Memelihara Kedzhaliman

Bagi yang bekerja berada dibagian pengadaan barang atau memegang keuangan, godaannya sangat besar.
kalau ga hati-hati silap sekali bisa menjadi khilaf berkelanjutan.
Awalnya pinjam dulu ah, nanti diganti.. lama-lama bisa bablas sampai pusing tujuh keliling.

Nah, saya minggu lalu kebetulan bertemu dengan boss dari teman saya di Jakarta yang kebetulan sebagai supervisor dari market riset (yang dulunya adalah persh kompetitor ditempat saya bekerja) tapi sekarang malah bisa berteman :p
ngobrolnya juga ga jauh-jauh dari dunia market research, khususnya riset lapangan.
si Boss ini kebetulan mau mengecek bagaimana keadaan lapangan khususnya di kota Medan, karena banyak sekali diketemukan hal-hal ga bagus, kebetulan sebelum ke Medan, dia sudah mengobrak abrik team di kota-kota lain dan berhasil, sehingga concern nya untuk menangani Medan.

Di Medan dia sendiri geleng-geleng kepala kadang-kadang ngangguk ngangguk tapi bukan triping tapi karena mengantuk 😀
Dia menyadari bahwa kalau di Medan itu SUMUT-nya itu sangat terasa (Semua Urusan Menggunakan Uang Tunai) tapi yang bikin dia pusing, karena dengan hal ini uang dari Jakarta yang diberikan kepada Supervisor daerah untuk diberikan kepada team lapangan jumlahnya bisa tidak sama, itu satu hal.
Hal lainnya uang yang sudah diberikan kepada Supervisor daerah malah belum diberikan kepada anggota team nya.
kalau orang Medan sini bilang di olah dulu. Kalau mengolah bubuk kopi dan gula manjadi secangkir kopi saya mengerti, atau kalau mengolah indomie dengan telur plus cabe rawit itu saya lebih dari mengerti :p
tapi kalau mengolah uang yang sudah menjadi hak orang lain itu yang saya ga habis pikir, keringatnya udah kering, berkeringat lagi sampe kering lagi bahkan belum diberikan juga hak-haknya, Memang kalau di dunia market riset, pembayaran dilakukan jika semua data sudah masuk dan di QC, tapi itupun biasanya paling lama satu bulan setelah semua laporan diselesaikan.

Boss tersebut mengilustrasikan seandainya saya diminta dia untuk melakukan pekerjaan riset, misalnya 25 orang saja, ketika pekerjaan sudah selesai walau ada masalah tapi sudah kena punishment, lantas uangnya sudah diberikan oleh pemberi pekerjaan tapi ternyata uangnya ga dibayar oleh pemegang uang dari perusahaan hingga hitungan tahun, bagaimana reaksi saya?

Saya bilang “bila itu hitungan ekonomis, maka panjenengan beruntung karena bisa dihitung berapa hasil dari perputaran uang tersebut, bahkan bisa invasi bisnis lain, tapi jika disangkutkan dengan masalah kejahatan, panjenengan termasuk jahat karena banyak orang yang mengharap hasil keringatnya dibayar tapi karena belum dibayar, akhirnya terdzhalimi. Jika dari 25 orang itu masing-masing menanggung 4 kepala misalnya ada anak istri serta orangtuanya, sudah ada 100 kepala yang terdzalimi,dan seandainya ada yang berdo’a serta di jabah do’anya, fyuh… alangkah ngerinnya.
Tapi itu jika Panjenengan beragama dan percaya bahwa Allah akan mengabulkan do’a, jika Panjenengan ga percaya ya gpp. tapi kenapa tidak dipecat saja aja orang-orang yang melakukan hal seperti itu?”

Dengan mata tajam, si Boss melihat saya dan bilang “bagaimana seandainya pencuri itu adalah sanak dan famili saya sendiri?”
Saya hanya mampu menarik nafas, sambil beranjak pergi saya bilang
” pencuri dalam keluarga adalah hal lain, tapi kesabaran serta keluh kesah orang-orang yang terdzalimi itu pasti akan didengar Allah, ndak masalah mau didengar atau tidak oleh Sanak Famili Panjenengan”

Dan semalam pada saat sebelum taraweh, kebetulan sekali ceramah yang dibawakan adalah tentang hal ini, dan dibilang oleh ustad nya sia-sia saja puasanya, jika masih tetap menzalimi orang…

Maaf kan atas semua khilaf bahkan kedzaliman yang saya telah perbuat, moga bisa menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas dan lebih bermakna.


Oh iya, saya berterimakasih yang sebesar-besarnya untuk orang yang menitip salam dan mendo’akan saya agar mendapat kedamaian dan ketenangan, semoga Allah mendengar do’a tersebut, karena pada saatnya nanti kita semua pasti akan menghadap Nya… Amin.

Advertisements

7 comments on “Memelihara Kedzhaliman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s