Nikmat

Bulan Ramadhan yang telah lewat, saya menyempatkan diri ke Ramadhan Fair disimpang SM Raja, depan Mesjid Raya Al Mashun.
Ada beberpa hal yang saya lihat dan menjadi catatan bagi saya.
Ramadhan Fair yang awalnya hanya untuk tempat berbuka puasa, dengan pengisi stand secara resmi yang tentu saja terdaftar.
Tapi pada prakteknya banyak juga pedagang yang tidak terdaftar turut membuka stand disana.
Surut langkah saya ketika melihat begitu banyak orang mulai mengantri makanan, dan ada pula yang berebut tempat.
Akhirnya saya hanya memotret dari atas jembatan penyeberangan, ketika waktu hampir mendekati Azan Maghrib, saya membeli sebotol aqua dan mengobrol dengan bapak penjual peci dan peralatan shalat.
Dia bertanya, “hanya beli minum saja dik? tidak ikut mencari makanan?
Saya tersenyum dan berkata “saya mau shalat dulu saja pak, makan bisa belakangan”


Langsung disambar oleh bapak tersebut, “Semoga mereka mengerti hakikat berbuka puasa sebenarnya, mereka rela antri membeli makanan tapi tidak rela antri mengambil wudhu
(Masjid Al Mashun pada saat berbuka puasa seperti keadaan pada shalat jumat, memang kondisinya mengantri untuk mengambil wudhu)
“Dan mereka lebih rela untuk meninggalkan Shalat daripada meninggalkan makanan”

Saya berusaha menetralisir “mungkin mereka setelah makan baru pergi shalat pak, karena mungkin saja melihat untuk wudhu pun harus mengantri”

Tetapi dijawab, “jika sekedar antrian berwudhu, itu butuh berapa lama dibanding antrian membeli makanan? jika shalat maghrib dahulu itu butuh berapa lama dibandingkan menghabiskan makanan? saya mengerti maksud adik bahwa memang diharuskan menyegerakan berbuka, tapi berbuka pun tidak harus dengan memakan nasi (makanan berat maksudnya)
Meminum teh manis dan memakan 3 buah kurma pun itu juga sudah menyegerakan berbuka, dan setelah itu bisa langsung shalat”


Sambil berjalan ke arah masjid bapak bersebut “seandainya saja banyak yang menyadari bahwa semua itu adalah nikmat dari Allah, tentu selayaknya setelah berbuka mereka menyegerakan berterimakasih kepada Sang Pemberi Nikmat Tersebut”

Saya termangu mendengar gumaman bapak tersebut…. ya benar sekali apa yang dikatakan oleh bapak tersebut, terkadang kita terlupa dengan Sang Pemberi Nikmat…..
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Advertisements

5 comments on “Nikmat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s