Angpaw & Kamera, sebuah Ironi

hari minggu kearin jalan ke petak 9 karena ingin memotret barongsai, setelah dapat info secukupnya dari Ghaya saya dengan teman kesana. baru memasuki pasar, sudah tercium bau keringat dan bau badan (maaf) orang yang tidak mandi dan tentu saja saya juga turut kontribusi dalam hal menyumbang keringat ini setelah berjalan kaki dari halte olimo.
Perjalanan saya teruskan memasuki wihara, ternyata diluar halaman dipenuhi orang yang ingin mendapatkan angpaw, jumlahnya mungkin ratusan.
Terus terang saja hilang mood saya untuk mengambil foto, apalagi setelah saya tanya kalau Barongsai tidak ada karena tujuan utama saya memang ingin melihat gerakan kungfu dari para pemain barongsai.

Masuk kedalam wihara para pemegang kamera pohon (minjem istilah mbot) seperti mendapatkan privelege (eh gitu kan ejaannya?) mereka (termasuk saya) bisa dengan bebas keluar masuk.
Sedangkan saya lihat warga biasa yang ingin masuk tidak diperkenankan oleh penjaga keamanan, Biasa dalam hal ini pakaiannya biasa-biasa saja dan terkesan kotor serta dekil.
Saya sendiri merasa tidak ada bedanya dengan mereka, bersendal jepit dan memakai kaus oblong yang alhamdulillah ga bolong.

Pada saat saya akan memotret, saya seperti tersentak, orang sedang berdo’a dan seenaknya dalam jarak kurang dari 2 meter meng-close up orang tersebut, jika saya sedang shalat tentu saya juga kurang suka jika tiba-tiba ada kamera didepan muka saya,
misalkan saja pada saat saya shalat dan akan mengucapkan salam As… -tiba-tiba Blitz menimpa muka saya- bisabisa bukannya Assalamu’alaikum
yang saya ucapkan tapi malah bisa mengucapkan Astagfirullah.
tapi lain ceritanya kalau setelah shalat ada yang menyodorkan kamera dan diberikan secara gratis kepada saya.

Lantas saya pun urung untuk mengambil foto-foto orang yang sedang bersembahyang tersebut, benar-benar hilang mood.
diluar halaman melihat orang-orang yang antri mendapatkan angpaw, saya bertanya kepada teman saya, apa pendapatnya melihat hal tersebut dia bilang kemiskinan, sedangkan saya melihatnya sebagai sebuah ironi.

Tapi lumayanlah, saya masih bisa tersenyum saat mendengar seorang anak kecil bertanya kepada kakeknya di kawasan Pasar Petak 9
kurang lebih pertanyaannya seperti ini :
“kakek… kakek… shio aku apa” sianak bertanya sambil berlari dari dalam rumah menyeberang jalan mnuju kakeknya
“Shio May”
sianak kembali bertanya “kakek… kakek… shio aku apa”
“Shio May” kembali jawaban itu terdengar, saya ga terlalu mudeng, sambil berjalan saya coba mengingat kalau ga salah
Shio itu dilambangkan dengan binatang, apa ada Binatang bernama May.
Ketika saya bertanya dengan teman saya, dia tertawa.. yang jawab itu kakaknya, bukan kakeknya, please deh masa ada Shio itu Shiomay? (somay)
Ya ya ya… saya memang ga mudeng kalau teman saya langsung ngeh karena hobbynya emang makan πŸ˜€

ada sedikit hiburan dalam perjalanan pulang dan ketika ada insiden teman saya nyaris tidak bisa lewat celah antara dua mobil saya dengan yakin bisa lewat dengan cara menahan nafas, mengempeskan perut walah harus mengepel debu diantara dua mobil tersebut mungkin kalau teman saya malah merontokan cat diantara kedua mobil tersebut.. πŸ˜€ Piss coy…. :p
dan sedikitnya bisa mengembalikan mood saya tengah malam itu dengan foto-foto ditengah bundaran HI.


Advertisements

30 comments on “Angpaw & Kamera, sebuah Ironi

  1. Ambu ma bintang jg ga jd nonton barongsai di wihara sukasari..Coz byk yg nonton org yg lg pd taun baruan plus sembahyan :-(Whualah..mereka kan bkn makhluk asing,hingga jd tontonan ky gitu :-S

  2. Heheh orag kita emang masih byk yg krg etikanya ya Wib kalo mau moto..(ups maaf).aku sejak tinggal di sini, kalo mau buat foto di indo diusahakan izin dulu, atau minimal gk pake blittz lah, apalagi kalo moto yg berbau ritual.Jadi inget wkt itu si Pat nganterin seorang photografer Perancis yg mau moto org islam sholat dan dianterin ama Pat pada jumatan di KBRI dan si photografer itu memotolah org org KBRI yg sholat dari belakang belakang atau samping aja, itu pun gk pake blitz.. Aih kok jadi gejurnal di blognya Wib hiihi

  3. hohoho maap yah barongsaynya ngga ada.. yang ada malah di mall hihihihi.. di PIM kemaren ada :p cuma kan ngga seru kalau di mall heheheh.. kalau pengemis sih emang buanyak bangettttt…

  4. wib711 said: Ya ya ya… saya memang ga mudeng kalau teman saya langsung ngeh karena hobbynya emang makan πŸ˜€

    gleks… ternyata ada beginian juga*menarik nafas panjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s