[FF] Sama Ajah

Aku mau cerita, boleh kan? itu pintamu kepadaku melalui telpon siang tadi
Boleh… emang ada apa kah kok kayaknya ragu? Jawabku menanggapi permintaannya
Ehmm…. tadi aku baca sms di hape abi, dia sms-an ama mantannya
Emang sih di hape nya ga ada namanya, tapi pas aku tanya ama abi dia bilang teman kerja, pas banget mantannya itu telpon, dan aku dengar, baru abi ngaku kalo itu mantannya.
“Hemm, terus kamu gimana setelah dengar pengakuan suami kamu?
“Aku kesal, marah kenapa abi sampai bohong itu teman kerjanya, mendingan kan jujur bilang kalau itu mantannya, abis itu aku udah ga mau ngomong, biarin aja, abi sampe takut aku ngambek terus ngadu ke mamanya, dia bilang ga ada apa-apa antara dia ama mantannya bahkan akhirnya ngasih tau semua message di inbox FBnya
“Terus…?” hanya itu yang kukatakan sebagai pendengar setia

“Ya intinya aku kesal dan marah abi udah bohongin aku… tapi sekarang aku lega udah cerita ama kamu… kok kebanyakan diam sih ga mau komen?” cerosos mu langsung

“Aduh, aku kan pendengar setia, kan tadi bilangnya mau cerita ya aku dengarkan, dan kayaknya aku ga bakal mau komen deh..” jawabku sambil tertawa kecil
“Kok kamu gitu sih…. Jahat banget ga peduli ama aku” suaramu terdengar sedih

“Sayang, bukan aku ga peduli, tapi kalo dipikir-pikir abi ama mantannya saling kontak ga ada bedanya dengan aku dan kamu bukan?

Tidak terdengar jawaban… hening… lalu terdengar suaramu kembali ceria
“Iya yaaa….. kok aku ga berpikiran gitu, ya udah nanti malam aku telpon lagi yaaaa… mizz u

Ga Logika

Semalam lalu bulan puasa (bahasa medan ini artinya kemaren saat bulan puasa) saya bermain ke rumah kawan, pas banget lagi nyetel tipi acara infotainment, saat itu ada artis-artis yang membahas tentang fenomena langit membelah, komentarnya macam-macam lah, penasaran juga, saya cuma pikir pasti ada penjelasan logis nya, kebetulan semalam (kemarin) ke warnet nemu blog ini, dan dijelaskan bagaimana hal ini bisa terjadi.

Nah, semalam raya (kemarin pas lebaran) saat di samosir, saya memotret perahu yang melintas di danau toba menuju Tuk Tuk di samosir, saya ga begitu perhatikan, sampai saat inimona reply di album foto ini.
Ternyata jika diperhatikan gambar awannya seperti kepala yang hendak menelan Perahu, saya coba gelapkan dan makin terlihat gambar kepala tersebut.
Saya berpikir, jika mau iseng bisa dibuat jadi berita ga benar, Bisa aja kayak gini “Sebuah kapal pengangkut tenggelam di danau toba setelah sebelumnya muncul gambar kepala diatas langit”
dan dibumbui macam-macam lagi biar makin sedap, saat menggelapkan foto ini, teman saya melihat dan meng-copy, saya berikan tentu saja setelah saya resize.

Dua hari lalu saya mendapat telp dari teman saya, katanya dia menunjukan foto ini kepada temannya yang “pinter” dan dibilang kalau sebentar lagi akan ada Festival Danau Toba, dan akan terjadi hal yang seram memakan korban jiwa.
Saya cuma cengar-cengir dengarnya, sambil garuk-garuk kepala cari kutu, kalau semua orang berpikiran gitu orang-orang yang bermain di desain grafis tentunya bakal bisa merubah dan meramalkan serta menentukan wajah dunia untuk masa mendatang 😀

Diluar itu saya sependapat, bahwa ini adalah kejadian yang unik dan menarik dari alam, karena dari dulu saya memang suka memotret langit beserta awan tentunya dari 2005 hingga saling tukar foto tentang awan dan langit ini dengan neng Irma (Idria02) yang sekarang entah dimana 🙂

Selamat beristirahat teman… jangan lupa baca do’a biar ga mimpi tentang awan yang aneh 😀


Alone But Lonely.. Episode Hari Raya di Samosir

Bermalam hari raya iedul fitri diiringi suara takbir itu sudah biasa, takbir dengan menggunakan pengeras suara itu juga sudah biasa.
Shalat ied di masjid dengan ratusan jamaah hingga membludak keluar masjid atau ditanah lapang juga sudah biasa, Tapi jika takbir, shalat iedul fitri dan khutbah tanpa pengeras suara adalah hal lain.
Ini saya alami ketika Shalat Iedul Fitri kemarin di Pulau Samosir, tepatnya di Tuk Tuk yang masuk dalam kecamatan Simanindo, kabupaten Samosir.

Awalnya ketika memutuskan untuk berhari raya disini dengan seorang teman, saya terus terang sedikit was-was, apakah nanti ada masjid yang mengadakan Shalat Iedul Fitri karena saya berpikiran jika jumlah jamaah sedikit, maka ada kemungkinan jamaah akan pergi ke kecamatan Pangururan masih dalam wilayah Pulau Samosir, atau bahkan bisa saja menyeberang ke Parapat.
Tapi ternyata dugaan saya itu meleset, di Masjid Al Ikhlas (nama yang tertulis pada atas Pintu Masjid) yang berada didalam lingkungan mess Pemda mengadakan pelaksanaan tersebut

Masjid Al Ikhlas letaknya tepat di sudut mess, untuk menuju kesana harus melewati teras rumah orang yang sempit, bisa terbayang jika hujan dan becek maka teras tersebut akan kotor, prihatin? tentu saja tapi bukan dengan teras yang kotor karena itu bisa dibersihan, prihatinnya dengan jamaah yang menjadi sungkan karena harus menginjak alas kakinya diteras rumah orang.

Masjid Al Ikhlas

Setelah melihat lokasi Masjid, yang saat itu dalam keadaan terkunci, saya ditunjukan rumah makan muslim untuk berbuka dihari terakhir bulan Ramadhan, disitulah saya mendapat informasi dari Pak P. Lubis -pemilik rumah makan islam- tentang kegiatan Shalat Ied esok hari yang akan dimulai tepat pukul delapan pagi.

Pak R. Tarigan Sedang membayar Zakat untuk keluarganya diserahkan ke Pak P. Lubis

Nyaris saja telat, karena kami berjalan kaki dari penginapan untung saja ada seorang pemuda yang mengendarai sepeda motor bersedia memberikan tumpangan hingga ke Mesjid. Thanks Lek.
Jamaah shalat Iedul Fitri di Tuk Tuk ada sekitar 80 orang termasuk anak-anak, Imam dan pemberi Khutbah adalah Ustad Muis yang ternyata setelah berkenalan juga berasal dari Jepara.
Jamaah sejumlah itu lumayan banyak karena mendapat tambahan jamaah dari Medan sekitar 4 Mobil yaitu rombongan keluarga R. Tarigan yang memang sengaja berlebaran di Samosir sekaligus berlibur karena memang sudah tidak mempunyai orang tua lagi.





Setelah selesai Shalat Ied.. langsung bubar

Episode shalat ied sudah terlaksana walau tanpa keluarga dan hanya bisa meminta maaf melalui saluran telekomunikasi, dan saya berpikir episode selanjutnya yang biasa saya lakukan dengan keluarga setelah shalat Ied yaitu makan ketupat bersama akan terlewati.

Tapi rupanya Allah berkehendak lain, saya dan teman saya diajak untuk menikmati Lontong Batak dirumah Bapak M. Siregar Ketua Perkumpulan Perantau Muslim Kecamatan Simanindo (PPMKS) yang ternyata menjadi tempat berkumpul para Muslim di Kecamatan tersebut setelah shalat ied selesai.

Terus terang saya masih penasaran mencari soto batak seperti yang ada di serial Para Pencari Tuhan, karena sampai Samosir pun yang ada tetap Soto Medan 🙂

Selamat Hari Raya Iedul Fitri temanz, Mohon Maaf atas semua salah dan khilaf yang telah saya lakukan.

Yang Penting Niatnya…

Tahun lalu saat saya di Jakarta, buka puasa bareng dengan teman-teman lama.
Seperti biasa, saya suka yang mepet-mepet. Maksudnya bukan mepet ama cewek cakep kan ga boleh nanti batal puasanya jika terlalu lama mepet :p tapi mepet waktunya.
Maklum ga mau terlalu cepat datangnya, daripada ngobrol ga jelas mendingan datang belakangan *halah*

Sampai ditujuan, ada salah seorang teman kami yang kami daulat sebagai ustad sedang mengisi tausyiah, ga pakai lama hape saya berbunyi, saya akhirnya bergeser, ndak enak kalu ngomong bisik-bisik Selesai terima telp, saya kembali ke tempat semula yang berbarengan dengan adzan maghrib, dan teman kami itu mengingatkan agar semuanya berdo’a untuk buka puasa dulu.
“baiklah teman-teman karena sudah adzan, kita berdo’a dahulu Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillaahi ta ‘aala”
Saya terkejut dan melihat bagai dicucuk hidung hampir semua teman kami mengikuti do’a tersebut.

Lalu setelah meneguk minuman, dan wajah dipasang seolah-olah ga ngerti saya bilang “setahu saya dari jaman dulu do’a berbuka puasa yang umum ituallahumma laka sumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohiminkok tadi lain ya, mudah-mudahan saya yang salah dengar ya”

Setelah itu teman-teman saya saling berpandangan termasuk sang ustad dan meledaklah tawa mereka bersama tanpa saya tentunya.
Barulah teman kami saling berkomentar
“iya, tadi perasaan ada yang salah tapi ga tau apaan”
“tadi sebenernya mau negur, tapi ga enak ama ustadnya”
“kalau gwe ga ikutan, tapi baca aja dalam hati”
masing-masing cari selamat 😀

Saya lihat teman kami sang ustad terlihat pucat, lalu dia berbisik kepada saya

“wah, ane lupa tadi.. maklum bentar lagi lebaran puyeng, anak-anak dirumah rewel minta beli baju lebaran, kok ente ga ngingetin?”


“maaf tad, tadi kan ane lagi abis terima telp pas balik udah pada paduan suara.. gpp lah tad, itu manusiawi kalo orang mikirin anak-anaknya, tapi jangan sering-sering ah, kalau tiap ada acara buka bersama kan bisa berabe”


sang ustad cuma cengar-cengir mendengar jawaban saya.


Udah makin dekat hari raya nih, tapi saya yakin bagi teman-teman yang mengerjakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan ramadhan tetap konsisten pikirannya tidak bercabang-cabang untuk memikirkan membeli baju baru atau menghitung berapa jenis kue yang sudah dibuat.

Sinabung dalam Catatan

Senin lalu, kebetulan saya diajak oleh teman dari Tribun Medan untuk ke Sinabung,
tentu saja tawaran itu tidak saya tolak, setelah Isya kami berangkat.
Sebelum berangkat, beberapa teman menyarankan saya untuk memakai jaket rangkap, kaos kaki bawa 2 untuk ganti serta sarung.
Dengan pede nya saya bilang, cukup satu-satu aja, toh perjalanan cuma seharian.

Perjalanan dari Kota Medan lancar-lancar saja, setelah lewat Pancur Batu, barulah mulai sepi kendaraan bertemu dengan kendaraan lain hanya sesekali.
Tapi memang cuaca yang tidak bisa di prediksi, sampai daerah Panatapan (Puncaknya Medan) Hujan turun, kami berteduh di tempat tukang jagung bakar yang sudah tidak terpakai lagi sambi menahan lapar.
Ketika reda dan melanjutkan perjalanan, cuma beda 100meter, ternyata ada tempat yang berjualan, tapi tidak terlihat karena posisinya tepat setelah tikungan.

Perjalanan lanjut, sungguh saya kasihan dengan Supra Fit ber plat BH ini, membawa kami bertiga, saya, teman saya dan perlengkapan kameranya.
Sampai Brastagi, kami ga makan still gaya mau makan didaerah Kabanjahe dekat lokasi,
yang ternyata sampai sana susah sekali mencari tempat makan.
Untung saja di Kabanjahe kami dibuatkan peta secara detil oleh salah seorang pemuda dari salah satu desa di wilayah kaki Sinabung, Petanya sangat lengkap, mulai dari jumlah simpang, bangunan sebagai pertanda yaitu Gereja dan Mesjid beserta ciri-cirinya bahkan jumlah turunan dan tanjakannya.

Dari Simpang Loh Klawar, perjalanan dilanjutkan dan mulai terasa aroma kesunyian *halah*
kami hanya sekali berjumpa dengan pengendara motor, setelah itu cuma kami bertiga serta sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding sepanjang perjalanan.



Sampai desa Naman, kami bertemu dengan pos Brimob, biasalah ditanya prosedur dari mana, mau kemana.
ketika dijawab mau ke Bekera yaitu desa terakhir, kami disarankan untuk menginap dan pagi-pagi saha berangkatnya karena percuma di Bekera ga ada tempat menginap kecuali masjid.
Tawaran itu kami terima dan ternyata ga salah, karena disitu kami dibuatkan kopi (dari perbekalan mereka) serta dibawakan nasi bungkus buat pengganjal perut. Bahkan ketika akan tidur diberikan pula selimut yang lumayan bisa menghangatkan badan.

Ini Foto bareng PHH dari Brimob, saiyah ngiler liat AK 2000 dan Hyosungnya

Sebelum subuh, meluncurlah ke Bekera, dan ternyata seperti memasuki kota mati, setelah Shalat subuh di Mesjid yang menjadi pos bagi para Fotografer Media, barulah menuju kaki gunung untuk berburu foto.
Debu putih tebal masih tersisa di halaman rumah penduduk, untunglah bau belerang tidak menyengat jadi tidak perlu menggunakan masker.


Sinabung dari kaki gunung di desa Bekera



Setelah sempat nebeng mobilnya Kang Boim n Binsar dari AP, kami lanjut ke Kabanjahe, melihat para pengungsi.
Dari bincang-bincang dengan mereka, kalau untuk makanan mereka tidak ada masalah kaena stok lebih dari cukup, yang mereka butuhkan ternyata bagaimana kabar keadaan Sinabung, kejelasannya, mereka sudah ingin pulang, ya seenak-enaknya di pengungsian lebih enak dirumah sendiri kan.


dua ibu ini kangen ingin pulang ke rumahnya

Semoga keadaan bisa cepat membaik ya, dan bisa segera kembali ke rumah ya bu….