Yaaaa… Saya sangat Marah

Dimanapun, kita pasti pernah melihat atau merasakan yang namanya kekerasan.
Contoh kecil aja, kalau naik bis dari Grogol dengan tujuan manapun, paling tidak akan
menemui pengamen/peminta uang secara “keras” tapi di perhalus dengan sedikit ancaman.
“Bapak, ibu penumpang yang terhormat, saya baru keluar dari penjara dan butuh makan,
seribu – duaribu uang bapak ibu tentu tidak ada artinya”
Dan dengan kekerasan yang tersamarkan tadi, jadilah minimal 500perak keluar dari kantong penumpang dengan rasa “ikhlas”.

Seperti disini, kekerasan dengan ancaman atau hantam langsung kerap terjadi
(walau menurut sumber-sumber yang saya temui sudah berkurang jauh apalagi dengan adanya team pemburu preman)
Begitu juga dengan yang berhubungan dengan pekerjaan, saya paling tidak suka bermain dengan keras, jika ada masalah lebih enak diselesaikan dengan cara beradab dan bukan dengan cara barbar.

Hal itu terus terang saja masih bisa saya lakukan di kota-kota Pulau Jawa,

tapi di kota ini……. saya menyerah,…. Ketika adu argumen dan lawan bicara merasa terpojok, mereka biasanya hanya diam, dan kedongkolannya dibawa didalam hati, tapi selanjutnya akan ada “pengerahan masa” yang sudah diatur sedemikian rupa untuk membalas argumen yang terpojok tentu saja kalau aktornya datang berlagak “Ogeb”
tapi kalau ga datang memang benar-benar merupakan pengecut.

Itu satu hal yang saya hadapi, hal lain adalah ketika saya dituntut atas kewajiban yang saya harus lakukan, mereka pasti tanpa henti akan terus menerus meminta mulai dari cara “halus” dan “ga halus” karena ga diulek lebih dulu.
Tapi ketika kita menuntut hak kita, setelah kewajiban kita laksanakan, pasti akan sedemikian rupa diulur-ulur atau ditangguhkan hingga kita bosan..
diharapkan lupa oleh mereka lalu tidak menagih lagi.

Itu kalau saya menuntut dengan cara baik-baik malah hasilnya akan “dipermainkan”
akhirnya saya melakukan dengan cara yang terus terang saja kurang berkenan dengan hati saya,
saya ikuti gaya bermain mereka, setelah sebelumnya saya bertindak persuasif, tarik ulur,
beri batas waktu… tanpa saya perlu marah-marah karena hal itu membuang-buang energi.

Lalu setelah limit waktu sudah tercapai, tanyakan lagi bagaimana hasilnya tentu tanpa perlu marah
ketika mulai ada gelagat ga mungkin bisa diselesaikan dengan pendekatan yang sangat lebih persuasif lagi dan seperti diinjak-injak harga diri saya, akhirnya beneran meledak…ya.. saya marah…
mau tidak mau saya turut bermain “keras” karena ini sudah dibatas kewajaran.
Sebenarnya simpel saja, saya hanya ingin kebenarannya dan ga perlu berjanji-janji yang gak perlu.

*akhirnya saya menyerah dan harus melakukan perbuatan ga sesuai hati nurani untuk menghantam hal-hal yang ga benar

Advertisements

17 comments on “Yaaaa… Saya sangat Marah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s