Tas Kresek dan Uang Logam

Waktu itu saya pernah melakukan test kecil di jurnal ini itupun tanpa sengaja.
Kemarin saya juga melakukan test nyaris serupa, Waktu itu pas hujan, karena
takut celana basah menyeret-nyeret air hujan, saya menggulung pipa celana.
saya ga ngeh, dan menggulungnya terlalu tinggi. Ketika berteduh di sebuah mall
saya diperhatikan oleh mbak-mbak penjaga nya.

Awalnya Ge er, tapi kok pas saya inget2, mbak nya melihat ke bawah dulu
tentu ini bukan untuk melihat apakah saya menepak tanah atau bukan.
Mungkin saja dianggapnya aneh, Celana digulung rada tinggi kalau dari permukaan kaki sekitar 10 cm, udah gitu Rambut awut-awutan lepek, ga mencukur kumis dan jenggot nyaris 2 bulan.
bukan itu saja, ternyata pihak security pun juga melihat seperti ada rasa-rasa curiga gitu.

Ini akhirnya memantapkan niat saya untuk melakukan test kecil lagi, saya merubah gulung
pipa celana ke arah dalam dengan tinggi yang sama dan mengeluarkan kemeja dari balik celana, membuka topi dan menyimpan kacamata dalam tas.
Lalu saya membeli Aqua dan meminta kantong kresek hitam yang rada besar, netbook beserta tasnya yang ga terlalu besar saya masukan ke dalam kresek.
Saya ingat, kalau kmana-mana suka mengumpulkan uang logam, seru aja rasanya.
uang logam itu saya kumpulkan dalam saku tas netbook bagian depan lalu mulai lah saya
berjalan-jalan keliling mal sambil nenteng kresek sambil menunggu film harry potter.

Ternyata, hal ajaib mulai terjadi.. kalau lewat depan mbak-mbak penjaga counter, saya berpura-pura melihat barang yang ada di display, pasti mereka akan melihat ke arah bawah dulu, kearah kaki.
Pihak security juga mengikuti sambil saling kontak dengan HT nya, saya pura-pura duduk, melihat dalam kresek lalu berjalan lagi.. begitu terus.
Sampai akhirnya ketika membeli cemilan, saya membayar dengan uang seribuan 2 lembar dan sisanya sebesar lima ribu dengan uang logam.

Masih terbayang wajah “enek” mbak yang jaga ketika saya mengeluarkan logam dari tas kresek lalu menghitung satu demi satu seolah takut kelebihan bayar.
Setelah duduk sambil menyantap cemilan, saya melihat security ga jauh berada dari tempat saya berada, sambil berpura-pura melihat kearah tempat lain.
Karena sudah ga tahan ingin menyudahi test itu, saya pakai kembali kacamata,
rambut saya rapikan, gulungan celana saya turunkan dan membuang tas kresek lalu buka netbook, sambil pura-pura telp dan bilang rada keras tentang progress kerjaan.
Baru deh pak security nya menyingkir, sambil saya beri senyum manis…

Ternyata oh ternyataaaa… penampilan pun bisa membuat orang curiga….
hari gini gitu lohhhhhh

Dugem bareng seatbelt

Waktu rehat 2 hari minggu kemarin, mau balik lagi ke Jakarta naik mBatavia Aer, tiketnya lagi gila-gilaan. katanya sih karena musim libur. Didalam pesawat kebetulan bersebelahan dengan dua orang wanitah yang berteman, sepanjang perjalanan ada saja yang diomongkan oleh kedua orang tersebut, sudah gitu suaranya lumayan keras
dan tentu saja saya terganggu.. mo negor ya ga mungkin lah, nanti malah saya yang kena pasal mengganggu kebebasan berbicara. Mencari-cari ipod didalam tas ternyata yang saya bawa hanya headset nya saja.
Mo tidur juga ga bisa, mo bikin catatan sebentar-sebentar diintip.Memang nasib saya harus mendengarkan perbincangan kedua orang berteman tersebut.

Perbincangannya sih mulai dari teman-teman mereka di Banda Aceh (dari kesimpulan yang saya ambil,
yang satu berasal dari banda aceh dan yang satunya dari Medan)
Saya ga begitu tertarik, karena lebih senang melihat awan-awan walau kuping tetap terbuka lebar :p
Hingga akhirnya ada perbincangan yang membuat saya terkejut, tentang hal Dugem, jadi mereka berdua memperbandingkan tentang tempat karaoke di Inul Medan dengan MS di Aceh yang juga sekaligus hotel terbaik.
(entahlah saya ga tau apa ada tempat yang bernama MS disana?)
Dan mereka berencana untuk berdugem-dugem setelah sampai Jakarta.

Akhirnya saya mengeluarkan buku jejak manusia pilihan, dilirik oleh yang berasal dari Banda Aceh dan bilang kepada temannya “igh bacanya buku kayak gitu, sok alim”, temannya ga enak hati cuma bilang “sstttt”
Saya cuma menarik nafas dan saya hembuskan (lewat mulut tentunya, kalau lewat lubang yang lain takutnya malah menimbulkan kehebohan)

Hingga akhirnya mBatavia sampai Jakarta, teman yang paling pinggir segera berjalan, karena ternyata menaruh tas nya bukan di kabin atasnya, tapi di kabin depan nya.
Temannya yang igh gitu (deh) mencoba membuka seatbelt, dan ternyata rada sulit, saya sambil menaruh buku melirik, ternyata seatbelt nya ditarik-tarik, dan tidak terlepas.. Paniklah dia lalu memanggil temannya, yang tentu saja tidak bisa bergerak karena sudah banyak orang yang antri.

Akhirnya dia melihat saya dan meminta tolong dengan pandangan mata (halah, gaya banget yak.. kayak bisa baca pikiran lewat mata ajah)

Iseng saya timbul, saya ambilkan cuma itu tuh petunjuk yang biasa ada, lalu saya tunjukan, dia cuma melihat, mencoba membuka tapi ga bisa juga…
matanya memerah dan akhirnya bilang “bang.. tolong bukain bang”

Ya akhirnya saya bantuin buka, juga sambil belagak rada-rada sangat-sangat gitu deh…
“maaf ya kak… kita bukan muhrim…tolong angkat tangannya sedikit” seolah-olah saya khawatir tangan saya bersentuhan dengan tangannya” (yo wes, sekalian aja saya berlagak seperti itu, karena dia sudah melabelkan saya seperti diatas)
Ternyata diam-diam ada ibu-ibu yang duduk diseberang memperhatikan dan bilang
“katanya anak gaul sering ke karaoke, buka seatbelt aja ga bisa” mungkin dia juga kesal dengan tingkat kebisingan yang ditumbulkan saat percakapan selama perjalanan.
(saya cuma mesem-mesem saja mendengarnya… akhirnya ada yang men-skak langsung)

Pelajaran yang bisa diambil : bersusah payah dahulu membuka seatbelt, berdugem-dugem kemudian :))

Mampir ngombe

Jika di surabaya identik dengan cangkruk’an, di Jogja pastilah orang mengenal angkringan. Kalau sedang menyasarkan diri ke Jogja, saya selalu menyempatkan diri mampir di Angkringan.

Tapi untuk dalam tahun ini selama 3 kali nyasar di jogja, saya selalu mampir di angkringan depan stasiun tugu, bukan angkringan yang le’ man yang terkenal itu yang pengunjung nya kebanyakan orang bermobil dan banyak yang yang lesehan di trotoar.
Tapi saya lebih sering ngangkring di sebelah nya. Angkringan sederhana yang ditunggui oleh seorang ibu, saya memanggilnya si mbok, mengikuti para langganan yang sudah memanggil demikian.
Langganannya kebanyakan adalah tukang becak dan supir delman yang mangkal didepan pintu masuk stasiun.

Sambil menunggu travel yang belum datang, saya makan malam disitu, tentunya setelah menitipkan barang di Travel.
Teman ngangkring saya saat itu adalah bapak supir delman yang memesan susu soklat, seorang pengamen dan seorang abang becak.
Si mbok karena sedang sibuk melayani yang lain akhirnya meminta tolong kepada si ibu yang mempunya rombong tepat disebelah angkringan membuatkan susu soklat (soklat=coklat)
Ternyata si mbak salah membuat, yang diambil adalah sachet susu putih dan langsung dibuat. Si bapak komplain, si mbok sempet bilang ama si mbak.. kok bisa salah, si mbak minta maaf karena salah dan akhirnya si mbok mengambil susu putih tersebut dan diminta oleh si bapak, lalu si mbok membuatkan susu soklat pesanan si bapak.

Setelah susu soklat jadi, dihadapan si bapak ada dua buah gelas besar yang satu berisi susu putih dan satunya susu soklat.
Si bapak minta satu buah gelas kosong kepada si mbok, lalu dia menuangkan separuh susu putih kedalam gelas
tersebut, gelas yang berisi setengah susu putih dituangkan susu soklat. jadi sekarang terdapat 3 gelas susu.
Gelas pertama yang berisi campuran susu putih dan susu soklat yang diminum si bapak
gelas kedua yang berisi setengah susu soklat ditaruh dimeja, begitu juga dengan gelas ketiga yang berisi setengah susu putih.

Lantas dia menawarkan saya untuk memilih susu yang aku kehendaki, karena suka mau mumun kalau minum susu putih, saya pilih susu soklatnya.
lantas sibapak menawarkan susu putih sisanya kepada abang becak yang sedang ngangkring disitu.

Ketika dibilang oleh si Mbak apakah lagi kebanyakan uang sampai bagi-bagi susu, si bapak bilang kalau dia mendapat rezeki berlebih dari blantik yg datang dari lampung…

Mana ada hal tersebut terjadi kalau makan di resto? 🙂
ya.. itulah salah satunya kenapa saya suka dengan kota Jogja.

Rasis

Hal ini bukan tentang Agama, tapi tentang hal ke-suku-an.
Jadi ingat permainan Suku-Batu-Gajah-Buta-Tani (adakah yang tahu darimana permainan ini berasal dan apakah ada hubungannya dengan masalah ke sukuan, kehewanan, pekerjaan dan kondisi fisik?)

Saya mengalami hal ini dua kali, pertama kali di Medan dan yang terakhir kemarin di Banda Aceh.
pada saat menunggu bis tujuan Medan di terminal, saya menunggu didepan agen bus yang ada tempat duduknya.
Ternyata saya menunggu, karena bus yang akan saya naiki itu belum masuk jadwal keberangkatan dan saya disarankan kearah tempat parkirnya saja.
Karena kalau lewat dalam terminal takut malah muter, saya akhirnya menyusuri jalan mencari bus.
ketika berjalan itulah saya ditanya oleh sekumpulan abang betor dan ojek,
“bang mau kemana bang?”

“Medan..” saya jawab sambil terus berjalan. Rupanya mereka tidak mendengar jawaban saya, dan bertanya makin keras
“Bang, ditanya diam saja.. mau kmana memang?” nada nya makin keras.
Saya sudah malas menjawab, lalu mengeluarkan karcis dan saya acungkan ke mereka,
dan ada yang bilang “wah.. wong jowo…” lalu meledak lah tawa mereka, lantas ada yang menambahi “dasar wong jowo… takut sepertinya”, lalu bersahut-sahutan lah campuran bahasa indonesia dengan bahasa daerah.

Saya tidak mau ambil pusing, tapi ketika sampai bis, saya berpikir lagi, ketika mereka bertanya saya menjawab, Saat mereka bertanya lagi dan saya malas menawab, ya saya diam saja lah. Ternyata itu menjadi olok-olok mereka..
Apakah sangat buruk penilaian orang-orang disana tentang orang Jawa?
(entah itu orang yang berasal dari pulau jawa dan bahkan orang yang berasal dari suku jawa)

Ketika saya telp kawan akrab saya yang berasal dari Aceh dan tinggal di Jakarta, dan menceritakan tentang hal itu, dia bilang
“yang salah elo man… tampang elo Jawa banget sih…. udah gitu kalo ngomong pelan kayak orang keraton,..” rupanya dia meledek saya.
lantas dia bilang, “ya kebanyakan pada ga suka dengan orang jawa karena masalah sejarah man, mulai dari Pesawat Seulawah hingga darurat militer kmarin yang membuat seperti itu, Jadi ya hingga sekarang begitulah,…
anggapan paling umum adalah orang jawa adalah pembohong man”
saya ceploskan lagi ke teman saya itu,
“baiklah.. kalau gue pembohong.. elo penipu man!, karena elo menipu diri sendiri

untuk hidup di Jawa, nipu orang tua jawa terus elo kawinin anaknya…”
tapi teman saya tetap ngeles , “paling enggak gwe ga nipu anaknya, karena gwe kawinin man”
Lantas tergelak lah kami berdua….

Ehmm….. jadi gitu sejarahnya… ya sudah lah, mo bilang apapun,
saya tetap bangga sebagai orang (yang berasal dari pulau) Jawa, dan mudah-mudahan saya tidak bersikap rasis dengan orang dari suku lainnya 🙂

Eh, telp saya bergetar… ternyata telp dari teman saya si Jawa Buluk… saya pamit dulu yaaa 😀



Trip To Sabang


Trip to Sabang

Dari tahun 2006 pengen banget ke Nol Kilometer….. apalagi ketika teman-teman kalajengking road to sumatera…
Akhirnya kemarin, tercapai juga ke Sabang walau ga naik kalajengking.
Bagi yang senang wisata pantai, sabang adalah salah satu tempat yang cocok dikunjungi.
Selain bisa buat berenang, snorkling n cuma leyeh-leyeh nunggu sunset sambil
minum kopi aceh plus pisang goreng (boong deng… pisang gorengnya ga ada) pisang
gorengnya diganti pia kacang coklat yang ga kalah yummy dibanding bakpia pathuk.

Kalau berangkat dari Jakarta, cari aja tiket termurah tujuan Medan, kemarin saya sih waktu ke medan dapat harga ga terlalu mahal, apalagi kalau rajin ngikutin promo dari Aer Asiah… 😀
Enaknya berangkat pagi dari Jakarta, ke kota dulu ke Mesjid Raya, istana Maimoon, wisata kuliner dolo cari rujak didaerah Jodoh, atau cari mie aceh kepiting didaerah Padang Bulan lalu malamnya dari medan naik bis ke Banda Aceh, dari banda nyeberang bisa naik kapal cepat atau feri biasa.

Kalau naik kapal cepat waktu tempuh sekitar 45 menit, kalau KMP sekitar 2 jam.
Kebetulan kemarin ketika berangkat ke Sabang saya naik KMP yag kelas bisnis karena kehabisan kelas ekonomi.
Lumayan bagus kapalnya karena KMP hasil dari BRR, disitu karena kondisi ga fit, saya memilih tidur dibanding berada diluar.

Sedangkan ketika kembali dari Sabang ke Banda, saya naik kapal cepat, ambil yang kelas ekonomi saja.. karena toh waktunya juga cepat.
Untuk KMP dan Kapal Cepat ada jadwal tertentu, dari Pelabuhan Ulle Lhuee kalau pagi jam 08.00, kalau sore jam 16.00.
Kalau KMP tidak setiap hari melakukan pelayaran, cuma hari Kamis-Minggu, tapi untuk kapal cepat setiap hari melakukan pelayaran.

Setelah sampai di sabang, langsung menuju gapang yaitu tempat penginapan yang
ratenya mulai dari Rp.100.000 s/d Rp 600.000
Untuk menuju gapang, memerlukan waktu sekitar 40menit dengan mobil carteran.
Carteran nya sangat unik, misalkan kita 3 orang mencarter sampai gapang, nah ditengah perjalanan kalau ada penumpang lain maka mereka juga diangkut. Sejenis Taksi di Batam lah, tapi armadanya Kijang dan L300.
Tapi jika dicarter secara full, tentu harganya lebih mahal karena mereka tidak mengangkut penumpang lain.

Kebetulan saya pergi sore hari, jadi ketika sampai gapang, cari penginapan langsung tidur, besok paginya jalan-jalan ke Pantai, karena cuma bawa satu pakaian ganti, saya memutuskan tidak jadi snorkling. (hanya Yudimuslim & bundaelly yang berenang dan snorkling)

Setelah itu, barulah memutari Sabang dengan mobil carteran yang sudah janji terlebih dahulu, mulai dari Tugu Nol Kilometer bisa langsung melihat lautan lepas dan siamang yang masih suka muncul dijalan,


Sabang… Laut Lepas Nol Km

Iboih yang merupakan satu kelurahan dan lautnya yang sangat bersih dan bening,

dari sini bisa juga ke pulau Rabiah untuk sekedar mengitari atau mandi.

Iboih

Lanjut ke Paradiso, ini kayak pantai losari di makassar, tapi ada tempat untuk duduk, n yang jualan makanan tapi hanya sore, selain itu ya bawa makanan n minuman sendiri ajah kalau ga mau kelaparan.
Perjalanan lanjut ke Sumur Tiga, pemandangannya okeh…. tempatnya sepiiiii…. ada tempat yang lumayan beken disini yaitu Freddy (penginapan & tempat makan)



Rute terakhir adalah ke Anoi Itam, dimana masih ada benteng jepang yang tersisa dan baru dipugar


Oh iya, kalau untuk tawar menawar dengan carteran di usahakan ada yang bisa berbahasa aceh, agar komunikasi lancar n ga merasa tertipu :))
Tapi kalau untuk penginapan di Gapang, dibagian depan ada bungalow-bungalow yang sudah memasang tarif jadi tidak perlu tawar menawar Untuk 2 kamar, sewanya Rp 350.000, tapi kalau berjalan kearah lebih belakang kearah pantai, akan ditemui penginapan seharga Rp 100.000, kamar mandi didalam, satu ruangan ukuran 4X4m
dan teras 1X4m lumayan buat bengong-bengong sambil dengerin suara ombak.


Anoi Itam

Perkiraan Budget kalau dari Jakarta sbb :
1. Tiket Pesawat Jakarta-Medan (tergantung mo naik apa atau ikutan promo atau enggak) kemarin dapat Rp 420.000
2. Taksi Bandara-Kota Rp 65.000 (ber-3/ber-4)
3. Angkot dari kota ke pool bis 2 kali @ Rp 3.000= Rp 6.000
alternatif lain naik betor Rp 25.000
4. Bis Medan-Banda Aceh (pilih pelangi atau kurnia) Rp 110.000 – Rp 130.000
5. Terminal – ke pelabuhan Ulle lhuee (betor) Rp 25.000 (ber 3)
6. Tiket KMP bisnis Rp 27.000
7. Pelabuhan Sabang-Gapang per orang Rp 50.000 (kalau ber-3 atau ber 4 bisa Rp 40.000/orang)
8. Sewa mobil muter ke 5 titik di sabang/hari p 250.000 (plus ngajak makan supir n kenek)
9. Penginapan mumer buat ber-3 atau ber-4 Rp 120.000
10. Sarapan…. ngupi-ngupi Rp Tergantung selera
11. Tiket Kapal cepat kelas Ekonomi Rp 60.000
12. Tiket Banda Aceh – Medan Rp 110.000

Jika mempunyai waktu yang lama (dan ada dana), perjalanan pulang bisa melalui darat, dari medan ke Pematang Siantar, Parapat, Riau, PadangPalembang, Lampung….
Ada yang tertarik melakukan backpacking dari Sabang sampai Lampung? yukkkkk……