Berbagi Ala Mbah Darno

Hari minggu kemarin saya bertemu dengan seorang bapak yang menjadi loper koran, mungkin bagi orang lain ga ada istmewanya, tapi bagi saya itu adalah salah satu hal yang istimewa, betapa tidak, saya mengenal bapak tersebut ketika masih kelas 6 SD, saat itu kami berlangganan koran dan majalah donal bebek, yang menjadi loper koran adalah anaknya yang seusia saya, tapi ketika masuk SMP, bapaknya yang menggantikan anaknya untuk mengantarkan koran, awalnya memakai sepeda BMX anaknya, tapi akhirnya berganti dengan sepeda mini, lalu berganti lagi dengan sepeda jengki.

Itu cerita awalnya, tapi ada sisi menarik dari mbah Darno sang loper koran ini, di usianya yang sudah menginjak 69 tahun, mbah Darno diminta berhenti menjadi loper oleh anak-anaknya, tetapi beliau menolak dengan alasan kalau tidak bekerja badannya sakit semua. akhirnya anaknya mengalah dan membelikan Betrix (sepeda listrik) agar beliau tidak perlu ngegowes kembali.
Seminggu sebelum puasa, koran yang diantarkan lebih pagi, saya penasaran karena biasanya mbah Darno mengantarkan koran ketempat saya sekitar pukul 7 pagi, tapi jam 6 koran sudah diantarkan, dan saya lihat anaknya yang mengantarkan sebelum berangkat kerja. rupanya mbah darno sedang pulang kampung, dan agar pelanggan korannya tidak kecewa anaknya lah yang menggantikan.
tanggungjawabnya terhanggap pelanggan cukup tinggi, tidak heran banyak orang yang tetap bertahan berlangganan terhadap beliau.

Saat bulan puasa seperti ini jadwalnya juga tidak berubah sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan menjelang Hari raya, mbah Darno memberikan kue buatan istrinya untuk pelanggan-pelanggan lama yang sudah dikenal secara akrab, dan bisa dipastikan tas untuk membawa koran akan berganti dengan kue-kue dari pelanggannya sebagai ucapan terimakasih, ada pula pelanggan yang tidak memberikan kue, tapi memberikan uang sebagai tanda terimakasih.
kalau membayangkan, jika mbah Darno mempunyai 15 orang pelanggan saja, bisa dipastikan ada 10 toples kue yang akan dibawa pulang tapi tidak begitu dengan mbah Darno, beliau setelah dapat kue dari pelanggannya hanya beberapa yang diambil dan sebagian besar dibagikan kepada teman-teman loper lainnya, begitu juga uang “THR” dari pelanggannya jika ada loper lain yang tidak mendapat apapun dari pelanggan, akan diberikan bagian oleh mbah Darno.

Begitu banyak pelajaran dari Mbah Darno sebagai loper… beliau bukan hanya mengajarkan nilai tanggungjawab terhadap Sang Pemberi Hidup dengan bekerja sesuai kodratnya, tetapi juga mengajarkan tanggungjawab kepada oorang lain serta tidak lupa dengan berbagi terhadap sesama.


Selamat berpuasa…. semoga kita tetap ingat ada “tanggungjawab2” yang harus dilakukan dan tanpa lupa berbagi kepada sesama..

Advertisements

36 comments on “Berbagi Ala Mbah Darno

  1. wib711 said: mbah Darno memberikan kue buatan istrinya untuk pelanggan-pelanggan lama yang sudah dikenal secara akrab, dan bisa dipastikan tas untuk membawa koran akan berganti dengan kue-kue dari pelanggannya sebagai ucapan terimakasih, ada pula pelanggan yang tidak memberikan kue, tapi memberikan uang sebagai tanda terimakasih.

    maksudnya saling memberi begitu ya om?

  2. nitafebri said: di ikutin lombanya Darnia ajah nih tulisan

    Sebenernya bisa, kalau saya buat versi unthinkable nya…. tapi saya ga membidik dari arah situ 🙂

  3. rengganiez said: maksudnya saling memberi begitu ya om?

    iya mbak Niez…Biasanya seminggu menjelang lebaran mbah darno memberikan Kue ke pelanggannya, nah pelanggannya ada yang memberikan balik baik berbentuk kue atau uang.tapi kadang juga pelanggannya yang memberikan kue2 lebih dahulu, baru mbah darno memberikan balik tanpa diminta…yang saya lihat hal ini bukan kearah “kick back”, tapi lebih karena sudah banyak pelanggan yang akrab (tanpa SEO) dengan mbah Darno.

  4. wib711 said: betul mbak….saya juga mau menerima kol gepeng kok :p

    silakan order langsung ke kolgepeng.multiply.com. Deket kok lokasinya, di Kuala Panci Malaysia.Butuh berapa ons 😛

  5. wib711 said: yang saya lihat hal ini bukan kearah “kick back”, tapi lebih karena sudah banyak pelanggan yang akrab (tanpa SEO) dengan mbah Darno.

    kerenn yahh…betapa teguhnya dia melakukan itu semua…hakul yakin itu dilandasi oleh rasa cinta..mencintai pekerjaannya..Ini bukan sekedar pekerjaan tapi lebih dari itu, yang tak bisa terbeli oleh uang. Salut buat Mbah Darno ah…

  6. enkoos said: silakan order langsung ke kolgepeng.multiply.com. Deket kok lokasinya, di Kuala Panci Malaysia.Butuh berapa ons 😛

    kalo ukurannya ons… berarti anda pedagang kecil yaaaa… menghindari 3,9% yaaaaaa :p

  7. rengganiez said: kerenn yahh…betapa teguhnya dia melakukan itu semua…hakul yakin itu dilandasi oleh rasa cinta..mencintai pekerjaannya..Ini bukan sekedar pekerjaan tapi lebih dari itu, yang tak bisa terbeli oleh uang. Salut buat Mbah Darno ah…

    iya setuju mbak…. bahkan pernah saat sepedanya di tabrak motor, sebelum sampai tujuan, mbah darno menitipkan sepedanya dan menelpon anaknya untuk mengantarkan koran…

  8. cambai said: wah, 69 tahun masih jadi loper koran mas? hebat sekali si mbah ya..salut ama komitmen dalam kerjanya…

    iya uni.. saya tahunya karena usianya sama dengan bude saya…

  9. Pingback: Jika Kenangan itu Berbentuk Kartu Pos | Blackaholic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s