Atjeh, mimpi setelah 10 Tahun

Waktu masih sekolah dasar, guru agama pernah bercerita kalau di Aceh disebut sebagai serambi mekkah, karena pada saat waktunya shalat, semuanya langsung menghentikan aktifitasnya dan melaksanakan panggilan illahi tersebut.
dan dari meunasah-meunasah terdengar suara orang mengaji.
Saat SMP, waktu masih jamannya ikutan kelompok-kelompok istilah jaman dulunya nge-geng, pasti selalu ada geng yang ga bener.
Kebetulan saya ikutan geng bola dan basket, tapi ada juga teman yang ikutan geng ga bener dan selalu nge”gele”, maklum SMP kami berada di kompleks Tentara yang ga bakal diganggu dan setelah tanya sumbernya ya berasal dari Aceh, entah info itu benar atau tidak.
Pun setelah SMA, banyak teman-teman saya yang masih suka nge-gele, ujung-ujungnya mereka selalu tertawa ga jelas.

Di SMA ini saya mempunyai seorang teman Rohis bernama Teuku Indra, tapi kami sering memanggilnya Aceh karena orangtuanya berasal dari Siglie dan Pidie, dia sering bercerita bahwa Aceh itu sebelum keluarga mereka merantau ke Jakarta kaedaannya seperti yang diceritakan oleh guru agama saya. Tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan, akhirnya mereka memutuskan merantau ke Jakarta.
Itu Aceh yang saya dengar.

Hingga suatu saat ketika saya mulai bekerja, saya bertemu dengan seseorang gadis manis, berayahkan Aceh dan beribukan dari Solo, darinya saya makin mengenal tentang kebudayaan Aceh dan jenis masakan Aceh, bahkan saya diberi sebuah Rencong sebagai kenangan terakhir darinya, dan satu pesannya agar saya bisa berkunjung kesana, hal itu membuat saya penasaran ingin mengunjungi Aceh.

Tapi, setiap ada pekerjaan didaerah Sumatera, saya hanya mentok sampai Medan, ketika ada pekerjaan di Aceh, teman saya yang mengambilnya Keinginan untuk ke aceh makin mengebu setelah ada teman yang berhasil lolos dari program Unicef untuk menangani masalah anak pasca Tsunami.
Sayangnya saya tidak lolos, dan hanya bisa berharap suatu saat kesana.
Pun ketika seorang sahabat saya dikantor lama juga pergi ke Aceh, tepatnya ke Tapak Tuan, dan menceritakan bagaimana indahnya pantai disana, saya makin berkeinginan untuk pergi.
Sungguh Mati aku Penasaran lah pokoknya.

Di Multiply, saya juga mempunyai seorang adik yaitu Tengku Mia yang tinggal di Aceh, darinya pula saya makin banyak mengetahui tentang kebudayaan Aceh dan saya berjanji pada adik saya tersebut suatu saat saya akan menginjakan kaki di Tanah Rencong.

Kesempatan tersebut tiba, pada saat saya berada di Medan untuk mengerjakan tugas, di waktu lowong saya nekat melarikan diri ke Aceh.
Naik bus nonstop jurusan Medan-Aceh yang ditempuh selama sepuluh jam.
Jam tujuh pagi saya sampai di Banda Aceh, disana saya dijemput oleh Adik saya dari Multiply yaitu Yudi, sebelum diajak untuk kerumahnya, saya berkeinginan untuk menganjal perut karena selama perjalanan, bus tidak berhenti dan saya juga belum makan sama sekali.
Diajaklah saya ke sebuah kedai kopi, amazing masih jam 7 pagi tapi kedai kopi tersebut sudah ramai, pertanyaan retoris yang terlintas dibenak saya apakah kalau saat waktu shalat meunasah dan masjid juga seramai kedai kopi ini.
Kopi Aceh memang khas, rasanya berbeda dengan kopi lampung & singaraja yang pekat, begitu juga dengan kue-kue khas aceh yang sangat manisterlalu manis untuk orang semanis saya ini :p

Ditempat Yudi inilah saya dimasakan asempade oleh ibunya, wuahh… rasanya benar-benar menggigit lidah… dan menurut teman-teman saya yang sudah pernah ke Aceh, jika kita bertamu, paling tidak kita akan dijamu dengan masakan khas Aceh, dan tidak boleh ditolak.
Sayang saya hanya 8 jam di Banda Aceh, lalu menyeberang ke Sabang untuk menuju mimpi saya yang lain yaitu ke Nol kilometer.
Setelah menginap satu malam, saya kembali ke Banda Aceh pukul 4 sore, tanpa membuang waktu sambil menunggu Bus jurusan Medan jam 10 malam Kami berempat segera ke Lhok nga mengejar sunset, lalu meneruskan ke Lampuuk untuk shalat Maghrib disana, dan melihat bukti kebesaran Allah dengan tetap kokohnya Masjid Lampuuk walau diterjang badai Tsunami.
Tapi masih ada satu pertanyaan besar saya hingga sekarang mengapa Aceh yang terkena Tsunami, kalau jawaban secara ilmiah tentu sudah banyak didapat.
mungkin hanya Allah yang mengerti mengapa hal tersebut terjadi.

Terakhir kami ke Mesjid Raya, sayang waktu sudah malam jadi saya tidak masuk tapi hanya berada diluar untuk mengambil foto, setelah itu kami tersadar harus mengantar adik bungsu kerumah, karena terkena jam malam.
Tapi sebelumnya kami makan gulai itik, sayang saya tidak jadi menambah porsi karena dalam bis pasti nonstop lagi, kalau mules ditengah jalan bisa gawat.

Ditengah perjalanan mengantar adik kami tersebut, ada mobil patroli bertuliskan WH, yang kebetulan anggotanya sedang menegur dua orangyang saya duga bukan pasangan suami istr
i- untuk segera meninggalkan tempat makan yang berada dipinggir jalan.

Saya sempat berkelakar, bagaimana jika kita berempat yang hanya kakak beradik di Multiply terkena operasi WH.
Mana mungkin mereka percaya, abang yang pertama berasal dari Jawa, kakak kedua bermarga Lubis berasal dari Tanah Batak, hanya dua adik terakhir yang berasal dari Aceh, itupun alamatnya berbeda.
dan munculah skenario-skenario ajaib yang bermunculan, bilang saja sudah merantau lah, kakak sepupulah, saudara dari saudara.
Tapi satu skanrio yang saya suka adalah kami berempat bersaudara tapi lain bapak dan ibu.
Untung saja kejadian terkena operasi WH tidak terjadi, jadi kami tidak perlu mengeluarkan skenario2 aneh tadi.

14 jam saya berada di Banda Aceh, mimpi saya, janji saya dengan seorang adik dari Multiply, dan pesan dari seorang gadis manis telah terlaksana.
Tapi bagi saya masih kurang karena saya ingin mengenal lebih jauh tentang tanah rencong tersebut, mungkin lain kali jika ada umur, kesempatan dan rezeki saya akan explore Aceh lebih mendalam, ada yang mau menemani?

*Lomba Menulis Tentang Aceh*

Advertisements

Yaaaa… Saya sangat Marah

Dimanapun, kita pasti pernah melihat atau merasakan yang namanya kekerasan.
Contoh kecil aja, kalau naik bis dari Grogol dengan tujuan manapun, paling tidak akan
menemui pengamen/peminta uang secara “keras” tapi di perhalus dengan sedikit ancaman.
“Bapak, ibu penumpang yang terhormat, saya baru keluar dari penjara dan butuh makan,
seribu – duaribu uang bapak ibu tentu tidak ada artinya”
Dan dengan kekerasan yang tersamarkan tadi, jadilah minimal 500perak keluar dari kantong penumpang dengan rasa “ikhlas”.

Seperti disini, kekerasan dengan ancaman atau hantam langsung kerap terjadi
(walau menurut sumber-sumber yang saya temui sudah berkurang jauh apalagi dengan adanya team pemburu preman)
Begitu juga dengan yang berhubungan dengan pekerjaan, saya paling tidak suka bermain dengan keras, jika ada masalah lebih enak diselesaikan dengan cara beradab dan bukan dengan cara barbar.

Hal itu terus terang saja masih bisa saya lakukan di kota-kota Pulau Jawa,

tapi di kota ini……. saya menyerah,…. Ketika adu argumen dan lawan bicara merasa terpojok, mereka biasanya hanya diam, dan kedongkolannya dibawa didalam hati, tapi selanjutnya akan ada “pengerahan masa” yang sudah diatur sedemikian rupa untuk membalas argumen yang terpojok tentu saja kalau aktornya datang berlagak “Ogeb”
tapi kalau ga datang memang benar-benar merupakan pengecut.

Itu satu hal yang saya hadapi, hal lain adalah ketika saya dituntut atas kewajiban yang saya harus lakukan, mereka pasti tanpa henti akan terus menerus meminta mulai dari cara “halus” dan “ga halus” karena ga diulek lebih dulu.
Tapi ketika kita menuntut hak kita, setelah kewajiban kita laksanakan, pasti akan sedemikian rupa diulur-ulur atau ditangguhkan hingga kita bosan..
diharapkan lupa oleh mereka lalu tidak menagih lagi.

Itu kalau saya menuntut dengan cara baik-baik malah hasilnya akan “dipermainkan”
akhirnya saya melakukan dengan cara yang terus terang saja kurang berkenan dengan hati saya,
saya ikuti gaya bermain mereka, setelah sebelumnya saya bertindak persuasif, tarik ulur,
beri batas waktu… tanpa saya perlu marah-marah karena hal itu membuang-buang energi.

Lalu setelah limit waktu sudah tercapai, tanyakan lagi bagaimana hasilnya tentu tanpa perlu marah
ketika mulai ada gelagat ga mungkin bisa diselesaikan dengan pendekatan yang sangat lebih persuasif lagi dan seperti diinjak-injak harga diri saya, akhirnya beneran meledak…ya.. saya marah…
mau tidak mau saya turut bermain “keras” karena ini sudah dibatas kewajaran.
Sebenarnya simpel saja, saya hanya ingin kebenarannya dan ga perlu berjanji-janji yang gak perlu.

*akhirnya saya menyerah dan harus melakukan perbuatan ga sesuai hati nurani untuk menghantam hal-hal yang ga benar

Sangat Transparan

Ketika cari tiket ke Jakarta 2 minggu lalu untuk mengantar 2 anggota team yang pulang,
orang yang pada mau ke Jakarta pada lucu-lucunya.
Harga tiket yang ga kira-kira, alasannya karena libur. cari ke beberapa travel juga gitu.
Akhirnya dapat juga dengan harga termurah Rp 1,550,000,- untuk dua orang
Antar mereka ke Bandara iseng-iseng muter ke tempat jual tiket tanya-tanya harga.
Airlines S harga termurah Rp 775.000, Airlines L harga termurah Rp 750.000
Ada harga paling murah untuk hari itu, Rp 500.000 tapi jam 23.00 😀

Karena cuma iseng tanya, akhirnya balik badan gabung ke tempat anggota team sedang menunggu.
Belum lama jalan, dipanggil ama orang. Bang, mau ke Jakarta ya, cari harga berapa bang?
Iseng saya bilang “cuma ada uang gopek nih…” lantas orang itu ngajak ke tempat makan yang didekat penjualan tiket. dan minta harganya dinaikan jadi tujuh ratus, saya bilang ga bisa karena nanti harus bayar tax lagi, harus naik angkutan lagi setelah di Jakarta.

Saya langsung pergi… ga lama diikutin lagi, lalu dibilang, tambah seratuslimpul lagi bang udah termasuk tax.. itu udah harga paling murah.
Ya… memang sih, ga ada harga segitu.. lumayan juga bedanya.
Terus saya tanya, naik apa… jam berapa?
dibilang mbak Tavia, 10.00, saya lihat jam di hp udah jam 09.15. ga lama dapat telp dari boss kok kebetulan bilang kalau mau pulang buat laporan, pulang saja. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

Setelah saya mengiyakan, ktp saya diminta, 10 menit kemudian tiket sudah dipegangnya,
dan saya langsung diajak masuk. Didepan pemeriksaan tiket, orang tersebut cuma bilang
3 orang, yang dua lagi dibelakang.
Berpura-pura galak, yang periksa tiket menahan dengan tangan lalu bilang..
nanti dulu… ga enak diliat orang (sambil bisik-bisik)

Lalu akhirnya masuk, saya diminta menunggu karena akan di check in kan.
setelah itu masuk ke ruang tunggu, dan melakukakn pembayaran disana. Setelah itu, orang tersebut memberikan kartu nama yang saya lihat adalah salah satu organisasi kepemudaan disana..
Saya lihat didalam tas nya ada beberapa buah tiket kosong dari beberapa arlines yang ada.
Gilaaaa…. sungguh saya pertamakali mengalami hal seperti itu. Begitu transparannya proses seperti itu disana.

*jangan pernah nyoba hal tersebut yaa..- karena berarti turut menyuburkan praktek percaloan- kecuali kepepet n budget terbatas kayak saya :p :p