Penipu Mo Ditipu

Dari jadul, masalah penipuan menggunakan tehnologi yang namanya selular ga putus-putus dan modusnya beragam, mulai dari yang kelas teri dengan sms “mama minta pulsa yang nominalnya puluhan ribu” sampai yang puluhan juta memenangkan hadiah “mobil” atau uang tunai.
Saya sudah bosan terima sms penipuan macam itu, kalau dulu masih sering balas untuk bilang “makasih.. ambil aja hadiahnya buat elo nyet” lama kelamaan kalau dapat sms seperti itu langsung delete aja.
Untuk penipuan yang di telepon langsung saya juga pernah mengalami sekali, nah sabtu kemarin saat dalam perjalanan dari Kota Sigli menuju ke Meureudu, hape saya berbunyi dari nomor yang tidak ada dalam daftar, karena takutnya itu berhubungan dengan pekerjaan maka saya angkat.

Sama seperti modus penipuan lainnya, saat pertama si penipu tersebut telp pasti langsung mengucapkan selamat
“Halo, selamat siang”
“iya halo, selamat siang”
“begini pak, saya andre dari Telkomsel Jakarta, Selamat ya pak, kebetulan nomor bapak 081368xx8xx0 mendapat undian dari telkomsel dan mendapat hadiah sebesar 5 juta rupiah dan pulsa senilai satu juta rupiah”
saya langsung berpikir, ini mah penipuan… tapi karena kebetulan sedang suntuk dan butuh hiburan, maka saya layani aja percakapan tersebut.
“Oh iya? waduhhh… terus bagaimana ini?” saya jawab dengan nada senang.. surprise lah pokoknya
“Selamat ya pak, karena bapak sudah terpilih, ada beberapa hal yang harus kami tanyakan sebagai prosedur standar kami”
“oh boleh boleh… apa itu ya pak” saya menjawab dengan antusias, kayak baru dapat nomor telp cewek cakep diseberang sana
“Saya perlu tahu nama bapak siapa?”
Tadinya saya mau jawab anda kan yang telp saya… pasti tahu database saya, kok malah tanya-tanya,.. tapi itu urung saya lakukan karena ga mau terhenti sampai disitu percakapan “manis” ini, akhirnya saya beritahu nama saya.
“posisi bapak sekarang dimana?”
“saya sekarang di jalan lintas nih, dari kota Sigli menuju Meureudu, banyak sekali lembu disini pak, jalanan tadi sedikit macet karena lembu-lembunya ga mau minggir pas diklaksonin” *mulai memainkan emosi, dan terdengar helaan nafas dari penipu.
“begini pak, maksud saya bapak sekarang berada didaerah mana?”
“Ooo.. saya didaerah Aceh, di salah satu kabupatennya”
“Baik ya pak, kita lanjutkan, saya juga perlukan nomor rekening bapak”
“lho, buat apa no rekening? saya bernada heran dan kurang percaya kalau ada pertanyaan itu
“Begini pak, rekening itu untuk menerima hadiahnya, nanti ditransfer kerekening bapak, ga mungkin kan bapak ke Jakarta untuk mengambil hadiahnya?”
“Iya.. iyaaa… betul juga pak… ” saya berlagak setuju dengan perkataannya
tapi pak, saya mau tanya… ini penipuan bukan, maklum pak ini kan jaman edan… banyak penipuan”
“Astagfirullah Al Adzhim, kami ini bermaksud baik untuk memberikan hadiah kepada bapak, kok bapak menganggap kami penipu” Nadanya terdengar tinggi.. mulai kena deh lo
“aduh maaf pak, saya ga menganggap bapak, saya kan cuma jaga-jaga.. kalau boleh tau apa nama gedungnya ya pak?”
“Nama gedungnya Grapari” asli ketika disebutkan ini saya sambil menahan tawa mendengarnya,
“Alamatnya di mana ya pak?”
“Kantor Grapari telkomsel di Jakarta Pusat”
“kalau boleh tau satu lagi, nama jalannya apa pak?
“Jalan kuningan” nadanya udah mulai datar menjawab pertanyaan saya, saya harus netralkan
“oh iya, yang gedungnya warna hijau itu ya pak, dekat Atrium? saya pernah dulu waktu ke jakarta melihat”
“iya pak betul.. bisa kita lanjutkan pak, berapa no rekening bapak tadi, dan menggunakan bank apa?”
“Oh saya pakai BCA, no rekening nya 12345678, cabang Jakarta Timur”
“baik pak saya catat ya”
“Nah sekarang bapak bisa tidak menuju mesin atm, karena kami akan langsung transfer hadiahnya”
“waduh, ga bisa pak.. saya ini dijalan lintas Banda-Medan, dan di kota ini tidak ada atm bca, adanya di Banda Aceh, saya harus ke Banda dulu kalau mau ke atm”
“ya kalau begitu bapak harus ke banda dulu, biar kami akan segera transfer”
“ga bisa.. saya baru nanti malam ke Banda”
“Kenapa ga bisa sekarang pak, karena bapak adalah orang kelima yang mendapat hadiah, masih ada nomor satu lagi dibawah bapak jika bapak tidak mau terima” Nadanya mulai menakut-nakuti

Baiklah… saya ikuti saja permainnnya
“Begini saja pak, kalau mau di transfer sekarang silakan saja, tapi saya akan mengecek nanti malam atau besok pagi di Banda Aceh, karena masih ada urusan yang lebih penting”
“Jadi bapak bagaimana maunya? bapak mempermainkan kami? dikasih hadiah kok tidak mau, seharusnya bapak bersyukur Telkomsel masih mau memberikan hadiah kepada bapak, tapi bapaknya bukan bersyukur malah mempermainkan kami” Nadanya marah dan meninggi… sekalian lah saya buat makin tinggi aja

“ya udah, kalau memang gitu, biar sama-sama enak gini aja, pulsa yang satu juta transfer ke nomor hape saya,
yang 5juta kita bagi dua, bapak transfer saja 2 juta, yang 3 juta buat bapak, saya ikhlas kok pak… sungguh, kalau saya tinggalkan pekerjaan sekarang ini, saya bakal kehilangan klien, proyek saya ratusan juta melayang dan ke banda itu butuh waktu 3 jam lebih dari sini” Sengaja biar bikin luluh denger kata ratusan juta.. dan pancingan saya mengena.. nadanya kembali turun.

“Begini pak, bukannya saya tidak mau menerima tawaran bapak, tapi ini semuanya sudah masuk dalam sistem, jadi hadiahnya harus kami transfer ke rekening, untuk pulsa juga tidak bisa ditransfer langsung karena nominal tertinggi hanya seratus ribu rupiah, jadi nanti digabungkan dengan yang lima juta”
“oh iya ya…. saya lupa… nominal pulsa paling tinggi cuma seratus ribu, nah jadi bagaimana ini pak, saya baru besok pagi bisa ke atm, saya ke banda nanti malam, ga mungkin langsung ke atm…” saya bernada mulai menyerah agar bisa si penipu mengambil alih kembali

“bapak, kalau begitu nanti bapak kami telp kembali besok, benar ya pak?”
“iya pak.. besok silakan bapak telp kembali, sekitar jam delapan saya baru bangun tidur dan sarapan nasih gurih, enak lho pak nasi gurih gulai itik di banda”
Terdengar kembali helaan nafas…
“Baik pak besok jam delapan kami akan telp bapak.. benar ya pak, henponnya jangan dimatikan atau tidak diangkat?” nadanya khawatir
“tentu tidak pak, saya kan ga mau kehilangan lima juta itu pak”
“baiklah pak.. kalau begitu saya akan hubungi bapak esok pagi.. selamat sore”


Besok paginya, tepat jam delapan saat saya brief dengan teman-teman sebelum turlap hape saya berbunyi,
“Assalamu’alaikum Pak? bagaimana pak hari ini kita jadi untuk transfer?” walau penipu, tetap harus mengucapkan salam… biar korbannya makin yakin :p
“wa’alaikumsalam…, jadi pak… saat ini saya sedang dijalan Iskandar Muda, sarapan dulu, nanti kapan-kapan kalau bapak ke Aceh, nanti saya ajak sarapan disini…”
“jadi tidak pak untuk menerima hadiahnya? kok bapak malah sarapan?”
oh jadi.. atm nya kan beda tiga ruko dari tempat saya sarapan, ini saya jalan kesana…”
“Ya udah pak, hapenya jangan dimatikan ya, setelah sampai atm bapak bilang saja Halo”
“Baik pak…”saya pura-pura berjalan, dan kemudian mengetok kaca jendela sambil bilang
“Halo… halo… assalamu’alaikum”.. kok ga ada orangnya yak… gimana sih ini janjinya” saya pura-pura ngedumel
“Halo pak.. halo.. tadi bapak kemana, kok saya dengar ada suara mengetok pintu? bapak tidak ke atm ya? bapak jangan mempermainkan saya ya?”
“lho, siapa yang mempermainkan, kan tadi katanya kalo udah sampai atm disuruh bilang halo… ya udah saya ketok pintu atm nya saya pikir nanti ada orang keluar dari mesin atm dan ngasih saya uang 5juta itu”

Kontan teman-teman saya yang mendengar pada ketawa… ah payah nih…. bakal berakhir kalau gini.


“Jadi bapak mempermainkan saya ya? bapak bukannya berterimakasih dan bersyukur tapi malah mempermainkan saya, kalau begitu uangnya hangus.. tidak jadi di transfer! Asli suaranya marah gitu.. kalau pakai tanda seru, kayaknya ada sepuluh tanda seru dibelakang kalimat kemarahannya :p

“Ya udah gapapa ga ditransfer buat bapak aja deh.. saya ikhlas kok.. ga setiap hari saya dapat hiburan kayak gini”
-eh malah teman-teman saya bilang “dasar penipu….”

“Oh.. jadi gitu ya, saya dibilang penipu,…. dasar goblok, sekali pencet semua uang bapak hangus… rekening bapak
diblokir!!!”

“gapapa saya goblok, tapi kayaknya lebih goblok orang yang menelpon saya sekarang, trus silakan aja pencet biarin hangus uangnya, karena rekening itu ga ada uangnya.. tapi satu yang penting anda udah dapat pahala membuat teman-teman saya bisa tertawa pagi ini…”
“dasar goblok!!!” terus telp nya di matiin…

Fyuh…. lumayan juga buat hiburan, mungkin anda bilang saya jahat karena ngerjain orang, tapi gpp lah… sesekali orang seperti itu kudu dikerjain…. saya duga sih nih orang pakai TM (Talk Mania) karena luamaaaa banget… hampir ada setengah jam buat telp saya..
nih yang mau ikutan ngerjain balik… no hp nya 081273548220

*selamat beraktifitas temanz… jika ada yang telp mau transfer hadiah lebih baik jika anda tidak meladeninya, kecuali anda sama edannya seperti saya 🙂

Pengusaha Ganja

Di Medan, daerah saya tinggal, banyak sekali anak muda nya yang mengisap ganja, saya berpikir bagaimana cara barang itu bisa sampai ke Medan, apakah melalui hutan-hutan diperbatasan Aceh-Medan atau kah melalui jalur khusus.

Akhirnya pertanyaan saya terjawab, saat saya dikenalkan dengan seseorang yang mengetahui seluk beluk pengiriman barang tersebut.
Setelah yakin bahwa saya “aman” dalam arti bukan kibus atau informan, barulah dia mau bercerita.
Barang tersebut ternyata dibawa dengan cara biasa, ada yang membawa dalam bis dalam tas, dalam kardus dan biasanya ditaruh dalam bagasi, jika ada pemeriksaan semuanya pasti berkelit mulai dari supir, kernet hingga penumpang.
Cara yang lebih tinggi kelasnya dengan menyelipkan dalam bagian kendaraan baik itu kendaraan umum atau pribadi, dalam atap, dalam jok atau dalam ban cadangan.
Itu semua biasanya lolos, toh aparat ga bakal bisa memeriksa satu-satu kendaraan yang lewat, jika ada yang tertangkap saat memakai cara itu, sudah dapat dipastikan ada informan yang bernyanyi, jadi saat lewat perbatasan mobil bisa langsung dihentikan.

Satu lagi cara yang tidak terpikirkan oleh saya yaitu dikirim melalui jasa pengiriman, ini tentu saja pihak pengirim bekerjasama dengan jasa pengiriman tersebut, mainnya sih bukan dengan pemilik, tapi dengan pengemudi langsung, data dibuat palsu, sehingga tidak tercatat dan ini ternyata berjalan mulus-mulus saja.

Saya juga diceritakan bahwa ada kegiatan tersebut yang sudah berlangsung selama delapan tahun, semuanya berjalan dengan mulus, toh aparat juga ga akan periksa barang paket satu demi satu, bahkan kadang mobil jasa pengiriman tersebut juga mampir kekantor polisi untuk mengambil jasa kiriman.
Barang didepan mata.. tapi ga kelihatan, dalam satu minggu biasanya membawa dua kali, sekali bawa sekitar 2kg.
Ya kalau dihitung-hitung lumayan juga.
Memang kalau dipikir delapan tahun bisa mulus terus itu juga karena koordinasi yang baik dengan aparat, saat ada pemeriksaan, tinggal angkat tangan saja sambil bilang “bozz… lewat dulu nih… nanti kita ketemu di kedai kopi” ya akhirnya sampe juga barang itu di Sumatera..

Nah, bisa dibayangkan begitu indahnya kalimat “koordinasi” diatas.. selamat bekerja teman, silakan berkoordinasi dengan rekan-rekan dan kolega anda.. moga menghasilkan sesuatu yang positif.

*sampai sekarang kalau mencium asap daun tersebut, saya pasti mual, jangankan asap daun tersebut, asap rokok saja bikin saya batuk-batuk*

Saya Gondrong-is bukan Teroris

Saat menuju ke Aceh tiga minggu lalu, mobil yang kami kendarai dihentikan didaerah Besitang, ternyata ada razia yang dilakukan oleh polisi dan tentara, waktunya belum terlalu malam, masih jam sembilan.
STNK, SIM dan KTP pengemudi serta penumpang diperiksa, lampu diminta untuk dinyalakan, wajah kami di sorot satu persatu dengan senter, yang memeriksa adalah anggota Brimob, dibelakangnya ada tentara dengan posisi siap menembakan senapan jika ada hal yang tidak diinginkan.

Saya adalah yang dicecar, karena rambut saya gondrong sebahu dan memakai kacamata, sedangkan di katepe rambut cepak tanpa kacamata, Barang bawaan diperiksa, tapi yang menjadi target adalah ransel dan hanya saya yang membawa ransel makin lengkaplah kecurigaan mereka, jadi saya diminta membuka ransel untuk mereka periksa, saya bilang isinya hanya pakaian tapi karena senter yang mereka gunakan sedang dipakai untuk memeriksa bagian tengah, bagian belakang sedikit gelap, ndilalahnya ransel saya ngadat, terbuka hanya setengah, brimob yang memeriksa curiga dan tangannya masuk memegang isi ransel, dan minta ransel diturunkan, padahal isinya hanya pakaian.
Brimob tersebut curiga karena pakaian saya dibungkus plastik dobel, saya pun baru ingat sebelum berangkat, saya mengambil pakaian ke laundry, jadi dalam kondisi masih plastikan saya langsung masukan dalam ransel, dan ketika dibuka barulah brimob itu melihat isinya lalu berkata “habis ga dibuka sih plastiknya, bikin curiga aja”

Pemeriksaan didaerah Besitang ini cukup ketat, terutama untuk pengendara kendaraan pribadi, sepeda motor dan bus.
Lewat daerah Besitang, masuk ke Aceh Tamiang, kali ini ada razia juga, tapi tidak seketat didaerah besitang, hanya pengemudi yang diminta menunjukan identitasnya dan ditanya dari mana serta tujuannya kemana dan hendak apa.
Kebetulan kami mengiringi truk yang membawa barang untuk keperluan pekerjaan di Medan, ajaibnya truk cuma diminta surat-surat saja lalu dibiarkan lewat.

Dari Razia tersebut saya melihat kelemahan, bisa saja teroris yang dicari naik mobil truk, bawa kantong kresek ga bawa ransel dan bisa lolos sampai Aceh.

Nah, dua minggu lalu, saya ngabur ke Medan, inap sehari lalu balik lagi ke Aceh, saya ambil perjalanan malam dengan naik bus, dan lagi lagi ada razia didaerah Aceh Tamiang, Anggota Brimob masuk ke mobil mengucapkan salam serta meminta para wanita untuk duduk tenang, dan yang pria untuk mengeluarkan identitasnya,
bapak disamping saya menyerahkan identitasnya, dilihat lalu dikembalikan, saat giliran saya, ditanya dari mana, mau kemana tujuannya dan hendak apa disana. saya jawab, dan ketika melihat ransel diminta untuk dibuka, saat melihat laptop ktp saya dikembalikan dan mengucapkan terimakasih serta mengucapkan selamat bekerja,
Dibelakang saat pemeriksaan terjadi insiden ketika dipertiksa, ada yang menjawab dengan gugup dan ketika diminta identitasnya ternyata tidak punya, jadilah kedua orang tersebut diturunkan dari bus beserta barang bawaannya untuk diperiksa, dan akhirnya bus diminta untuk berjalan kembali tanpa kedua orang tersebut.
lagi-lagi disini saya melihat kelemahan, sasaran tembak hanya orang yang mempunyai pengenal diluar daerah medan dan punya tampang yang mencurigakan tentu saja, hal ini bisa diakali, katepe palsu kan bisa dibuat secepat kilat dengan printer biasa saja bisa jadi, dan untuk wajah juga bisa diakali, ubah penampilan dikit juga beres.

Saya melihatnya razia ini kurang efektif, toh masih banyak kelemahan-kelemahan yang bisa diakali.
tapi hal ini juga bisa bikin terapi buat orang-orang yang punya niat ga baik…

Selamat bepergian teman, jangan lupa bawa identitas, tapi jangan identitas orang lain yang dibawa yaaa

Menemukan Pasangan

Dua minggu sebelum berangkat ke Aceh, saya membeli sendal jepit swallow, biasalah untuk menggantikan sendal jepit lama yang lagi jalan-jalan entah kemana ketika saya ajak main kerumah seorang kawan.
Nah, seminggu setelahnya saya mengajak si sendal jepit untuk jum’atan, selesai jum’atan, alhamdulillah sendal jepit masih ada, tapi pas diperhatiin ukurannya berubah, kalau berubah dua-duanya sih ga masalah, misalnya dari 10 ke 11, tapi ini yang berubah cuma bagian kanan, menjadi lebih besar dan kelihatan lebih butek :))
Saya tunggu sampai semua pulang, dan ternyata ga ada yg datang buat tukar.
Namanya juga sendal jepit, wajar sajalah.. pas dipakai dibawa jalan walau beda ukuran ga begitu diperhatiin.


Karena mau berangkat ke Pidie, saya sempatkan dulu beli sendal jepit, dengan warna tali senada ya hitam.
Di sini, ketika saya shalat di Mesjid Raya Sigli, saya parkir sendal dideretan sendal-sendal bagus, bukan bermaksud nuker ya apalagi mau menaikan biar gengsi, toh sama-sama diinjek juga :p
hal itu saya lakukan karena saya lihat sendal yang tersedia di masjid untuk berwudhu, merek, warnanya sama.. ukurannya ada yang sama dan ada yang beda.
Selesai shalat, alhamdulillah sendal jepit saya masih ada..,. ternyata ga ada yang khilap membawa swallow saya dan meninggalkan sendal kulit yang bagus.
Langsung saya pakai n ga perhatikan lagi, tapi pas dibawa berjalan terasa lain, kok lebih longgar dibagian kiri, ketika saya perhatikan ukurannya ternyata menjadi lebih besar, pikiran jelek saya bilang “siapa sih yang mau repot-repot ambil sendal jepit saya pas shalat, ngerendam dalam minyak tanah lalu ditaruh ditempatnya lagi, ga tau apa kalau harga minyak tanah sekarang mahal, kan udah ga ada subsidi lagi”

Nah proses yang standar saya lakukan adalah memeriksa semua sendal jepit yang ada, sampai dikira mau tukar sendal sama orang, ternyata sampai jamaah habis dan yang tersisa cuma deretan sendal untuik wudhu dan ga ada yang cocok dengan sendal saya.
Yah, akhirnya saya pakai juga, mau ditinggal manalah mungkin.

Hikmahnya sih ga ada yang sia-sia, walau sampai ratusan kilometer, saya tetap mempunyai dua pasang sandal jepit, malah sekarang bervariasi, yang satu ukurannya lebih besar bagian kiri warnanya lebih butek dan bagian kanan warna talinya hampir pudar… 😀

Kiriman??

Tahun lalu saya mengalami peristiwa yang ga masuk akal, berasa aneh aja.
Biasanya kalau pulang ke kost saya ga terlalu malam, paling sekitar jam delapan malam.
Nah, kamis malam pulangnya rada malam sekitar jam sebelas, tapi anehnya kamar tetangga yang cuma satu-satunya udah ketutup, padahal disitu ada tiga orang kakak adik mulai dari yang kerja, kuliah dan SMA yang biasanya kalau tidur diatas jam duabelas malam, kalau ga ngobrol ya biasanya mereka gegitaran.

Setelah mandi, saya siap-siap tidur tapi perasaan ga enak, baca buku juga ga bisa. suara burung tetangga aja yang sering bunyik dan kepak sayapnya seperti sedang bingung. Jam satu baru mulai tertidur, belum lama tertidur, saya dengar suara seperti ada yang melempar genteng, langsung bangun dan keluar kamar utk ngecek, saya pikir kucing lagi main sama tikus di genteng tapi ga ada kucing, saya akhirnya meneruskan untuk tidur, paginya saya tanya tetangga kamar mereka bilang ga dengar suara apapun.

Hari jum’at itu saya pulang cepat, sekitar jam empat udah sampai kost sebelumnya beli makan untuk makan malam.

Setelah maghrib, perasaan ga enak mulai muncul, badan mulai terasa ga enak, saya minum obat berhrap setelah dibawa tidur akan segar kembali, tapi yang ada badan saya panas langsung tinggi, saya ingat-ingat apa saya salah makan, tapi makan selama ini normal-normal aja, ga ada yang aneh. Akhirnya bisa tertidur juga setelah isya tapi ga lama sekitar dua jam, panas tidak turun juga, hingga subuh tidak bisa tidur.
Ketika akan bangkit untuk turun kebawah, sudah tidak sanggup, badan rasanya remuk, panas tetap tinggi. Untung ada air di ember punya tetangga untuk wudhu. Kebetulan sarapan titip ama tetangga, minum obat lagi langsung berusaha tidur tapi ga bisa juga. Jam sembilan baru bisa tidur, dzuhur ketika akan shalat udah ga bisa bangun, begitupula waktu ashar.
Disini pas pengen pipis masih bisa memiringkan badan, dan ditampung dalam botol aqua besar (sorry bagi yang jijik)

Setelah ashar kedaan makin parah,Angkat hape mau telp atau sms aja ga kuat, untuk miring pun sangat sakit, kalau kepala jangan ditanya rasanya ada ribuan jarum menusuk kepala, jadi posisi hanya telentang saja, makin malam rasa sakitnya menggila, tapi setelah jam 2 malam, kantuk menyerang, akhirnya bisa tertidur. Adzan subuh sepertinya mendapat hawa baru, suasana dalam kamar segar, walau masih rada sakit kepala tapi bisa turun ke kamar mandi. Setelah subuh tertidur lagi.

Jam 9 pagi, terbangun karena ada telp dari ustadnya bozz, dia langsung menanyakan keadaan saya selama dua hari terakhir, dan bagaimana perasaan saya, ustad tersebut minta maaf karena telat mengetahui, lalu dia meminta saya untuk minum air putih dan setelah itu pasti muntah.
Lalu dia juga bercerita bagaimana keadaan saya selama dua hari itu, dan yang diceritakannya persis dengan yang saya alami. padahal saya tidak menceritakan satu detil pun kepadanya. ketika saya tanyakan dia hanya tertawa, dan meminta saya untuk banyak beristigfar serta bershalawat, ketika saya tanya apakah ada sesuatu yang ga beres, dia hanya bertanya apakah disitu saya kenal dengan orang dari salah satu suku (ustad tersebut menyebutkan sukunya), saya bilang ga tau juga, karena team lokal terdiri dari berbagai macam suku termasuk suku yang disebutkan, saya bertanya siapa orangnya, lagi-lagi ustad hanya tertawa dan cuma mengingatkan saya hal diatas serta bilang untuk konsentrasi dengan kerjaan, dan jika saya ikhlas mudah-mudahan orang tersebut akan datang.

Saya ga ambil pusing dengan hal itu, tapi seminggu kemudian datanglah salah satu leader dengan istrinya ketempat kerja, kebetulan saya sedang diluar, dan ketika akan masuk tempat kerja, hawanya terasa lain (saya pikir itu hanya perasaan saya saja) dan saat dikenalkan dengan istrinya, dia menatap saya dengan tajam, ketika saya lihat, dia menunduk dan merasa gelisah, saya iseng tanya dari suku manakah dia, dan dijawab, saya masih enggak sadar dengan kejadian seminggu lalu, sadarnya ketika mereka pamit pulang, sang istri meminta maaf kepada saya.
Barulah saya ngeh.. jadi inilah jawaban dari sakit saya dan teka-teki si ustad.
Walahu alam

Nah, beberapa hari lalu di Aceh sini, saya mengalami gejala yang hampir sama, ah… ada-ada saja.
adik saya bilang mungkin saya membuat orang lain tersinggung, saya sih bilang kalau ga suka akan sesuatu ttg sesuatu hal, saya pasti akan ngomong terus terang, mungkin dari hal itu yang bikin orang ga senang 🙂
Sekarang semua saya pasrahkan sama Allah aja, itu sepertinya jalan yang terbaik.

Selamat menikmati liburan, mudah-mudahan saya tidak pernah membuat anda tersinggung, jika anda pernah tersinggung oleh ucapan saya, tolong maafkan saya… jangan kirimkan saya sesuatu yang kasat mata, tapi kirimkanlah do’a atau mau kirim uang juga gpp 🙂

Lima Fase

Ini fase yang biasa dilakukan para lelaki saat akan keluar kota, berpesan kepada pasangannya

Fase I
Belum Menikah
“Sayang, jangan telat makan atau sampai lupa makan, nanti kamu sakit”

Fase II
Setelah Menikah
“Sayang, Jangan lupa makan , makanannya dijaga ya, untuk kesehatan kamu dan bayi kita

Fase III
Setelah punya anak balita
“Sayang jangan lupa susu untuk anak kita ya, kamu juga jaga pola makan ya”

Fase IV
Setelah anak udah abg
“Sayang, anak-anak jangan kamu sering biarkan jajan diluar ya, kamu juga jangan ikutan anak-anak”

Fase V
Setelah anak udah dewasa
“Sayang, jangan lupa kasih makan ikan dan kucing ya, kalau anak-anak ya kasih uang aja biar mereka cari makan sesuai selera, kalau kamu sih terserah aja”

*Selamat bekerja temanz…. jangan lupa makan yaaa :p