Begitu Indah

Malam mulai beranjak, di beberapa tempat yang berbeda ada sepasang mata yang nanar memandang langit-langit kamar, ada yang diam memandang kosong kearah layar laptop membaca baris demi baris peristiwa yang telah terjadi, ada yang menghela nafas dalam dalam lalu menghembuskannya secara keras agar terbuang beban yang menghimpit, ada yang berusaha kegalauannya dengan bermain dalam jejaring sosial sambil tertawa tapi dengan miris, sementara itu sebuah lagu dari group band indonesia terus bermain secara berbarengan ditempat-tempat tersebut

“Bisa-bisanya kami terkena, bisa-bisanya kami terlena
Rupa-rupanya kau berbahaya, Rupa-rupanya kau sama……
seperti ular… seperti ular yang sangat berbisa
suka memangsa, suka memangsa…. diri kami tergigit ibaaaaa
kami tertipu, kami terjebak, kami terperangkap muslihatmu”

Ditempat lain, sebuah hati tidak kalah resahnya, bercampur antara malu, sakit hati, marah dan takut, jika terjadi hal-hal yang tidak bagus, walau disadari atau tidak disadari bahwa itu akibat perbuatannya, sekarang tujuannya hanya satu menyelesaikan persoalan ini walau sudah terbayang akibat yang akan diterimanya, hanya satu tujuannya baik dan buruknya itu adalah buah hatinya

“She’s got eyes of the bluest skies, as if they thought of rain
“i hate to look into those eyes anf see an ounce of pain
“her hair reminds me a warm safe place, Where as a child i’d hide
“And Pray for the thunder and the rain
“to quietly pass me by…. Oh Oh Oh… Sweet child o’ mine…..”

Di waktu dan tempat yang berbeda ribuan mata dengan seksama mengamati sebuah trending topic, ada yang tanpa login karena takut diketahui jejaknya, ada yang membawa hape nya hingga ke toilet, ada yang menggotong laptop nya sambil diselingi memasak, ada yang saling PM dan ada yang sambil chatting, semua aktif berkicau diiringi dengan koor Anastacia berkolaborasi dengan Wali

“if a friend is crime baby, i’d do my time
Ingat mati… ingat sakit ingat saat kau sulit
some might say u’re guilty of friends at the first degree
ingat ingat hidup cuma satu kali
if the jury wants to lock u up and throw away the key
Berapa dosa kau buat berapa kali maksiat,
there’s no greater punishment than what u’r face inside
ingat ingat sobat ingatlah akhirat
won’t tamper with the evidence cause there’s nothing to hide
cepat-cepat ucap astagfirullah al adzhiem”

Epilog
Satu lagi cerita telah selesai, bagaimanapun pembelajaran tidak akan pernah usai, baik atau buruk pasti akan ada yang bisa dipetik didalamnya.
Peduli- empati -simpati- menolong atas nama kemanusian dan persahabatan tidak serta merta mengabaikan akal sehat dan logika…


*Mengambil gitar dan menyanyikan Harmoni-nya Padi

“Aku mengenal eMPe,

Tak cukup lama… kan tahun ke tujuh
Namun begitu banyak… pelajaran yang aku terima

Mpers membuatku mengerti hidup ini…
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal kau posting dengan isi pikiranmu
dan terwujud maya mu

Segala kebaikan tak akan terhapus oleh kepahitan
ku lapangakan resah jiwa
karna ku percaya kan berujung indah”

Advertisements

52 comments on “Begitu Indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s