Belajar dari Kidil

Nama benarnya Fadil, anak teman saya yang berusia 9 tahun, kelas 3 SD tapi saya lebih senang memanggilnya Kidil, mengikuti panggilan teman-teman sebayanya.
Wajar juga kalau dipanggil Kidil, karena anaknya ga mau diam, ada aja yang dikerjakan.
Kalau saya bermain kerumahnya, kadang isengnya muncul ada aja gangguan dari dia, entah itu mencabut kabel listrik secara diam-diam yang membuat saya kelabakan karena laptop tiba-tiba lowbat, yang paling jahil saat saya dikunci didalam kamar mandi, untung saja ada teman dia yang membukakan pintu setelah saya bilang akan mengadukan kepada papa nya tentang keisengannya itu.

Selama bulan puasa ini, Kidil juga berpuasa, dan untungnya kadar kejahilannya berkurang, jadi saya kalau kerumahnya ga diganggu-ganggu.
Yang saya perhatikan Kidil ini selama bulan puasa tetap diberikan uang jajan oleh mama nya, tapi kadang kalau saya berikan ga pernah dia mau terima

Tapi, dua hari lalu saat saya kerumahnya, dia mendekati saya dan meminta uang jajan dengan alasan belum diberikan oleh mamanya karena terlupa.

Saya tanya untuk apa uang jajannya, kan berpuasa dibelikan mainanpun tidak, petasan juga tidak dengan gaya khas nya dia bilang “udahlah kalau om ga mau ngasih jangan banyak tanya, entar adek minta ama mama aja”
Saya sampai tersenyum mendengar gayanya yang sok tua itu.

Saat Mama nya pulang , dia langsung mengajak mamanya duduk dan minta untuk membuat es lengkong (Cincau), membuat ayam goreng dan dimasakan nasi uduk untuk buka puasa

lalu dia menyerahkan uang pecahan ribuan dan setelah dihitung terdapat sekitar empat puluh lima ribu, yang dikumpulkan dari uang jajannya selama bulan puasa ini.

Teman saya itu tadinya menolak untuk mengambil uang tersebut dan menyarankan untuk ditabung saja, tapi si kidil ini tetap memaksa.
Akhirnya Papa nya yang meminta mamanya untuk mengambil uang tersebut, setengah jam sebelum waktu berbuka si Kidil menghilang, dan saat mendekati maghrib baru datang bersama dengan dua orang temannya, lagi-lagi dengan gaya khasnya dia bilang “Ini om kenalin teman adek, David ama Bagas, adek minta tambahin uang jajan kemarin untuk buka bersama”
Satu poin saya dapat, ternyata Kidil yang degil ingin mentraktir teman-temanya berbuka dengan uang jajannya, tapi yang lebih membuat saya terkejut setelah mama nya memberitahu kalau Bagas dan David teman sekelas Kidil adalah anak yatim yang keadaanya kurang mampu, jadi dia ingin membahagiakan kedua temannya dengan cara tersebut.
Bahkan setiap pelajaran olahraga, sehari sebelumnya Kidil tidak jajan, karena nanti uangnya akan dibuat membeli es untuk mereka bertiga setelah selesai berolahraga.

Ah, jadi malu saya dibuatnya oleh anak kelas 3 SD itu….. kelu rasanya untuk menelan ayam goreng yang berada dihadapan saya.

Selamat menjalankan ibadah dibulan Ramadhan… Saya yakin waktu kecil hingga sekarang anda-anda juga seperti Kidil, tidak seperti saya yang degil 🙂

Advertisements

9 comments on “Belajar dari Kidil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s