2Much “kopi” will kill u?

Dulu saya sempat menjadi pecandu kopi, mungkin bagi orang lai ga terlau berat tapi bagi saya sehari 5 gelas sudah termasuk lumayan nyandu.
Awalnya susah banget untuk menghilangkan kebiasaan itu, setelah dikombinasikan dengan ngemil coklat berkurang dikit lah minum kopi dalam satu hari, cuma dua kali yaitu pagi dengan waktu tanggung sekitar jam 3an.
Nah, kalau pergi kedaerah, pasti saya mencoba kopi khas daerah tersebut, kalau ga ada warung kopi ya cari kopi bubuknya untuk dibuat dirumah.
Kopi yang paling keras justru saya dapatkan dari Lampung, warnanya hitam pekat, bau kopinya menyengat dan setelah diminum masih kelat dilidah.
Kopi yang saya suka aromanya dari Singaraja saya buat cuma untuk menghirup aromanya saja, kalau rasanya enggak suka.

Makin kebelakang, minum kopi makin jarang, paling sehari cuma sekali bahkan kadang bisa dalam satu cangkir itu ga habis, itupun kopi instant yang sudah campur dengan susu atau mocca.

Kalau untuk di Aceh, saya ga terlalu kaget dengan kopinya, karena ketika di Medan sudah icip-icip, kopinya memang beda dengan kopi dari daerah lain, rada encer dan ga ada ampasnya, setelah saya perhatiin, ternyata cara buatnya disaring berkali-kali.
Untuk rasa… pahitnya memang terasa sekali, tapi saya ga terlalu suka karena encer sekali.

Kebetulan saat saya turlap ke kecamatan tanoh mirah saya diajak ngopi oleh salah satu temannya bozz di Medan, saya menolak dan bilang kalau saya kurang suka dengan kopi yang dijual di kedai karena rada encer, dan hal itu disampaikan kepemilik kedai.
Temannya bozz bilang bahwa saya akan dibuatkan kopi istimewa, saya ga mau… tapi karena asisten bozz yang menemanisaya juga mau menerima, mau nggak mau saya ikutan juga.

Pas kopinya selesao dibuat, aromanya memang wangi, dan memang lebih kental, satu gelaspun akhirnya tandas,
selesai ngupi-ngupi dalam perjalanan kembali ke basecamp saya mengalami kantuk yang luar biasa, mata ga bisa diajak kompromi dan akhirnya tertidur selama perjalanan 40km sampai basecamp. Dan hal itu juga dialami Asisten bozz saya.

Besoknya karena penasaran saya bertanya dengan teman bozz saya tersebut, awalnya malah diketawain dan setelah didesakpun dia tetap tidak mau berkata apa-apa, akhirnya saya sindir kalau di Lhokseumawe sepertinya butuh kepala cabang kalau memang berminat saya bisa menyampaikan ke bozz…
Kontan mukanya pucat karena jika sudah dikirim ke Lhokseumawe artinya membunuh secara perlahan , dia menyerah dan akhirnya bilang kalau kopi yang saya minum memang istimewa karena sengaja dicampur.. dan dia tahu kalau saya tidak merokok dan pasti tidak akan tahan dengan bahan campuran tersebut.
Ah, iseng yang sangat keterlaluan, untung saja saya hanya tertidur didalam kendaraan, terbayang jika saya mengendarai sepeda motor sendiri, bisa-bisa gusrak dijalanan.

*Selamat ngupi temanz, ternyata betul lho kalo orang ngupi itu ga bisa tidur, tapi kalau selesai ngupi sih bisa aja tertidur nyenyak*