Jadi anak kost

Dulu waktu di Jakarta pernah sempat tinggal di kost (karena gratis), tapi itupun sering ga tinggali, kalau kepepet aja baru di inapi. maklum, untuk jarak kantor-rumah cuma 30km an, masih enak ngelaju.

Sekarang, beneran tinggal di kost.. setelah mencari info sana-sini termasuk dari teman MPers -thanks kang Bondan- tapi temannya lu call ga angkat2 telepon :p,
Akhirnya dapat juga di wilayah tengah kota termasuk strategis, dekat mal, warnet, tempat makan n tempat nongkrong.


Hari I
Setelah sempat inap di Hotel, lalu lanjut inap di kost teman akhirnya dapat referensi dan dicarikan teman, siang baru bisa datang ke kost, lapor ke ibu kost, lalu lanjut kerja lagi, sekitar jam 10 malam baru datang ke kost.

Paginya, didepan kamar rada ramai ternyata para penghuni kost pada komplen dengan ibu kost, kenapa ada penghuni baru malam-malam dibiarkan buat masuk kost, apa ga khawatir kalau itu nanti bandar narkoba (hahaha.. ada tampang gitu saiyah pemakai narkoba ya? wong ngerokok aja seumur hidup cuma satu batang -itupun cuma 3 isap, abis itu batuk2- dalam rangka penasaran dan coba2) terus pekerjaannya apa… tau kost ini dari mana
lumayan seru tapi saya ga mau dengerin, langsung mandi dan bersiap pergi.

Setelah keluar kost, amazing… suara-suara yang komplen terhadap ibu kost langsung hilang, senyap… sambil senyum
dan permisi saya langsung pergi.
Saya tersenyum karena yang pada kumpul itu para wanita yang hanya memakai pakaian tidur seadanya…
(duh, ternyata teman saya mencari kost untuk saya yang campuran… tapi gpp lah… mo pindah tapi rasanya udah malas :p)

Hari II
Seperti biasa, saya balik ke kost rada malam, jam sekitar jam 11an, di kamar sebelah sedang ramai.. ternyata ada yang sakit dan dianjurkan oleh yang lain untuk bergerak, jangan hanya tiduran, karena nanti ga bakal lancar peredaran darahnya.

Saya sebenarnya ga mau nguping, tapi karena kamar saya beradu jendela, suara bisa masuk apalagi suara nya pada lumayan keras.
dan yang membuat saya tersenyum percakapan antara mereka :
Kamu ga mau mandi…. sini saya bukain baju kamu… itu celana dalam udah 3 hari ga kamu ganti (perhatian sekali temannya ya, sampai detil banget)
yang lain juga bilang, nanti kakak bilang lah ama ibu kost, biar bikin kost yang ada washafelnya, biar bisa berendam…
Terus terang saja saya bingung apakah memang ada washtafel yang bisa buat berendam?
setahu saya sih yang bisa berendam itu hanya jari-jari tangan .. entahlah kalau ada ukuran super jumbo 🙂

Advertisements

2005

Butuh 6 bulan untuk menunggu
Saat ini, waktu yang tepat untuk membuka kado darimu…..


Selamat ulang tahun…..
Bekasi, 200509

Jangan cepat cemburu

Kalau sudah bertemu dengan teman lama dan akrab, bercandanya biasanya sudah ga pakai pikir panjang lagi, sudah menjurus iseng yang keterlaluan.
Saya pernah diisengin oleh para teman akrab tersebut, pada saat saya menerima telepon, mereka menggoda dengan berdiri dari belakang saya dan bilang… “ayo dong sayang, buruan nanti keburu tutup loketnya”
saya bergeser, lalu diikuti dan bilang lagi “kamu telpon siapa sih, pacar kamu ya? jadi aku ini kamu anggap apa?”
sambil setengah berteriak gitu… asem tenan…. untung saja lawan bicara saya juga termasuk orang yang cepat tanggap, dan dijelaskan cuma tertawa sambil bilang.. “podo wae mas, kamu itu juga suka iseng… jadi ya wajar orang iseng sesekali diisengin”

Lain kali ketika bertemu dengan mereka, biasalah haha hihi, pada saat seorang teman saya sedang terima telp dari pacarnya, mulai kumat lah yang lain, membuat gaduh lah bahkan mulai iseng seperti yang biasa dilakukan.
Saya lalu bilang, jangan digangguin karena sepertinya sedang serius, yang lain melihat kode dari saya langsung diam.
Mereka tahu saya akan membalas teman saya tersebut.
Teman saya memutar duduknya, lalu dari belakangnya saya dengan rada kencang bilang…
“Sayaaang….. kalau terima telpon pakai bajunya dulu dong…” lalu teman-teman yang lain mulai menambahi… sambil mengetuk meja seperti mengetuk pintu bilang “woiiii… itu beha siapa ada diluar, ambil dong…bikin malu aja..”
Yang lain menimpali.. itu yang warnanya hitam ukurannya x punya siapa tuh di sofa…

Makin gawat sepertinya, lalu ga lama teman saya menutup telp nya sambil misuh-misuh….
“Elo pada keterlaluan becandanya… pacar gue ngambek, disangkanya beneran tau…dia langsung mau nyusul”
Kami yang mendengar langsung pada tertawa, n bilang ga percaya banget sih… ini kan di food court, siapa coba yang mau aneh-aneh…
Terus terang kalau kami bercanda memang rada keterlaluan….

Jadi, seandainya kalian menerima telpon atau menelpon, lalu ada suara-suara latar yang aneh
jangan langsung curiga, karena bisa saja itu adalah orang-orang iseng dibelakangnya.
Tapi kalau suasananya sunyi
senyap, lalu terdengar ada suara aneh, baru bisa curiga…. siapa tahu lawan bicara anda sedang menelpon dari toilet 🙂

bukan hanya pria

Sebagai orang yang berkantor dimana saja mulai dari pinggir jalan dibawah pohon rindang ditemani teh botol dingin, distasiun kereta, Warteg, Food Court sampai Cafe banyak cerita-cerita seru yang didapat.

Seperti waktu lagi ngantor disalah satu Cafe di Mal Ambassador (kebetulan tempatnya agak sempit dan jarak antar meja sangat dekat), saya kebetulan bersisian dengan seorang wanita dan pria yang berada dihadapannya.
Toh awalnya saya cuma duduk, pesan minum, cari colokan listrik untuk netbook, dan mulai bikin laporan.
Karena mata terlalu lelah saya break sebentar, dan tidak melakukan aktivitas apapun kecuali……….. melamun :)), otomatis telinga saya konsen dengan percakapan disekeliling.

Saya mendengarkan suara wanita di meja sebelah saya tersebut berkata dengan nada manja kepada
pria didepannya… ighhh…… ini gimana sih caranya add YM kamu, kok aku ga bisa-bisa -ingat ya.. itu nada manja… (yang membuat saya langsung teringat dengan keponakan saya kalau mau minta coklat kepada saya) -bukan nada dering-
Si Pria mengambil hp… eh salah mengambil BB dari tangan si wanita lalu di utak atik…. lalu setelah selesai diberikan pada wanita tersebut sambil bilang “Ini id aku baby satu yaaa”
Si wanita dengan nada masih manja protes.. kok “baby satu sih…. kayak perempuan aja” langsung dijawab oleh pria ya kan biar yang lain anggap kalau kamu nanti chatting dengan perempuan”
*sambil menatap monitor yang penuh dengan angka-angka, saya berpikiran jangan-jangan si lelaki menjaga privacy si perempuan agar ada yg tidak menyangka macam-macam*
Si wanita masih dengan nada manja iya… iyaaa.. kamu pinter yaaa. Si pria hanya tersenyum simpul *bangga donk… kan dapat pujian :))

Ga lama hp… upss BB si wanita berbunyi, lalu berbicaralah si wanita tersebut
“Abang, aku ga bisa pulang cepet, ada meeting. abang ga usah jemput, nanti
aku naik taksi aja… iya… iyaaa…. nanti bareng ama yang lain kok, dagh abang”

Si pria bertanya… “Suami kamu ya?”
Iya…. tau tuh tumben-tumbenan mau jemput sang wanita menjawab sambil cemberut
Si Pria lalu melanjutkan… “ya kalo gitu jalan sekarang aja, biar kamu ga kmalaman
nanti… udah pesen kan kamar yang biasa kan?”

*gubrak….. sampai disitu langsung tergambar dalam benak saya, si abang dengan setia menunggu istrinya pulang meeting, dan istrinya asyik meeting dengan pria lain di kamar yang biasa…. ahhh Duniaaaaaa*

Bolu Meranti

Ketika akan membeli tiket tujuan Medan di Travel langganan, saya bertanya pada mbak nya, jam keberangkatan dan tentu saja rate nya (maklum, sekarang jadi price sensitive)
Waktu keberangkatan dan nama pesawat sudah didapat serta info harga tiket.
Ketika saya menyetujui, mbak nya memanggil seorang temannya (yang saya ketahui akhirnya adalah kasir) dan mengetikan sesuatu di komputernya, lalu bertanya sambil berbisik.. kamu ngerti kan maksudnya? sambil memajukan (tepatnya sih memonyongkan) bibirnya menunjuk tulisan di komputer yang tentu saja tidak bisa saya lihat.
(Ternyata bibir pun bisa berfungsi sebagai alat tunjuk, majukan saja bibir anda.. bisa berubah fungsi seketika) teman yang ditanya meng-iya kan.
Saya merasa ada yang aneh… ada sesuatu yang janggal. tapi cuma bertanya-tanya dalam hati saja. (karena saya ga berani menyatakan perasaan saya terhadap mbaknya :p :p)

Lalu invoice sebesar Rp 477.000 diberikan pada saya untuk dibayar ke kasir, ketika sudah mengeluarkan uang dan mengulurkan uang tersebut ke loket kasir perasaan saya ga enak, lalu saya tarik kembali uangnya dan sempat dipertahankan oleh mbaknya dan saya bilang akan membayar dengan kartu kredit, dan biaya yang 3% akan saya bayar cash dan ga usah dimasukan dalam perhitungan invoice.

Si mbak nya kelihatan bingung, lalu membawa invoice ke mbak pertama yang melayani pembelian tiket saya, mereka berbisik-bisik.
lalu invoice dibawa kembali dan harganya sudah berubah…
Ajaib… sekarang harga tiketnya jadi Rp 427.000 belum ada dua menit langsung turun Rp 50.000,

Saya jadi berpikir apakah dalam waktu secepat itu harga tiket bisa turun, dan penurunan angkanya hanya ditulis dengan pulpen.
Tapi biarlah, saya ga mau duga yang jelek-jelek, yang penting saya bisa dapat harga tiket lebih murah.. lumayan selisih Rp 50.000 bisa beli bolu meranti. Eh meranti rasa apa ya kmarin? kok lali aku.