Mari Menyusu-i

Sebenarnya banyak juga hal positif dari berteman dengan para wanita, gue ngalamin sendiri hal tersebut. bahkan gue ikutan group WA yang isinya emak-emak semua, obrolannya bervariasi mulai dari anak, pekerjaan hingga investasi yang dijalankan. Walau emang ga selamanya gue ikutin topik yang diobrolin karena mengerjakan hal lain.
Salah satu hal yang gue dapat manfaatnya waktu istri lagi hamil, bisa tanya tentang kehamilan mulai dari hal sepele kayak morning sick, pendarahan saat hamil, proses melahirkan, keadaan bayi pasca dilahirkan hingga pemberian Asi.

Alhamdulillah kalau gue cerewet tanya, banyak yang kasih tahu, bahkan saat istri hamil ada juga yang rajin memberi info tentang Laktasi, dan acara yang diadakan oleh AIMI, jadi gue terbantu dengan hal tersebut. Seenggaknya gwe ikut dua kali acaranya prenatal dan postnatal ttg ASI.

Memang sejak awal, gwe ama istri pengen kita memberikan ASI buat bayi kita, sebisa mungkin dijauhkan dari sufor, nah saat lahir ternyata harus SC, padahal kita inginnya normal, namun keadaan tidak memungkinkan, detak jantung bayi diatas 170 dan ketuban sudah hijau, akhirnya dipilihlah jalan tersebut.

Setelah operasi, ketemu dengan bidan yang menangani dan ditanya apakah ingin ASI eksklusif atau diberikan Sufor karena kondisi istri yang belum bisa menyusui, setelah tanda tangan menyetujui pemberian ASI Ekslusif, dan tentu saja sebelumnya mengumpulkan info dari berbagai macam sumber, kesimpulannya satu, bayi masih kuat bertahan dalam 24-36 jam jika ibunya belum bisa menyusui setelah SC.
Jadi dalam jangka waktu tersebut gue ama istri berusaha agar bayi bisa dapat kolostrum, dan alhamdulillah berhasil. setelah itu bayi ditaruh dalam satu ruangan dengan ibunya.

Satu hal udah terlewati, muncul lagi hal lain.. ASInya susah keluar, akhirnya buka lagi contekan saat ikut acaranya AIMI, dan tanya lagi ke emak-emak di group WA.
Setelah mengetahui hal tersebut, tantangan terbesar adalah dari orang terdekat dari keluarga sendiri yang ga tega melihat bayi menangis terus dan melihat bayi lain dalam ruangan khusus pada anteng tidur karena udah kenyang diberi sufor. Terus terang hal ini membuat istri rada frustrasi, tapi kakak dan adek gwe plus emak-emak di group pada support agar gue ga turut down, karena bisa bikin kondisi istri makin drop dan berakibat ASInya malah ga keluar sama sekali.
Kalau gue sih emang udah istiqomah ga mau ngasih sufor, jadi gue tutup kuping untuk permintaan tersebut, bahkan sampai dibilang tega, tapi ya gue keukeuh untuk hal ini, pegangan gue cuma satu yaitu [QS al-Baqoroh : 233] gue yakin ALLAH mengatur yang terbaik untuk umatnya termasuk untuk bayi.
Memang yang paling penting itu aspek psikologis, setelah istri tenang dan nyaman, alhamdulillah ASI yang keluar banyak bahkan kalau nenen -si bayi yang kami beri nama Fildzah- lama sekali, walau memang pola menyusunya sedikit sedikit, tidak seperti bayi lain yang langsung tancap gas kalo udah disumpal PD ibunya.
Semoga kami tetap istiqomah untuk memberikan ASI bagi Fildzah.

#Semua anak lahir dalam keadaan suci, orangtuanyalah yang memilih untuk memberikan ASI atau Susu Sapi.

Advertisements