Tanpa Jawaban

Lebih baik jangan tanya kenapa
walau pasti ada seribu jawaban

Karena ga semua pertanyaan
harus dijawab,
Ga semua pertanyaan
butuh jawaban

Lebih baik
nikmatin yang sudah ada
yang sudah mengalir
dengan sendirinya

By wiblackaholic Posted in Poemz

Last Episode

Ternyata….

Sekali lagi,
diam itu ternyata
lebih baik
bisa membuat nyaman
dan bisa berpikir lebih jernih

Diam bersama dengan sebuah kitab
serta secangkir kopi pahit
tanpa diminta

membuat mata terbuka
dan hati bisa melihat
tanpa harus nyata

*from 1 to 3

By wiblackaholic Posted in Poemz

Janji Suci

Menunggu

Apakah itu sesuatu yang membosankan?

hemmm, bagaimana jika menunggu

suatu keindahan yang akan terjadi

menjadi suatu

janji suci

 

 

By wiblackaholic Posted in Poemz

Tujuan

Mereka bilang,
hidup itu berwarna,
kamu bisa memilih
segala macam warna yang ada

tapi terus terang aja
ku lebih memilih
hitam dan putih

biarlah yang lain

penuh dengan warna
karena pada saatnya nanti
semuanya akan kembali

pada

hitam dan putih

By wiblackaholic Posted in Poemz

Hanya Milik Nya

Bilang apa saja
semau kamu
terserah kamu…..

tapi,……
Kumohon
sekali lagi kumohon
jangan bilang aku sombong

ku sudah sering bilang..
Sombong itu hanya milik Nya

Maaf jika ada salah..

5 Maret 07

By wiblackaholic Posted in Poemz

Diganggu Setan?

Terus terang saja, saya ini termasuk orang yang ga terlalu percaya kalau ada cerita menyeramkan bahkan saya saat pernah mengalami bertemu dengan pocong yang memakai kafan hitam karena terbakar sepertinya masih rada ga percaya. Saya percayanya bahwa memang ada golongan Jin dan ada setan, tapi kalau mengganggu secara kasat mata atau menggerakan sesuatu sepertinya termasuk hal yang diluar dugaan aja.ada juga nih seperti cerita hantu dirumah teman saya, kayaknya ga masuk akal aja.
 
Nah, jadi tadi malam setelah anggota team pulang, saya pasang radminviewer maklum ada anggota team yang suka nakal ga tau waktu kalau udah main jejaring sosial dan chatting.
Saat memaasang, teman saya lain divisi masuk ruangan ngajak makan di Blok M, tapi saya malas dan mau cepet pulang sebelum bubaran bola di GBK biar ga kena macet yang main parah.
dan tinggal lah saya sendiri, ruangan saya tutup, connecting door dengan ruangan keuangan saya kunci lalu saya shalat isya didalam ruangan, tidak di mushala.
Selesai shalat saat beres-beres ada suara pintu dibuka dan ada orang berbicara dan mengetuk meja, saya berpikiran yang makan di Blok sudah kembali, lalu saya tanpa beranjak berteriak memanggil nama teman saya, dan tidak ada jawaban.
 
Saya lanjutkan beres-beres dan kali ini terdengar suara orang berbicara kembali dan suara pintu ditutup, lalu saya yang sudah siap pulang cek ke kamar mandi, pintu masih tertutup, saya buka ya kosong lah, saya coba buka connecting door tapi ga terbuka berarti masih terkunci, lalu saya matikan lampu ruangan, keluar dan menuju divisi lain yang ternyata laptopnya masih ada di meja, saya telp salah satunya dan mereka bilang masih di Blok M.
OB saya panggil dan saya tanya apakah dia turun dan mengecek semua pintu, tapi dia bilang semua pintu sudah dikunci sejak semua orang berangkat ke Blok M dan dia ga keluar lagi dari kamarnya karena menonton bola.
Dan akhirnya OB bertanya ada apa, saya bilang ada yang ngobrol dan buka tutup pintu dan saya pikir itu dia, raut muka OB langsung berubah, dan akhirnya dia cerita, minggu lalu, saat saya sudah pulang, dia akan membereskan ruangan saya dan saat sampai didepan pintu terdengar suara orang mengobrol, dia pikir anggota team saya masih ada yang bekerja dan dia mengetuk pintu, membuka dan masuk, ternyata ruangan kosong, dia langsung menutup pintu kembali dan urung membereskan ruangan, paginya sebelum subuh saat gosek toilet tiba-tiba muncul bayangan hitam tinggi besar, untung saja OB tidak pingsan, cuma melirik sekilas, dan terus menggosek lantai ditempat yang sama sambil pelan-pelan keluar.
Saya hanya tertawa dan ga mau komentar lebih banyak, ngeri malah nanti dia lebih takut. Ah ada -ada aja, saya sih berpikir apakah ini hantu pakdesumitro menyambangi saya secara langsung karena secara jarak antara Gandaria City dan Blok M ga terlalu jauh, dan juga ada teman-teman lain yang disambangi didunia multiply :))
 
*Baiklah, Selamat hari jumat, jangan lupa melaksanakan shalat jumat bagi lelaki muslim yang tidak ada uzur dan bersiap menyambut weekend, jangan lupa selama belum ada kepastian tentang “penggusuran” kapling buat blogger ga usah resah, tapi ga ada salahnya buat back up postingan teman-teman, toh ga ada ruginya karena postingan itu merupakan perjalanan yang telah terjadi multiply ini.

Semangkuk Bensin

Di group sebelah, saya dibilang sebagai pengumpul artefak, karena saya posting foto kartu bayaran saat SMP dahulu.
Ini dia kartu bayaran jaman saya SMP, Bayaran saat itu Rp 1.500,- dan biaya POMG Rp 1.500,- jadi total bayaran adalah Rp 3.000, atau sekitar $1,2 jika untuk ukuran sekarang untuk semangkuk bakso saja tidak dapat.
Ukuran itu jika dikonversi dengan biaya angkutan umum yang dibayar anak sekolah adalah Rp 300 untuk pulang pergi, jadi sekitar 10% dari biaya uang sekolah.
Nah sekarang ini bayaran sekolah sekitar Rp 300.000,- atau $32, tapi biaya angkutan adalah Rp 6000 untuk pulang pergi yang artinya hanya sekitar 2% dari biaya sekolah, atau setara dengan satu mangkuk bakso kelas kakilima.
 
Biaya bayaran sekolah saat itu adalah termasuk sekolah percontohan, mungkin sekarang RSBI, dulu namanya mendapat subsidi, tapi sekarang namanya BOS.
 
Saya memperbandingkan dengan biaya angkutan umum karena itu adalah biaya yang langsung mengikuti dampak inflasi dengan kenaikan harga BBM.
seandainya hitung-hitungannya dengan kenaikan dollar yang mencapai 4 kali lipat, dan ditambah dengan inflasi maka paling tidak biaya uang sekolah seharusnya Rp 50.000 – Rp 60.000
 
Ya pantas saja jika ngobrol dengan para tetangga, teman yang mempunyai anak usia sekolah topik pembicaraan tidak jauh dari mihilnya biaya sekolah.
jurnal ini sekedar corat-coret, mungkin ada perhitungan yang saya buat tidak sesuai… 🙂
 
Selamat Hari Pendidikan Nasional, andai Ki Hadjar Dewantara masih hidup, mungkin beliau akan sedih melihat nasib dunia pendidikan di Indonesia.