Membandingkan

Perjalanan ke Medan dari Aceh bersama dengan dua orang bapak, saya hanya jadi pendengar setia, ga mau ikut terlibat, hanya asik melihat pemandangan malam hari dari depan bersama pak supir yang juga ga banyak bicara, hanya sesekali pak supir dan saya istighfar karena melihat sesuatu yang melintas.
Kuping saya lirih mendengar pembicaraan dua orang bapak dibelakang…

Yang satu curhat tentang teman mereka yang sama-sama mendapat rumah dinas, tetapi rumah dinasnya malah dibuat kost-kostan, mobil operasional kantor yang harusnya tidak boleh dibawa pulang ini malah sering dibawa pulang padahal sudah mendapat mobil dinas sendiri.
Pekerjaan yang berprospek dikerjakan diluar jalur, klien di lobi untuk menggunakan jasa perusahaan bayangan yang dimilikinya. Inti curhatnya kenapa dia berbuat seperti itu mempergunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadinya.

yang satu lagi mendengarkan dengan setia, setelah curhatannya berhenti, si bapak satu yang lebih muda itu bilang
“Bro, biarlah dia melakukan apa yang dia mau, perusahaan ada peraturan tersendiri tetang hal tersebut, kita sebagai pegawai lebih baik ikut aturan saja, kamu tahu bro, walau dia berlimpah materi tapi belum tentu hatinya bahagia, orang memang sering bilang kalau kebahagiaan bisa dibeli dengan uang, tapi itu hanya sesaat bro.
Bro pernah perhatikan ga kalau kita ada family gathering? kita semua membawa anak dan istri, tapi bozz yang satu itu hanya dengan istrinya, dan pernah perhatikan ga bagaimana sikapnya dengan anak-anak? seringkali kan anak-anak tersebut ditanya.. kamu anak siapa? udah kelas berapa? dan lihat juga bagaimana tatapan istrinya melihat anak-anak tersebut, penuh kesedihan dan ingin memiliki.
Nah, kita bro, walau secara material biasa-biasa saja, tapi kita punya kelebihan juga, coba bro pikir saat kita pulang kerja udah cape.. trus dirumah anak-anak kita main dengan kita, rasa capai kita bisa hilang bro. belum lagi denger repetan istri kita kalau uang belanja telat… itu semua berkah bro, coba pikirkan lagi… ga usah kita iri dengan orang lain, lebih baik kita syukuri apa yang sudah kita terima dari Allah.
Bapak yang satu hanya diam… tapi saya lihat dari kaca spion bapak tersebut hanya mengangguk..

Percakapan tersebut membuat Saya kangen dengan orangtua saya, saudari2 saya dan keponakan di Bekasi…

Advertisements

11 comments on “Membandingkan

  1. ah, si bapak muda itu jangan2 mas Alan, dia suka membandingkan seperti itu :-Ddan aku selalu merasa lebih beruntung meskipun gak bergelimang uanghidup sederhana, masalah yg dihadapi ternyata juga lebih sederhana lho 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s