Nganufacturing Hope : Move n On

KRL itu setiap hari pasti Move On, tidak galau kalau pinjam istilahnya para anak-anak muda dijaman digital ini, jadwal yang mulai teratur dan meningkatnya kesadaran penumpang untuk membeli karcis, walau masih ada yang suka nembak tapi disitulah dinamikanya ga mungkin memang semua penumpang itu baik, ada juga yang nakal.

Hal yang menjadi perhatian saya hingga saat ini adalah para atapers, berbagai tindakan telah dilakukan dengan menyiram oli di atap gerbong, memasang palang pintu koboy dan terakhir menggunakan bola beton tapi semuanya tidak terlalu berhasil mengusir para atapers untuk masuk kedalam gerbong.

Hingga suatu saat saya bertemu dengan salah seorang penumpang kereta api saat menunggu jemputan untuk ke kantor dari stasiun Sudirman, ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi solusi yaitu :

Pertama menyediakan satu gerbong tambahan khusus para atapers dalam setiap rangkaian, jadi gerbong khusus bukan hanya untuk para wanita saja.

Kedua mengakomodir para atapers yang terbiasa dengan angin kencang dan hujan, maka ada kemungkinan gerbong khusus atapers tersebut tanpa atap dan tempat duduk, sehingga bisa duduk di lantai dengan rasa sama seperti duduk di atap, tapi abaikan saja hal ini karena akan dianggap tidak manusiawi dan menyalahi peraturan.

Agar gerbong tersebut hanya atapers yang berhak masuk, maka perlu adanya pendataan yang memang sudah ada paguyubannya dan bisa dibantu oleh krlmania, dan biasanya para atapers juga sudah saling mengenal, jadi akan lebih mudah mengawasi yang mana atapers atau non atapers dan bisa juga dibuatkan juga kartu khusus.

Banyak sekali keuntungan yang bisa diambil dengan adanya gerbong khusus ini, antara lain :

Pertama, bisa lebih menjamin keselamatan ketimbang duduk diatap

Kedua lebih tertibnya para penumpang kereta api, semuanya masuk dalam rangkaian gerbong, tidak lagi ada yang diatap.

Ketiga, pihak keluarga juga merasa lebih tenang, karena resiko dag dig dug akibat kecelakaan dapat diminimalisir

Keempat, Bisa dilakukan kerjasama dengan para vendor, ga usah jauh-jauh cari vendornya bias saja dari para pedagang yang berada disekitar stasiun, tentunya pedagang resmi yang terdaftar, jadi para pemegang kartu khusus gerbong atapers ini bisa mendapatkan potongan harga saat akan membeli segelas kopi dan sepotong roti.

Saya yakin hal ini mungkin terlaksana jika ada komitmen yang kuat antara pihak KAI, atapers, krlmania dan vendor untuk mendukung hal ini, tidak perlu impor gerbong mahal tapi bisa mempergunakan gerbong yang ada dengan sedikit modifikasi seperti yang dilakukan pada crane ayu azhari dan tentu saja harganya lebih murah, mungkin inilah cara lain agar para atapers move on dan bangga memiliki gerbong ayu azhari sendiri, dan lambat laun dengan adanya hal seperti ini bisa memicu perubahan kearah yang lebih baik, karena rasa saling memiliki yang tinggi dan suasana guyub yang telah terbangun sebelumnya.

Lain waktu saya juga melakukan perjalanan kereta api dari Jakarta kota ke Bogor, kembali ke Tanah Abang lalu menuju Rangkasbitung, senang melihatnya para pedagang di stasiun sudah tidak seperti dahulu, yang menggelar lapaknya sehingga menyita tempat bagi penumpang, pedagang yang memiliki kios juga lebih tertata dengan rapih, tentu hal tersebut terjadi tidak semudah membalik telapak tangan, butuh proses dan waktu. Dalam perjalanan kali itu, saya sengaja mengajak teman yang saya kebetulan bertemu di stasiun Sudirman waktu lalu dan kami berbicara tentang atapers, kali ini dalam perjalanan kami melanjutkan diskusi kembali, bahwa para pedagang yang telah teratur dengan rapi itu jika dilakukan sinergi dengan para penumpang maka akan membawa tingkat perekonomian yang lebih tinggi bagi para pedagang tersebut.

Didalam kereta menuju kembali dari Rangkasbitung, banyak pedagang yang membawa barang dagangannya untuk kemudian turun di stasiun Palmerah atau Tanah Abang untuk berjualan. Jika para pedagang hasil bumi membawa barang dagangan pada hari biasa tentu saja berdesakan dengan penumpang biasa agar penumpang lebih nyaman, idenya sih masih sama dengan gerbong khusus atapers, paling tidak dilakukan penambahan satu atau dua gerbong khusus untuk para pedagang yang membawa barang dagangannya, hal lain yang terpikir adalah setiap satu minggu sekali para pedagang yang berlangganan dipersilakan untuk berjualan di tempat yang telah disediakan pihak KAI, misal di pelataran parker, model pasar kaget atau pasar dadakan, jadi misalkan pedagang jambu dari rangkas tidak perlu datang ke Pasar Palmerah, tapi bisa berhenti di Stasiun Rawabuntu untuk menggelar lapaknya, selain itu juga bisa menggandeng para pengamen untuk mengisi acara pada pasar kaget tersebut, dan bisa saja dilaksanakan festival pengamen di kereta api, yang kualitasnya ga kalah dengan Sean, Yoda, Regina dan Dion.

Jadwal berjualan pasar kaget ala KAI dan pedagang pengguna kereta api ini bisa dilakukan secara teratur dan diberikan pemberitahuan pada setiap stasiun, pada awalnya mungkin hanya sedikit pedagang dan pengunjung, tapi seperti sebelumnya saya katakan, semua itu butuh proses, bisa saja dengan adanya kegiatan ini, keuntungan yang diperoleh bukan hanya bagi para pedagang, tapi juga bagi para pegawai KAI yang mengurusi hal ini secara tidak langsung juga terbantu perekonomiannya tanpa harus melakukan pungutan liar, Efek dari dua hal tersebut diatas saja jika dilaksanakan akan berpengaruh terhadap aspek lainnya, penumpang lebih tertib, suasana kereta lebih nyaman tidak bercampur dan berdesakan antara barang pedagang dengan penumpang umum, bahkan citra KAI bisa terangkat, seperti sinyal terangkat saat kereta akan melintas.

Semua itu memang awalnya butuh modal, tapi saya yakin KAI bisa bekerjasama dan mencari pihak-pihak yang dapat membantu, malu ah sama menteri BUMN jika menggandeng pihak swasta sebagai sponsor tidak bisa.

Tapi sekali lagi itu semua butuh komitmen, sinergi, biarpun akan terjadi sepuluh atau duapuluh tahun kedepan itu kan namanya juga proses :).

*dibikin dalam rangka partisipasi untuk KRL yang lebih baik http://agamfat.multiply.com/journal/item/280/Nganufacturing-Hope-Ayu-Azhari-di-KRL 😀

**pengguna comm-line tiap akhir pekan saja 🙂

 

Advertisements

22 comments on “Nganufacturing Hope : Move n On

  1. Hehehe mantabs om Wib.Ini versi lengkap tulisannya:Nganufacturing Hope: Ayu Azhari di KRLBeruntunglah vokalis rock Mike Tramp, yang istrinya Ayu Azhari, selaluterawat, siap senyum dan melayani keluarga, meski usia terus beranjaknaik.Begitu juga yang saya tangkap dari hasil ngobrol dengan admin twitter@krlmania, Nurcahyo. Tahun lalu twitter saya dihujani oleh berbagaikeluhan pengguna KRL Jabodetabek. Mulai dari sinyal, wesel, petir,pantograf. Sampai saya jadi hapal plesetan “iwak peyek sego empal.Sampe tuwek gangguan sinyal”.Tapi itu dulu, it was soooo yesterday, kata anak muda. Sekarangplesetennya berubah: “iwak peyek sego bayem, sampe tuwek krl tetepadem”.Memang dalam setahun terakhir, penegelolaan KRL Jabodetabek berubahdrastis. Saya dulu menantang ke Dirut KAI Jonan, anak muda bersemangatdari Surabaya, untuk menuntaskan masalah atapers. Tadinya saya bingungapa ini atapers, kemudian jadi ketawa ketika mendengar artinya, sampaisaya juga ingin naik ke atap, merasakan jadi atapers, kenapa ya merekakok suka di atas? Apa lebih adem? Nggak juga, malah kena sinarmatahari. Kalau gitu pakai sunblock dong.Nah, Pak Jonan minta waktu 3 bulan sejak awal 2011. Dan berkat kerjakeras jajarannya, pelayanan KRL jadi lebih manusiawi, atapers punhilang.Satu masalah terselesaikan, masalah lain datang bagaikan petir disiangbolong (no pun intended): sinyal yang rentan oleh sambaran petir.Depok-Bogor memang terkenal petirnya, makanya jalur ini rawan sekali.Karena saat itu saya banyak berkenalan dengan Gundala Putra Petir,dalam rangka mobil listrik nasional, maka saya konsultasi kepadaGundala Pertama, putra Minang yang bekerja di Jepang. Jawabannyasungguh menyejukkan. Katanya, “Masalah petir ini jangan dijadikanbeban. Ubah beban jadi kesempatan, Pak. Bagaimana kalau kita bikinalat penangkal petir yang sekaligus menabung listrik. Jadi KRLberkurang tagihannya ke PLN.” Ya tentu sebagai mantan PLN, saya senangsekali. Listrik PLN bisa dijual ke tempat lain.Maka pada bulan Mei kemarin, saya mengumpulkan puluhan orang, dariakademisi putra petir, pakar sinyal dan instrumentasi dari BUMN, tentumanajemen KAI dan dari Ditjen KA. Pertemuan tersebut memberikan sinyalyang bagus (sekali lagi, tanpa bermaksud plesetan) bahwa masalahsinyal ini cepat ditangani. Apalagi di jajaran direksi KAI ada orangTelco, juga VP Sinyal dan Wesel.Selain itu, juga didiskusikan masalah wesel. Kita memang tahunya weselsaat ini sudah tidak laku di kantor pos. Wesel yang ada di rel iniberbeda, meski sama-sama kalau bermasalah karena sinyal terlambat (nopun intended lagi ya), protes beterbangan, bahkan pernah batu ikutterbang.Karena itulah soal sinyal dan wesel ini sangat serius, danpenanganannya memang sangat serius.Lantas apa kaitannya dengan Ayu Azhari? Ayu Azhari dalam usianya yangkeberapa ini, yang pasti tidak muda lagi, masih sangat terawat. Entahramuan apa yang dipakai, yang pasti pemeliharaan sinyal dan wesel inimemerlukan kecermatan dan ketelatenan seperti layaknya Ayu Azharimerawat mukanya. Sinyal dan wesel sebenarnya adalah wajah dariperkeretaapian kita: dulu compang camping, tak terawat, seperti halnyamuka yang jarang disentuh facial. Tapi berkat tangan dingin kapster,eh jajaran perkeretaapian, baik dari Pak Tundjung Inderawan di DitjenKA dan Pak Jonan, maka dari nenek sihir, berhasil berubah menjadisemulus Ayu Azhari.Mari kita berteriak, YEAHHHHHH, seperti Mike Tramp ketika berduetdengan Ayu Azhari sambil menyanyikan “Till Death Do Us Apart”,mengenai kesetiaan pasangan. Semoga duet Tundjung dan Jonan ini jugaterus saling setia “till death do us apart”.Dirgahayu perkeretaapian kita!TtdDISkualifikasi

  2. Wib, atas usul Trie, maka ketentuan diubah, boleh dipublikasina di blog, kultwit, dsb. Yg penting penulis menyamar jadi Dahlan Iskan dan tetap dg gaya tulisan Dis

  3. kalau diliat dari konstelasi ekonomi-politik-global, sy yakin para pejabat KAI itu bukannya ga ada ide buat memperbaiki kondisi kereta di Indonesia, tp tekanan dan perbenturan berbagai kepentingan yg membuat banyak keputusan masuk akal terpaksa tdk terlaksana. Bayangkan berapa banyak kerugian yg dialami industri mobil dan motor (yg sbgn besar dikuasai asing), kalai kereta di Indonesia sangat nyaman… Ketika pemerintah terus-menerus terkooptasi sama asing, ya beginilah situasinya, di hampir segala lini, bukan cuma kereta aja..:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s