmahnya juga, banyak para prajurit dilapangan yang selalu datang kedapur saya untuk sekedar duduk dan bercerita bagaimana pertempuran dilapangan, dan itu saya anggap sebagai hiburan karena kadang ceritanya macam-macam.
Lama-kelamaan, para komandan regu juga suka datang masuk kedapur, dan sesekali
juga bercerita tentang hal-hal yang terjadi dengan dirinya serta anak buahnya.
Saya senang dengan hal tersebut, karena mengingatkan saat dulu bertempur.

Tapi, lama kelamaan cerita-cerita yang saya dengar membuat saya mengelus perut
(perut saya lebih enak di elus daripada mengelus dada nanti dibilang ga waras karena yang di elus dada tetangga)
Dan ternyata setelah saya telusuri, ada komandan-komandan regu yang melakukan tindakan indisipliner.
Ketika akan melaporkan kepada komandan batalyon (walau saya yakin tidak akan dianggap, toh minta assisten selama 8 bulan ga ada kabar beritanya)
ada seorang prajurit dari lapangan yang mencegah saya, dan saya diserahkan banyak petunjuk-petunjuk kalau komandan batalyon juga melakukan tindakan indispliner.
Pertentangan batin terjadi dalam diri saya, apakah saya harus melaporkan hal ini kepada Mayjen dan Letjen ataukah saya bungkam.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari saksi-saksi yang mengetahui hal tersebut, dan itu bukan hal yang mudah.
Pertama karena saya orang dapur, mereka enggan apa sih yang bisa dilakukan orang dapur buat bantu masalah tersebut,
Kedua mereka juga tidak mau, karena mereka khawatir karir mereka sebagai prajurit akan habis, dan jikapun berlanjut akan ada masalah dengan komandan regu atau danton.

Akhirnya setelah berkonsultasi dengan seorang mantan Jenderal, beliau cuma mengatakan hal yang saya tulis dijurnal sebelumnya.
Saya dekati para prajurit dan komandan regu, saya minta informasi dan kesedian
mereka untuk bersaksi, dari sekian puluhan orang hanya ada beberapa yang mau bersaksi, itupun akhirnya saya berkata saya akan mengatakan ini ke Mayjen dan Letjen dengan pertaruhan diri saya, karena kemungkinannya cuma tiga,
Saya dianggap mengada-ada dan membuat fitnah dan saya langsung dikeluarkan dari kesatuan secara tidak hormat.
kedua saya tetap berada dikesatuan dengan konsekuensi dikucilkan dan dibenci.
dan ketiga saya harus tahu diri untuk mundur dari kesatuan.

Dengan mengucapkan bismillah, saya bertemu dengan Mayjen dan Letjen, saya ceritakan semuanya.
Akhirnya disepakati kalau saya harus menghadirkan saksi-saksi, dan alhamdulillah ada beberapa orang saksi, itu pun ketika berbicara tidak tuntas dan secara terus terang, mereka rada takut, dan karena mereka tetap berharap ikut dalam kesatuan.
Saya kecewa, tapi saya meng-apresiasi keberanian mereka untuk berani berbicara didepan Mayjen dan Assistennya.

Ketika saya bertanya kepada assistennya, jawabannya seperti yang saya duga, hal ini sulit, karena harus dicari bukti-bukti.
*dan saya harus mampu menelaah kalimat itu.
(ketika saya bercerita kepada mantan jenderal, beliau bilang kamu udah pernah nonton Film tentang kesaksian prajurit melawan Jenderalnya? tahu kalimat apa yang pas buat mu? saya lupa… maklum sudah tua, kamu caritahu sendiri aja.
Tugasmu hanya mengatakan kebenaran, walau dipercaya atau tidak itu adalah resiko. Dan dalam kesatuan kamu harus mampu menterjemahkan bahasa-bahasa politis yang tidak tampak.

Pada saat sebelum apel diakhir minggu ini, sebelum dimulai saya masuk kedapur dan berbicara dengan mbak assisten saya yang manis
(direalisasi setelah 10 bulan) untuk memberikan arahan cara memasak sesuai dengan kebutuhan, saya bereskan panci-panci, alat memasak, yang sudah tidak berkarat saya buang, karena saya tidak ingin nanti para prajurit dan komandan regu lainnya tertular karat tersebut dan para perwira yang makan akan sakit perut, ternyata walau sudah
dibuang, banyak diambil lagi oleh para komandan regu (ah.. sudahlah.. yang penting saya sudah berusaha)

Lalu saya mengganti seragam kesatuan saya dengan kemeja yang masih rapi, saya ganti baret saya dengan topi yang biasa saya gunakan ketika saat jam bebas.
Ketika sirene untuk apel berbunyi, saya berada di barisan yang lain, saat bendera dinaikan, dan yang lain memberi hormat, saya hanya membuka topi saya dan mendekapnya didada. saya melihat bendera itu berkibar hanya setengah tiang,
tetapi saya bangga melihatnya, karena saya melakukan apa yang harus dilakukan.
Saya menghormati garis komando, tetapi saya lebih menghormati dan menghargai orang-orang yang tetap berada pada jalurnya.
Untuk urusan administrasi, saya bertemu dengan mbak kapten yang cantik, secara prosedural sang atasan mbak kapten juga tidak berkeberatan, karena saya dibilang sebagai orang yang keras (kepala) pendiriannya.
Bagi saya, keras atau tidaknya orang adalah bagaimana menyikapi hal-hal yang ada.
Dan informasi yang disampaikan oleh Letjen kepada Ibu Jenderal yang menurus masalah personil terpotong, tidak diceritakan semuanya, dan justru sayalah sebagai terdakwa dengan masalah database sayuran yang ga bener, serta saya tidak memberikan bukti-bukti, dan hanya masalah miss koordinasi dengan komandan batalyon.
Saya cuma terdiam mendengarnya…
*sebenarnya itu adalah masalah kemauan dari para Team kode etik, apakah mau mentindaklanjuti atau tidak.. toh saya sebagai prajurit sudah membuka jalan, atau saling melindungi sesama korps lebih penting daripada membuat malu?

Setelah 7 tahun 7 bulan 7 hari, saya harus melangkah keluar sekarang.
Seandainya ada perubahan kearah depannya, saya berharap kearah yang lebih baik, dan jikapun tidak saya percaya masih ada orang-orang baik yang tetap pada pendiriannya.

Seorang teman yang suka berolok-olok saat cangkru’an bilang, kamu ternyata masih goblok ya…
(saya dan teman-teman yang rada lama sering berolok-olok dengan idiom : Goblok Mangan sandal)
Terus terang saya memang goblok, tapi ketika saya disuruh mangan sandal, saya akan menolak
pun ketika saya mempunya kesempatan buat melempar sandal juga tidak akan saya lakukan,
Saya lebih memilih untuk mengambil sandal, tidak untuk dimakan atau dilemparkan tetapi saya pakai untuk berjalan keluar.

Kejujuran itu harus diungkapkan bcoz ……. You Cant’ Handle The Truth

*ini adalah sebuah kado yang saya berikan pada diri saya sendiri, dan seperti yang teman baik saya bilang di sini, sayapun tidak akan menyerahkan sayap saya,
saya lebih memilih membawa sayap saya untuk terbang.