Surat untuk Kekey

Surat dari Kekey
1 Januari 2006,

Pagi yang cerah, aku masih senyum-senyum sendiri ingat semalam.
Sungguh, baru kali ini aku bertahun baru bersama kamu, padahal kita bertetangga udah lama sekali ya,
tapi kita emang jarang banget berkomunikasi.
Secara sekolah kita memang dari ktecil yang beda, teman-teman pergaulan kita juga berbeda..
Tapi sungguh, tadi malam adalah hal yang paling menakjuban
selama perayaan pergantian tahun yang pernah aku alami.

Kamu tahu ga sih, kamu tuh kalem banget, aku sampai beranggapan bahwa kamu itu klamar-klemer, senyum-senyum..
tapi ternyata dibalik itu semua kamu sangat perhatian, kamu ga perhitungan dalam berteman dengan aku.
Disaat yang lain menjauh, kamu tanpa takut-takut bermain dengan diriku..
disaat sepertinya Tuhan menjatuhkan hukuman kepadaku, kamu malah menyarankan aku agar rajin ke Gereja…
Disaat aku sering mengeluh, kamu malah bersyukur bisa berteman dengan aku.
Aku ga ngerti dengan pola pikir kamu. Aneh, ajaib sekaligus unik.

2 Januari 2005
Kamu tahu kan, itu tanggal pertama kali kamu datang, kamu sambil nyengir2 ga jelas gitu, eh ternyata kita malah asyik diskusi tentang kerjaan kita masing, sampai saling ledek tentang masa kecil…
hampir setiap hari kita saling mengejek melalui sms, Kamu tuh ternyata gila juga, selain kerjaan kamu yang suka klalang kliling keluar kota, kamu masih aja bisa ngeledek orang, bahkan kalau dirumah, ada aja yang kamu kerjain..

11 Juni 2005
Kamu ingat kan, hari sabtu itu kamu aku ajak datang kerumah, aku bilang mau undang kamu makan malam, kamu awalnya ngerasa aneh gitu, tapi akhirnya kamu bersedia datang juga apalgi pas aku bilang mau masak.
Kamu malah tertawa lepas, kamu emang bener2 ngeledek aku, karena kamu tahu aku ga bisa masak.
Akhirnya kamu datang juga, malah sebelum jam yang kita sepakati, kamu malah membantu masak dan kamu mengambil alih semuanya,
huuuh ternyata aku baru tahu kalau kamu diam-diam pintar memasak, kan aku jadi malu, aku yang mengundang kamu makan malam tapi malah kamu yang memasak untuk kita.

Setelah makan malam itu, aku sebenernya ragu untuk berterus terang kepadamu, tapi aku ingat kamu pernah bilang daripada disimpan dan membawa beban pikiran jika aad sesuatu baik itu nanti akibatnya baik atau buruk, lebih baik disampaikan.
Akupun dengan menguatkan hati mencoba untuk menceritakannya kepadamu..Cerita semua itu bearawal dari masa SMA ku,

Juli 1998,
dimana aku pertama kali aku memakai seragam abu-abu, dengan pita merah putih awal dari ospek, ternyata yang aku menikmatinya.
Disana pertamakali aku mengenal arti kata cinta dari seorang pria yang menjadi pujaan seluruh sekolah,
ganteng, ketua Osis sekaligus pandai dalam basket. (standart banget ya seleraku)
Aku menikmati itu semua, menikmati masa sma, masa penuh keceriaan dan canda tawa sekaligus masa mengenal cinta.
Hingga akhirnya 3 tahun berlalu sudah, dan perpisahan akan menjelang.
Meraih harapan yang lebih tinggi.

Setelah pulang perpisahan itu, aku terlena,
aku dimabukan oleh kata-kata indah dan kenikmatan kyang baru pertamakali aku rasakan, membuat tubuhku bergetar hingga menghilangkan semua rasio, yang ada hanyalah naluri alamiah antara pria dan wanita tanpa akal sehat..
Dia yang pertamakali mengenalkanku pada kalimat cinta, memberiku kenikmatan sekaligus dosa.
Tangisku sudah tidak ada artinya, yang penting sekarang kita saling berjanji untuk menjaga satu sama lain, saling menyayangi.

“aku melihat kamu, melihat apa reaksi kamu, ternyata kamu tetap diam mendengarkan, tidak berkata apapun,
aku menghela nafas dan meneruskan cerituku diselingi isak tangis”

Aku dan pacarku berpisah, tetapi hanya tempat kuliah yang berbeda, karena pada kenyataannya hampir setiap hari kita selalu bersama, selalu mereguk kenikmatan dan dosa bersamaan.
Hingga akhirnya kondisi badanku mulai tidak fit…aku sering demam, sakit kepala, sakit tenggorok, pegal-pegal di badan, dan sering merasa cepat capai.

November 2004
Aku khawatir, akhirnya aku memeriksakan diri ke Dokter, darahku diambil sebagai sampel,
Setelah hasil lab keluar, aku diberitahu oleh Dokter, bahwa aku positif terkan HIV-1, aku terkena AIDs!
Dunia sekana kiamat.. aku ga ngerti harus bagaimana,
aku akhirnya berbicara dengan pacarku yang ternyata setelah dia pun positif terkena AIDS, dia menghilang, meninggalkanku, meninggalkan derita yang harus kutanggung sendiri.

Teman-temanku mulai menjauh, hanya keluargaku yang memberi semangat kepadaku.
Aku pernah masuk panti, tetapi aku tidak betah, aku lebih baik dirumah saja, sambil minum obat yang hanya untuk menanggulangi rasa sakit.Hingga akhirnya aku bertemu kamu Tetanggaku sekaligus teman kecilku, kamu selalu memberi aku semangat,
kamu mengajak aku jalan -menikmati hidup- itu katamu, kamu banyak membuka wawasanku…
Ternyata, disela-sela kesibukanmu, kamu juga mempunyai anak-anak asuh, setiap kamu mengunjungi mereka, kamu selalu mengajak aku.
Ternyata, walau bagaimanapun aku masih lebih beruntung dibanding orang lain.
Aku baru tahu, secara ga langsung kamu mengajarkan padaku bahwa aku harus terus bersyukur atas apa yang telah aku dapatkan.
Bahkan kamu setiap minggu pagi selalu mengedor pintu kamarku, membangunkanku
serta mengantarkanku untuk pergi ke Gereja, padahal aku kadang2 terlupa mengingatkanmu untuk shalat….

Awal Desember 2005,
Kamu mulai sibuk dengan pekerjaanmu, tutup tahun seperti yang kamu bilang, kita hanya lebih sering berkomunikasi via telepon.
Tetapi kamu tetap selalu meledeku, menghiburku, aku seperti kehilangan sesuatu jka tidak ada kabar darimu.
Dilain pihak, kondisi tubuhku makin lemah, aku terkadang malas untuk minum obat,
kalau ada kamu, pasti kamu menjewer aku, bahkan kalau aku lagi ga mau makan, kamu malah mengambil makanan
dan sengaja makan didepanku, dan sesekali kamu menyuapkan makanan kepadaku.
kamu tidak merasa jijik untuk makan dari piring yang sama denganku, minum dari gelas yang sama denganku.

31 Desember 2005
Kamu hari ini tidak memberi kabar samasekali, aku telp tidak diangkat, aku sms tidak dibalas.. padahal aku kangen kamu sahabat.
Ya,… Sahabat.. karena kamu begitu tulus berteman denganku tanpa pamrih, tidak pernah mengeluh, dan slalu memberiku semangat.

Ternyata kamu malam itu pulang, dan kita merayakan pergantian tahun di kamarku, kareena kondisiku yang tidak memungkinkan untuk bepergian, aku begitu lelah. Kita makan malam bersama, sambil bercerita, kamu menyuapiku,
terkadang aku tersedak, karena ceritamu begitu konyol…
Kamu ingat kan ketika aku minta satu permohonan pada Tuhan, Agar jika aku meninggal nanti, aku hanya mau ditemani oleh kamu,
aku mau usiaku sehari lebih awal untuk menghadap Tuhan,agar aku bisa melihat senyum mu yang terakhir,
agar aku bisa merasa nyaman di temani kamu ke tempat baru…

Aku merasa waktu ku sudah tidak lama lagi…… aku ingin kamu baca suratku ini setelah aku tiada,
agar kamu tahu begitu berartinya kamu sebagai sahabatku dan aku berterimakasih atas semuanya yang telah kamu berikan ….

Luv,
Kekey
TPU Pondok Kelapa, 8 Januari 2006
Gundukan tanah itu masih merah, semerah semburat awan senja.
Kekey telah berpulang, dengan senyum yang manis tadi malam
Surat ini diberikan oleh bibi pembantu setelah pemakaman
Selamat jalan Kekey, Selamat jalan sahabat,
semoga kamu akan menemukan sahabat-sahabat lain disana…..

===========================================================

9 Januari 2010

Dua pucuk surat terjatuh dari agendamu saat aku membukanya , satu sebuah surat dari gadis bernama kekey dan satu darimu untuk gadis tersebut.

Surat untuk Kekey
8 Januari 2010

Halo key, apa kabarmu disana? sudah 4 tahun lewat kamu berada disana, seru ga? ada teman kayak aku ga?
eh iya, maaf ya baru setelah 4 tahun aku bisa datang kesini lagi.

Key, banyak sekali yang ingin aku ceritakan padamu, selama empat tahun terakhir aku sudah tidak menetap di Jakarta,
aku berkeliling kota-kota diwilayah Sumatera, bahkan aku sampai juga ke kota asalmu.
Eh iya, Peci yang kamu belikan saat 5 tahun lalu masih ada, udah ada yang robek, tapi tetap aku pakai untuk Shalat lho.

Aku kesini hanya untuk menjengukmu dan sekaligus berpamitan juga akan menceritakan sebuah kabar gembira,
bulan maret aku akan menikah, dia seorang gadis yang manis, tapi tetap lebih manis kamu sih. 😀
Moga perjalanan kami untuk menikah lancar ya Key…
dan semoga dirimu disana berbahagia dengan teman-teman baru.

Eh, aku mau pulang dulu ya, aku kesini cuma mampir dan ingin memberitahu kamu kalau aku telah pesan cincin nikah sesuai dengan desain yang kamu pilihkan dahulu.
ini aku bawain mawar putih buat kamu, mawar kesayanganmu sebagai tanda persahabatan.

Luv
Wen
TPU Pondok Kelapa 9 Januari 2010
Airmataku tak henti-henti mengalir, agenda yang masih ada bercak darahmu diberikan oleh pengurus makam
yang menjadi saksi saat kamu keluar dari pemakaman dan sebuah mobil menyambar dan membuatmu terlempar hingga jauh,
bapak tersebut juga bercerita kalau setiap tahun kamu selalu menelpon dan meminta tolong bapak penjaga makam untuk membelikan bunga mawar dan ditaruh dimakam kekey.

Sayangku, moga persahabatan kalian abadi dialam sana..

Advertisements

23 comments on “Surat untuk Kekey

  1. hiiikkkssss…
    om wiiibbb… raya minta maaf, tadi komennya slengean d twitter,, belom baca sampe end soalnya,,hikkksss..

    kisahnya menyentuh banget deh..
    sahabat,,,
    seburuk apapun kita, mereka selalu ada..
    bahkan..
    hingga diujung hidup..

  2. Sering-sering menulis dan bergaul dengan buku dan kamus, kakak Wib. Jadi nanti tangan, pikiran, dan perasaan Mas Wib akan ikut membantu menyeleksi kata Mas Wib sendiri. 🙂 Teruskan dan tetap semangat berkarya! 🙂

  3. kisah ceritanya ngena…begitu selesai baca kok merasa seperti melegakan nafas…..di endingnya menarik, persahabatan sampai kapanpun…

      • biasanya sih si penulis itu akan menggabungkan antara kisah nyata dan rekaan entah itu kisah nyata pribadi atau kisah nyata orang lain yg curhat sama si penulis, aku biasanya begitu kalau menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s