Bukan Sekedar Survey

Kalau ngomong tentang riset pemasaran kadang orang masih bingung itu apaan sih? kesannya njelimet karena ada kata “riset”.
Kalau menurut definisi resmi dari AMA-America Marketing Association

“Marketing research is the function that links the consumer, customer, and public to the marketer through information–information used to identify and define marketing opportunities and problems; generate, refine, and evaluate marketing actions; monitor marketing performance; and improve understanding of marketing as a process. Marketing research specifies the information required to address these issues, designs the method for collecting information, manages and implements the data collection process, analyzes the results, and communicates the findings and their implications.”

“fungsi yang menghubungkan konsumen, pelanggan dan masyarakat umum dengan pemasar melalui informasi. Informasi ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan peluang dan masalah pemasaran; merumuskan, menyempurnakan dan mengevaluasi tindakan-tindakan pemasaran; memantau kinerja pemasaran; dan menyempurnakan pemahaman yang dapat membuat aktivitas pemasaran lebih efektif. Riset pemasaran menentukan informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan tersebut; merancang metode untuk pengumpulan informasi; mengelola dan mengimplementasikan proses pengumpulan data; menganalisis hasil-hasil yang diperoleh; dan mengkomunikasikan hasil temuan dan implikasinya”.

masih njelimet? iya memang.. Untuk gampangnya sih itu semua dikerjakan didapur orang riset, kecuali hal yang berhubungan dengan pengumpulan informasi data, baik primer maupun sekunder. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan cara interviewing, dengan wawancara langsung (Face to Face) , Telepon (CATI) ,  Surel atau Survey berbasiskan Web.
Sedangkan data sekunder bisa mendapatkan data dari jurnal-jurnal ilmiah, internet, buku ataupun majalah.

Dari semua cara pengambilan data yang paling dikenal masyarakat umum adalah survey, sedangkan pengambilan datanya dengan cara wawancara langsung (face to face).  (nantilah lebih lanjut akan dibuat dalam jurnal lain).

Pekerjaan (survey) mencari data kadang bisa dibelokan oleh orang lain untuk“menjebak”, terus terang saja saya pernah terjebak, awalnya saya dihubungi oleh seorang teman dan ngobrol-ngobrol tentang Survey, sampai akhirnya saya diminta buat bantu mengisi data, katanya dia sedang melakukan survey tentang kesehatan, okelah saya bantu.
Dikeluarkan sebuah kertas (seperti kuesioner) ditanya nama, alamat, usia, terus tentang rumah sakit, kalau berobat kemana, cara melakukan pembayaran dan saya mulai curiga saat pertanyaan menjurus ke penyakit yang pernah dialami. Sangat detil sekali, selama saya menjalankan riset pasar tentang kesehatan atau rumah sakit tidak pernah sampai sejauh itu, dan akhirnya saya diprospek untuk mengikuti asuransi kesehatan, saya katakan sudah mempunya asuransi kesehatan tapi tetap saja teman saya keukeuh untuk presentasi.

Oh my…… satu jam lebih waktu saya tersita karena tidak diberitahu tujuan yang sebenarnya. Jika dari awal diberitahu bahwa akan diprospek untuk asuransi kesehatan tentu saja saya tidak datang wong saya sudah punya, tapi karena saya memang bekerja dibidang survey, ya terus terang ada ketertarikan akan hal tersebut.

Tapi memang sejak saat itu kalau ada yang ngajak ngobrol dan mau survey, saya tanya dulu apakah ini mau jualan atau buat dijadiin prospek asuransi :)

Pakai Test Pack Tanpa (lupa) Kondom

Test Pack… Jika ini termasuk pertanyaan untuk riset pemasaran, dan responden diminta untuk memberikan persepsi atas test pack, Brand asosiasinya saya yakin bakal sedikit melenceng, jawaban paling banyak biasanya “hamil” “alat test kehamilan” “ga pakai kondom” dan  “hahahaha alias tertawa”.
Hal ini pernah saya lakukan saat melakukan riset pasar tentang kondom, memang sedikit repot untuk menghadapi responden yang menganggap hal tersebut tabu, bahkan bisa-bisa diceramahi balik oleh responden agar tidak menggunakan kondom saat berhubungan intim (dengan pasangan sah tentu saja) karena itu melanggar syariat.
 
Tapi jika bertemu dengan responden yang tingkat pengetahuan dan “keterbukaannya” sangat tinggi, yang ada malah sampai terbengong-bengong tentang penjelasannya, tanpa diminta akan mengalir semua merek kondom yang pernah digunakan, perbedaannya,  kelebihan dan kekurangan serta tempat memperolehnya, bahkan jenis-jenisnya mampu diterangkan dengan sangat detil, mulai dari tekstur hingga rasa.
Yang ada saat melakukan wawancara seperti langsung buka buku panduan, dan jawaban responden melebihi apa yang dalam buku panduan.
 
Seperti dua sisi uang logam, kondom dan test pack itu bisa saling berhubungan, saat ada yang lupa yang menggunakan kondom dan datang bulan yang telat bagi wanita, test pack adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan utama yaitu mengecek sebuah atau dua buah garis.
Hasil akhir bisa tergantung dari komitmen awal. Untuk yang sudah komitmen secara sah menurut hukum, bisa saja “Alhamdulillah ada dua garis” tapi bisa juga seperti yang terjadi pada film test pack yang reviewnya bisa dilihat dijurnal Agung yang ini.
Untuk yang belum berkomitmen secara sah menurut hukum, bisa juga kalimat yang muncul seperti ini “Alhamdulillah Ga Ada garisnya” diucapkan dengan nada sumringah seakan beban berat telah terlepas.
Ah sudahlah… semua itu tergantung mau lihat dari sudut pandang mana.
 
Eh iya, film Jomblo itu dulu Novelnya Adhitya Mulya juga ya kayak Test Pack yang sekarang… ada yang tau masih ada dijual ga kedua novel tersebut? jadi penasaran…
 
Selamat hari Selasa dan selamat bekerja kembali…. 
By wiblackaholic Posted in Absurd