Arti ayah bagi pria

Kalau anak perempuan dekat dengan ayahnya itu wajar, tapi jarang anak lelaki yang dekat
dengan ayahnya. Biasanya suka berseteru, atau paling enggak cuma berbasa-basi itu yang saya tahu.

Minggu kemarin saya berkunjung ke rumah salah seorang kepala Kanwil salah satu BUMN Medan, obrolan ga jauh dari dunia riset, karena kebetulan bapak ini sedang mengambil S2 dan minta saya untuk obrol2 tentang pengmabilan data serta pengolahannya.
Hingga tanpa sadar saya nyeplos… rumah ini model lama dan besar juga, nyaman.. adem untuk tinggal disini.

Si bapak tersenyum dan bercerita kalau dia berenam saudara, dua laki-laki dan 4 wanita.
dan ketika disebutkan nama saudaranya saya merasa begitu familiar, ternyata saudara laki-lakinya adalah salah seorang anggota dewan yang pantas saja kalau saya sering dengar, dan saudara wanita nya juga mempunya usaha yang lumayan sukses di Jakarta dan Batam.

Lalu cerita berlanjut tentang ayahnya yang bisa membuat mereka begitu, ayah mereka sendiri hanyalah seorang tukang kayu, jadi membangun rumah sedikit demi sedikit, direncanakan semuanya itu dilakukan sendiri.
Ayahnya juga mengajari mengaji kepada mereka semua, kalau ada yang salah membaca tanpa segan-segan dipukul dengan rotan, dan diajarkan pula untuk berbagi dengan para tetangga.
Kebetulan saat saya datang, baru saja pengajian selesai, dan ketika saya tanya dijawab bahwa pengajian dengan warga sekitar itu dimulai sejak tahun tujupuluhan hingga sekarang.

Sampai disini si bapak saya lihat mulai berlinang, dia bilang ingat almarhum ayahnya, sebelum mulai brebes mili sayapun mohon izin untuk kebelakang.

Sepulangnya, saya jadi teringat bapak saya, kadang kalau ga sreg saya biasa langsung berterus terang tapi ternyata hal itu bisa membuat bapak saya terluka tanpa saya sadari.
Ah, tiba-tiba saya ingin pulang bertemu dan sungkem dengan bapak dan ibu, bukan hanya melalui telp atau sms saja.

Selamat sore temanz, selamat pulang kerja… saya yakin anda adalah orang-orang yang mencintai keluarga terutama ibu dan ayah anda

Saling Cinta?

Saya terus terang heran , beberapa kali bertemu dengan orang bisa langsung jadi tempat buang sampah, mungkin karena pembawaan saya seperti tempat sampah kali, jadi orang langsung sreg buat numpahin unek-uneknya.

Seperti seminggu lewat ini, saya bertemu dengan adik teman saya, awalnya ditawarkan kartu kredit tapi saya tolak, tapi setelah itu bertemu kembali dia merasa akrab dan langsung nyerocos segala macam mulai dari pekerjaannya, anaknya hingga suaminya.
Jadi dia dilarang bekerja oleh suaminya, dan ditugaskan untuk mengurus rumah tangga saja –bukan rumah tetangga ya, kalau rumah tetangga ikutan diurus bisa jadi perkara nantinya- mengurus anaknya saja, karena pekerjaan suaminya di laut (off shore).

Makanya saya bilang ngapain cape-cape kerja jadi marketing kartu kredit kalau suaminya

bisa mencukupi, tapi dia bilang bosan ga betah cuma dirumah aja, memang sih saya lihat adik teman saya itu tipe yang aktif dan ga bisa diam, jadi apapun dilakukan.
Saya bilang kan udah punya anak, ngurus anak aja kan juga kan bisa menyalurkan energi yang berlebih, tapi dia sanggah lagi kalau dia juga telah menyediakan waktu yang cukup untuk anaknya, dan pekerjaan sebagai marketing kartu kredit waktunya fleksibel, sehingga anaknya ga bakal ditinggalkan kalau sedang butuh, dan sisanya ya tentu saja diserahkan ke mbak asisten.

Tanpa saya minta, cerita berlanjut hingga bagaimana dia bertemu dengan suaminya yang orang Semarang,
adat pernikahan yang menggunakan pakaian adat Semarang dan Minang hingga kelahiran anaknya yang terlilit usus, saya pikir akan berhenti, ternyata cerita masih berlanjut bahwa sejak awal dia menikah hingga sekarang telah mempunya anak berusia dua tahun dia sama sekali tidak mencintai suaminya.

Saya mendelik kaget dan bertanya : lha, kalo ga cinta kenapa bisa nikah.. ada hasilnya pula.
Dia bilang kalau suaminya sangat mencintai dirinya, jadi dia bersedia menikah karena yakin suaminya akan mampu membimbingnya dan memenuhi kebutuhannya baik materil maupun moril.
saya tanya lagi.. itu anaknya bagaimana? itu kan buah cinta kalian berdua?
lagi-lagi dia bilang kalau itu hanya efek samping… gubrak.
saya bilang kasihan si abang, dia cinta mati ama elo tapi elo nya jangankan cinta setengah mati, rasa cinta aja juga ga ada…
Dia mengakui merasa bersalah karena hingga saat ini tidak bisa mencintai suaminya tersebut, tapi dia mengakui memang lebih memilih menikah dengan orang yang mencintai dirinya daripada menikah menikah dengan orang yang dia cintai tapi orang tersebut tidak mencintai dirinya, kalau mau yang pas sih sama-sama saling cinta.

Entahlah saya jadi bingung sekalinya dengar curhatan topiknya sampai ke rumah tangga..

Selamat bekerja temanz, saya yakin anda dengan pasangan anda saling mencintai, tapi kalau anda kurang yakin, bisa ditanyakan langsung lho pada pasangan anda jangan tanya sama saya :p

Cinta Dalam Sebungkus Mie Instan

Baca Totto Chan yang menjadi duta kemanusiaan, bisa melihat bagaimana keadaan yang terjadi diluar sana, tentang kelaparan yang menimpa anak-anak.
Sebenarnya pun di Indonesia juga ga kalah banyak, ga usah yang bener-bener kelihatan ama mata, kadang ada orang yang didekat kita bisa mengalami hal yang sama dan kita ga tahu sama sekali.

Saya pernah mengalami hal ini dua kali.
Ketika di Jakarta, saya janji hendak bertemu dengan salah seorang teman saya untuk masalah pekerjaaan, tapi pada saat hari kita hendak bertemu, teman saya itu tidak muncul.
Saya telp tidak diangkat, sms tidak dibalas, akhirnya saya menuju ke kontrakannya.
Sampai sana dia sedang bermain dengan anaknya, saya awalnya kesal tapi saya pikir istrinya sedang sibuk hingga dia menjaga anaknya, dan akhirnya saya menunggu, teman saya kelihatan bingung, tapi ga mau berkata apapun, cuma minta maaf karena saya sampai datang kerumahnya untuk mengambil kuesioner.
Tiba-tiba istrinya muncul, tangan kanan nya membawa semangkuk indomie, dan tangan kirinya membawa sepiring nasi, rada canggung ketika melihat saya.
Teman saya bilang mereka hendak makan dahulu, saya pun mengerti dan menunggu diluar, dekat motor, dari situ saya mencuri-curi lihat, mereka bertiga makan dengan satu bungkus indomie dan satu piring.
Trenyuh? saya tidak bisa berkata apa-apa lagi,hanya mampu melihat dengan gemetar.
Ketika selesai dan dia menghampiri saya untuk menyerahkan kuesioner dia juga tidak berkata apapun.
Akhirnya saya yang bertanya, dan dijawab bahwa itu adalah persediaan yang terakhir,
jadi selama seminggu mereka makan sehari dua kali dengan pola seperti itu.

Di Medan ini saya juga menemui kejadian hampir sama, jadi saya janjian dengan teman saya mengenai sewa motor yang tempat kami gunakan, dia yang menghubungkan kami dengan pemilik motor.
Saya sms, jawabannya singkat, nantilah mas awak kabari.
Hingga malam tidak ada kabar, akhirnya saya sms ada apa sebenarnya dan dia meminta saya untuk datang kerumahnya karena dia tidak bisa keluar.
Sampai dirumahnya dia hanya meminta saya untuk membicarakan masalah perpanjangan motor langsung ke orangnya, dia seperti menyembunyikan sesuatu.
Setelah saya desak barulah dia cerita, kalau hari itu mereka kehabisan gas,
Indomie yang hendak direbus pun tidak jadi.
Uang sepeser pun mereka sudah tidak punya.
Mau pinjam, hutangnya masih ada di warung jadi ga mungkin.
Anting-anting istrinya pun sudah dijual untuk menutupi kebutuhannya.
Saat itu saja mereka sudah masak nasi jadi mereka makan nasi hanya dengan indomie yang dihancurkan.
Entahlah… saya sendiri berpikir saya ini ternyata kurang peduli dengan teman-teman dekat yang saya kenal… kok mendadak jadi pusing begini.

* Selamat makan malam temanz, bersyukurlah bagi kalian yang bisa makan lebih dari dua kali sehari, apalagi dengan lauk dengan kategori lengkap…..