Transportasi Alternatif

Hampir dua bulan saya menikmati perjalanan menuju tempat kerja dengan memakai kendaraan umum dari pinggiran Kalimalang seberang Jatibening menuju Senayan.
Perjalanan pulang pergi lumayan nyaman, naik bis bisa dipastikan selalu dapat duduk, kecuali mengalah untuk wanita yang sudah tua, wanita hamil dan dedek maniez.
Tapi dibalik naik angkutan umum itu, harga yang dikeluarkan termasuk lumayan juga.
Saya dari rumah naik ojek Rp 5.000, dilanjutkan naik mikrolet Rp 4.000 hingga pintu tol Jatibening, lalu naik bis Feeder Harapan Indah jurusan Blok M, Rp 11.000 atau Mayasari 05 Rp 6.500
Kalau pulangnya, naik Mayasari 05 Rp 6500 hingga pintu tol Jatibening , lalu disambung dengan ojek Rp 15.000 hingga rumah.
Dihitung rata-rata setiap hari untuk transportasi kurang lebih Rp. 37.000 – Rp 41.500, dikalikan hari kerja untuk transportasi sudah habis sekitar Rp 800.000.

Saya pernah juga naik kereta, biayanya lebih murah, perhitungannya
Naik ojek Rp 5000, dilanjutkan naik angkot/koasi Rp 3000, lalu Kereta Api hingga Sudirman Rp 6000, Kopaja Rp 2000. PP sekitar Rp 32.000, lebih murah memang, tapi di kereta jangankan dapat duduk, untuk bergerak saja lumayan sulit.

Lumayan besar untuk transportasi bagi warga pinggiran Jakarta untuk ketempat kerja, tapi memang kalau naik kendaraan umum banyak yang bisa dilihat, banyak yang bisa didengar dan akhirnya bisa menjadi cerita.
Jika melihat perhitungan tersebut diatas, ga salah memang kalau banyak warga pinggiran Jakarta memilih naik sepeda motor.
Perhitungannya 1 hari 1 liter bensin anggap saja Rp 5000, lalu biaya servis selama satu bulan Rp 60.000, dibagi hari kerja biaya servis/hari Rp 3000 jadi untuk sehari biaya transportasi Rp 8000,

Tidak heran akhirnya banyak orang mengambil kredit sepeda motor, toh pada akhirnya daripada mengeluarkan biaya transportasi lebih baik mencicil motor sehingga dalam jangka waktu 2 atau 3 tahun bisa ada barang yang dimiliki.
Akibatnya tentu saja ada, kemacetan makin menggila, 5-6 tahun lalu waktu yang saya butuhkan untuk ketempat kerja dengan sepeda motor sekitar 45 menit, tapi sekarang bisa 80 menit.

Seandainya jika di kalimalang ada angkutan alternatif seperti gambar diatas, seru juga nampaknya.

Selamat bekerja dan selamat menikmati kemacetan serta “kegilaan” angkutan umum di Jakarta.

Advertisements

41 comments on “Transportasi Alternatif

  1. biaya operasional sepeda motor, seharusnya dijumlahkan juga dengan –katakanlah– biaya cicilan per bulannya. kan untuk mendapatkan sepeda motor perlu invest juga. πŸ˜€ *btw, maswib nggak pernah pake motor lagi ke kantor? πŸ˜€

  2. tianarief said: biaya operasional sepeda motor, seharusnya dijumlahkan juga dengan –katakanlah– biaya cicilan per bulannya. kan untuk mendapatkan sepeda motor perlu invest juga. πŸ˜€ *btw, maswib nggak pernah pake motor lagi ke kantor? πŸ˜€

    tetap lebih murah mas… :)katakanlah cicilan 400 atau 500 ribu… total 650-700 ribu tetap lebih murah.*jarang mas, kecuali mo ada rencana kemana yang sulit transportasinya, baru naik motor*

  3. ditaku said: Biaya yg aku keluarin per hari u transport mulai dr Rp 0 – Rp 85.000.Mari berdoa supaya tetap Rp 0 sepanjang hari.

    tapi kalu dari habit dita, kayaknya yang Rp 0 itu hanya sekitar 30% dari total selama sebulan

  4. wib711 said: tetap lebih murah mas… πŸ™‚

    memang pake motor lebih murah. karena perlu skill dan ketabahan tersendiri saat mengendarai motor di jalanan macet, yang tak semua orang mau melakukannya. πŸ˜€

  5. wib711 said: kalo ngantuk tinggal peluk pengemudinya ya mbak.. πŸ˜€

    ga bisa… nanti kepentok2 sama helmmalahan kebangun, mendingan megang pegangan belakang atau pegang pinggang dehlebih aman :))

  6. Ya begitulah om wib :DSelain cari kendaraan plg nyaman, cepet, murah, tp ya agak susah. Sewaktu kerja kantoran, aku beberapa kali coba2 angkutan umum, dan yg plg irit ketika berangkat nebeng kakak sampai halim :DLewat tol jt bening cepet, tp ngojeknya mahal, heheLewt kalimalang lama dan kadang saingan, tp bisa tidur :pNaik kereta? Belum pernah.Jalan layang yg mau dibikin ga jd karena pak harto keburu turun sih ya, tp kalau jd, ngaruh gak ya? πŸ˜€

  7. luar biasa perjuangan orang jakarta ya…:(pernah baca di koran, katanya, 5 thn lagi jakarta diprediksikan ‘berhenti’ (dihitung2 dari pertambahan jumlah kendaraan dan luas/panjang jalan, kalau semua tumplek ke jalan, bener2 berhenti).. mudah2an tdk perlu terjadi dan segera muncul pemimpin bangsa yg bisa membereskan semua kekacauan ini…

  8. aku sekarang berangkat & pulang kerja, naik commuter line Rp.6.500 dari Jatinegara sampe Gondangdia, plus angkot Rp.2.000, jadi perhari Rp.14.500 Sebulan 362.500cepet, gak capek, alhamdulillah..

  9. Itu dia apa2 abis di ongkos bahakan bisa kurus di jalan akibat dempetan kejar2an bus.Blom lagi klo hujan n banjir ongkosnya bisa lebih lagi.Makanya saya milih out ketika ga ada kejelasan πŸ™‚

  10. Itu dia apa2 abis di ongkos bahakan bisa kurus di jalan akibat dempetan kejar2an bus.Blom lagi klo hujan n banjir ongkosnya bisa lebih lagi.Makanya saya milih out ketika ga ada kejelasan πŸ™‚

  11. mahalnyaaaaaaaaa…………..aku kalo lagi “kaya” naik becak 10rb.kalo lagi menghemat, pulang naik angkot. 2 kali naek angkot 5rbitu hitung2an pulang, soalnya perginya sering dianter gak pake ongkos jadinya πŸ˜€

  12. nunksubarga said: Sedang dibangun Busway Pulogebang-Kp Melayu……ga ngefek ya?

    makin gila macetnya….kalo kerja ke sudirman, dari buswe di i gusti ngurah rai, transit di kp melayu, lanjut hingga matraman, transit di matraman ke dukuh atas, baru buswe sudirman. tapi antrinyaa? huaaa….3,500 bisa 3 jam baru sampe kantor πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s