Asuransi, BPJS & RS

hospital

Saat ini gue ama tim lagi ngejalanin riset tentang kesehatan, nah ada satu temuan yang menurut gue menarik dari para pengguna rumah sakit.
Kalau pengguna RS Swasta biasanya ga terlalu pusing akan masalah biaya karena dicover asuransi kesehatan baik itu dari tempat bekerja atau asuransi mandiri.
keluhan yang keluar sih kadang ga dicover semuanya ama asuransi, itu biasanya yang pake sistem reimburse.
Sedangkan pengguna RS Pemerintah sekitar 70% bilang udah ga ngeluarin biaya lagi karena menggunakan BPJS.
Kalo dulu saat ditanya rata-rata kisaran biaya yang dikeluarkan saat berkunjung ke rumah sakit, jawabannya muncul dalam range Rp. 200.000 – Rp 1.000.000, kecuali ada kasus tertentu yang bisa habisin biaya lebih dari Satu Jeti. Jadi ada perpindahan kebiasaan

Tapi keluhan yang hampir seragam muncul saat menggunakan BPJS ini,
– Antrinya lama
mulai dari antri pendaftaran hingga antri untuk ketemu dokter, bahkan untuk operasi yang ga gawat n masih dalam kategori bisa menunggu, harus masuk jadwal dulu mulai 1-3 bulan.
– Pelayanannya ga bagus
Perawat/suster yang jutek sampe dokter yang ga ramah, ya bisa dibayangin sih, beban kerja bertambah, karena jumlah pasien yang meningkat, belum lagi kalo pasiennya marah-marah, jadi sikap terbaik adalah jutek :p
– Informasi kurang jelas
biaya yang dicover bpjs kurang dijelaskan secara detil, jadi banyak yang kaget ketika harus membayar lagi, setahu mereka gratis abis.
– Sistem yang kurang mendukung
maksudnya setelah dari faskes tk I, trus dapat rujukan untuk ke RS, nah kalo sakit ga dalam perawatan, saat kembali lagi ke RS harus ke faskes tk I lagi untuk ambil rujukan.

4 Hal itu yang sering dikeluhkan diceritakan responden, dan sebagian besar peserta BPJS ga peduli karena memang butuh.

Kalau dari RS swasta, hal yang menjadi perhatian adalah layanan pelanggannya khususnya dari dokter, kalo dokternya ga komunikatif, mereka ganti dokter, beda dengan peserta BPJS, mereka tetap terima hal tersebut.

Satu harapan yang sama dari para responden baik di RS Pemerintah dan Swasta, mayoritas menginginkan kualitas layanan pelanggan yang bagus.
Dan ga terlalu jauh beda dengan hasil riset tahun lalu, informasi untuk rumah sakit atau dokter yang berkualitas bagus lebih sering dipercaya responden kalau mendengar dari teman,kerabat, keluarga dibanding media lain.

Tapi dari semua itu hal yang terpenting adalah tetap menjaga kesehatan daripada mengobati… 🙂

[Melon] Dibenci sekaligus disukai

Elpiji-3KG_261x168

Sumber gambar : pertamina.com

Masih ada ga yang masak untuk keperluan rumah tangga pakai minyak tanah atau kayu bakar di Jakarta? kemungkinannya kecil kali ya, kebanyakan udah pakai elpiji, minimal yang ukuran 3kg.
Kalo ga salah harganya sekarang sekitar Rp 18.000-19.000, dulu waktu awal keluar harganya sekitar Rp 12.750 dibuletin jadi Rp 13.000.
Kilas balik, dulu ini program yang diajukan oleh JK, gue sempat terlibat dalam pilot projectnya didaerah Jakarta Pusat. Pihak warga yang berhak menerima ada kriterianya kalo ga salah inget:

– Pengguna minyak tanah / kayu bakar
– Mempunyai pengeluaran perbulannya < Rp 1.000.000 – < Rp 1.250.000

Waktu awal keluar banyak penolakan dari warga dan dari pihak pangkalan serta agen minyak tanah.
Alasan dari pihak agen dan pangkalan minyak tanah tentu saja marginnya tergerus, karena untung dari 1 tabung 3kg relatif kecil, tapi tentu saja penolakan ini ga digubris Pertamina, simpel aja jawabannya, “you masih mau usaha , you jalanin, you ga mau gpp, toh harga minyak tanah ga akan disubsidi”. Banyak juga akhirnya ngejalanin dengan terpaksa dan akhirnya bahagia 😀
Ngejalanin program ini dilakukan secara bertahap, mulai dari Jakarta hingga luar Jawa.
Alasan penolakan dari warga karena harganya lebih mahal dari minyak tanah, belum terbiasa menggunakan kompor gas, takut terjadi kebakaran, takut tabung meledak. Saat pembagian tabung 3kg beserta kompor gasnya, banyak yang ga mau terima, bahkan jika diterima langsung dijual lagi kalau ga salah pasaran saat itu tahun 2006-2007, tabung 3kg dijual Rp 50.000, kalau sepaket dengan kompor gas dan regulatornya sekitar Rp 100.000.

Ternyata ada lho pihak yang bisa membaca hal ini sebagai peluang, jadi ada pihak yang bergerilya mencari warga yang ingin menjual tabung melonnya, dan akhirnya hasil pembelian tabung tersebut dijadikan sebagai usaha mendirikan pangkalan. Lama kelamaan, setelah banyak yang pakai, akhirnya pihak horang kayah yang seharusnya ga berhak menerima, malah jadi pihak yang paling aktif jadi kompor kalo keinginannya ditolak karena ga sesuai ketentuan, padahal udah punya tabung 12kg dan kompor gas, sampai rela ngumpetin dikamar mandi dan minjem kompor minyak tanah jelek punya tetangganya untuk ditaruh diatas meja dapurnya, bayangin aja, mobil ada di garasi, dapur kinclong dengan kitchen set, eh pakai kompor buluk. Ada juga yang arogan minta jatah reman karena pekerjaannya sebagai aparat RW, karena ga dapat, akhirnya melarang pembagian tabung 3kg diwilayahnya, ada juga yang dalam 1 kompleks minta semuanya dibagiin ga peduli itu horang kayah atau orang ga punya.
Disini saya merasa sedih kok tinggal dikomplek bagus, tapi mentalnya pengemis 😀
dan ternyata hampir ditiap kota hal tersebut dijumpai.

Hal paling seru saat didaerah rural/pedesaan terutama diluar jawa, diujung pulau Sumatera, saat dibagikan mereka terima, walau ada juga yang takut, terus disimpan dikandang ayam atau kandang kambing, gue taunya juga pas diajak muter untuk cek hasil kerjaan salah satu perusahaan yang di sub-kan salah satu Persero. Kasihan lho kambingnya sampai minggir-minggir gitu, tapi kalo ayam sih cuek aja, malah dijadiin tempat nongkrongnya.
Ada juga yang tabungnya dicat, ini bukan oleh hanya 1 warga, tapi beberapa warga dalam 1 wilayah, ada yang diberi inisial, diberi nomor, jadi pengertiannya kalo diisi ulang ya akan pakai tabung itu lagi, model air isi ulang gitu, galonnya ya galon sendiri seumur hidup. Tadinya mau ketawa, tapi ga jadi, ternyata emang sosialisasinya yang kurang bener.

Ada juga hal aneh juga terjadi, jadi saat demo cara menggunakan kompor gas, di satu wilayah desa, 20 paket yang dicoba enggak bisa nyala, saat itu gue ditelpon oleh perusahaan yang ngadain demo, pas kita datang, mukanya udah pada pucet, warga udah teriak-teriak pake bahasa daerah, bahkan ada yang bilang bakar-bakar, penipu.
Gue ama sopir dari perusahaan yang nge-hire kaget juga ama sambutan yang meriah. Nervous juga, terus sopir perusahaan ngelilingin warga dan bisikin gue kalo lingkungan udah dikunci, dan semua tergantung ama gue sekarang. Gue baca bismillah dan minta izin tentunya ama Allah agar demonya berhasil, pas gw coba nyalain, berhasil. Tapi ada warga yang minta 20 paket ga nyala untuk dicoba, kalau ga nyala mereka ga mau terima, team yang udah coba ga mau coba lagi karena takut ga nyala, warga udah teriak-teriak lagi, akhirnya ada sms masuk dari orang perusahaan yang ada di kantor pusat, ternyata pak sopir telp, terus gue disuruh ngusap 20 tabung itu, semuanya hening, gue udah keringet dingin, kalo ga nyala jatuh mental tim, gue baca bismillah lagi coba satu dan nyala, sisanya diterusin sama tim lapangan dan nyala semua. Lega banget rasanya, akhirnya untuk bonus, gue bilang tabung ini kuat asal yang udah ada logo SNI, terus tabungnya gue lempar keatas, dan gue pura merunduk, semua yang ngeliat pada ikutan ngerunduk bahkan ada yang tutup kuping dan lari, akhirnya pada ketawa. Pas udah selesai, gue langsung dideketin salah satu yang terindikasi provokator, dia langsung tanya, “bapak pasti bukan orang Medan, Jawanya dimana?” gue bilang, ga penting asal saya pak, yang penting dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, asal niatnya baik, hal ga baik akan minggir pak” pak sopir sampe narik tangan gue ngajak cepet-cepet pergi, kalo enggak katanya kita ga akan bisa balik dari daerah itu, gue jadi inget kasus disini tentang Xenophobia... 😀

Selamat makan siang, jangan lupa shalat dzuhur bagi yang melaksanakan, besok-besok lanjut lagi tentang si Melon ini.

Dua Perbedaan

Sebelum shalat subuh, saya sempatkan melihat pengumuman yang ditempel papan pengumuman masjid, saya amati ada dua laporan keuangan. Yang pertama adalah laporan dari kotak tromol jum’at serta sumbangan-sumbangan dari donatur, laporan keuangan yang kedua yang berasal dari kotak tromol yang berada di teras masjid. saya lihat lebih detil ternyata laporan kotak tromol yang berada diteras cashflow-nya cukup bagus, hasilnya dalam satu bulan lebih besar dari kotak tromol jumat.

Saya bertanya kepada salah satu pengurus masjid kenapa sampai ada dua dua versi laporan, padahal satu saja kan bisa, sambil menghela nafas sang pengurus berkata, dahulu hanya ada satu laporan, tromol yang berada diluar yang beasal dari kotak kaca jumlahnya selalu berkurang, usut punya usut menjadi bancakan oknum ga bertanggungjawab, bahkan hingga minus, sampai akhirnya sang bendahara tak tahan dan mundur, karena selalu nomboki uang yang kurang walau laporan yang tertera ada saldo sekian juta, tapi pada intinya uang tersebut tidak ada, jadi bendaharanya hanya de jure, secara de facto bendaharanya ga jelas :D.

5587-curi-kotak-amal

Akhirnya salah seorang jamaah berinisiatif membuat kotak tromol dari lempengan besi dan digembok ditiang teras mesjid, setiap hari uangnya selalu ambil dan dikumpulkan lalu dibuat laporan keuangan setiap minggunya “Laporan Keuangan Tromol Teras” dan ditempelkan di papan pengumuman masjid. Disitu tertera secara jelas pemasukan dan pengeluaran, lama kelamaan jamaah lebih sering memasukan ke tromol yang berada di teras daripada yang berada didalam ruangan utama masjid, karena terlihat lebih jelas penggunaan dananya. Mungkin ada juga ga yang setuju dengan metode ini karena dianggap sebagai metode hizbiyin 🙂

Saat shalat subuh, imamnya ternyata salah satu ustad yang terpandang didaerah tersebut. Jamaah subuh sekitar 30-35 orang, lumayan lah untuk ukuran masjid yang ga terlalu besar, dan semua jamahhnya komplit dalam arti tidak ada yang melarikan diri.
Imam shalat subuh biasanya sistim menggantikan jika imam utama ga datang, nah pernah 4 orang yang biasanya menjadi imam tidak hadir, akhirnya mengikuti ketentuan yang ada, majulah seorang tetangga untuk menjadi imam, dan banyak jamaah yang putar balik menyisakan hanya sedikit orang. Alasannya karena yang menjadi imam termasuk mahzab yang tidak membaca qunut, walau pada prakteknya saat menjadi imam tetap membacakan qunut.
Saat saya bercerita dengan salah seorang kawan, dia bilang “lho, ta’ pikir hanya ditempatku (Gresik) aja yang jamaahnya puter balik, ditempatmu ada juga toh”
Sayang sekali, shalat berjamaah yang harusnya mendapat pahala lebih besar, jadi gagal karena perbedaan pandangan coba bisa lebih bijak dan sedikit cari tahu malah bisa menjaga ukhuwah.

jalan

Jadi, apa hubungannya dua cerita diatas ya? hubungannya ya itu tentang Masjid yang sama 😀

Selamat makan siang dan bersiap-siap ke masjid untuk melakukan shalat jumat bagi pria yang tidak ada uzur.

Media Sakti

Sekarang ini kalo baca, nonton atau denger berita kudu pinter-pinter disaring, banyak hal yang ga bener bisa jadi bener, satu peristiwa bisa diberitakan bertentangan antara media satu dengan media lainnya.
Kalau ada media yang tahu lebih dulu itu wajar aja, kan ada informasi A1, jarene, tapi kalo ada media yang bisa menggambarkan sesuatu yang belum terjadi, itu termasuk hebat “Weruh sa’durunge winarah” gitu loh.

Hari minggu dipanggil bu istri, padahal lagi asyik nyisir  jenggot rambut, maklum udah panjang melingker ga karuan sampai nutupin kuping. Kirain ada hal penting apaan gitu, ternyata ditunjukin berita pernikahan dek “Revalina S. Temat”, disebuah tabloid sambil tanya “emang nikahannya kapan sih? udah atau belum?”
Ya ampuunnnn…. ini pertanyaan apa pula, lha wong nonton tv aja belum tentu seminggu sekali, ya ga tau lah tentang berita itu, terus walau berlangganan tabloid wanita, juga ga baca.. wong itu buat simboke biar ada hiburan.

  Slide2

Ini tabloid mingguan langganannya

Gue  jawab aja “ya ga tau, liat tv aja gih” akhirnya liat tv cari berita gossip -penting amat emang nih sampe dibela2in- dari berita yang ada pernikahan dek Revalina itu hari minggu tanggal 15 Maret 2015, akad nikah pukul 16.30. mohon dicatat ya, kali aja dibutuhkan saat anak, keponakan atau saudara anda lagi ikut uas dan keluar pertanyaan tersebut.

Slide1

ini berita dari portalnya

Nih ada berita juga di portal yang lain  : begini wajah nervous Revalina S Temat jelang akad  dan Revalina resmi menikah

Nah udah jelas kan,  tapi tabloid ini bisa lho menggambarkan suasana saat akad tersebut, siapapun yang menghadiri atau mendapatkan berita secara langsung pasti akan bisa menggambarkan jalannya peristiwa pernikahan tersebut.

Slide4

Berlangsung begitu syahdu ??

Slide5

Saat akad terlihat anggun? emang akadnya udah?? 😀

Sebenarnya yang menjadi pertanyaan bu istri dan menjadi pertanyaan gue juga, Pernikahan tersebut dilaksanakan Tanggal 15 Maret 2015, pukul 16.30 WITA ini sampai tanggalnya gue tulis berulang kali gini.

Gue juga yakin kalo yang baca tabloid itu atau baca potongan gambar diatas bisa tarik kesimpulan kalo beritanya turun cetak setelah akad nikah selesai, karena bisa menggambarkan suasananya, tapi kenyataannya, tabloid itu gue terima dari mbah Darno, tukang koran langganan kami pada hari minggu 15 Maret 2015 jam 08.00, jam delapan pagi yaaaa, bukan jam delapan malam.
Gue sampai liat kalender di hp, di ruang keluarga n dikamar buat mastiin tgl 15 Maret itu sebenarnya hari sabtu atau minggu yak…
Atau jangan-jangan gue sama bu istri salah nafsirin isi beritanya… 😀

Tapi berita ini termasuk aneh lah bagi gue, kok bisa ya weruh sa’durunge winarah, macam paranormal aja. Tapi ini sih ga parah, parahnya kalo misalnya dikabarkan dek Revalina nikah ama Agus Ringgo… itu baru parah dan kurang kerjaan 😀

Kalau mau tahu permainan media yang parah, bisa baca jurnal-jurnalnya mas Iwan dengan kategori Media dan Jurnalisme http://iwanyuliyanto.co/category/media-journalism/

baiklah…. selamat makan siang untuk semuanya… jangan lupa cuci tangan dulu menggunakan sabun yaaa…. 😀

Penguasa Setempat

motorpark

Jaman kerja di Gedung Ariobimo, parkir motor itu ada area yang sudah ditentukan, dari sebagian area itu setengahnya ada atapnya, setengahnya lagi tanpa atap, kalo hujan ya basah, kalo ga hujan ya kepanasan… bahkan ada motor-motor yang catnya jadi buluk, karena terlalu lama berjemur, mungkin sudah tahunan pegawainya bersarang digedung tersebut.

Awalnya gue kira siapa cepat dia dapat dibawah atap, ternyata enggak, yang boleh parkir dibawah atap hanya karyawan Indofood sebagai penyewa terbesar, informasi ini didapat dari tukang parkir dan satpam yang menjaga area gedung. Wah ga adil juga nih, teman ada yang coba-coba main parkir, tapi motornya langsung dipindahin.
Kasihan juga motor gue, masa sih selama projek disana 2 tahun harus kepanasan dan kehujanan. tapi akhirnya dalam hitungan 2 bulan, motor gue bisa parkir dibawah atap, caranya ternyata simpel, karena gue suka datang pagi, kadang suka ngobrol ama satpam, dia mau curhat apa, ya dengerin aja, kalo lagi jajan kue atau gorengan or ada kiriman buah tangan dari vendor, satpam juga kebagian, akhirnya kalo datang malah satpamnya nyuruh parkir dibawah atap.

Terus, Jaman kerja di Segitiga Emas Business Park, parkiran tanpa atap dan ga ada satpam, yang ada cuma petugas parkir. Satpam hanya ada digedung kantor. Emang sih disini parkirnya bebas, kalo cepet ya dapat didepan dan posisinya enak bisa milih dibawah pohon, kalo datang siang ya parkir rada jauh, jadi trik diatas ga bisa dilakukan wong ga ada satpamnya.
Disini jamannya pulang malam, jadi kalo lagi cari makan malam or lagi suntuk, teman ngobrol selain satpam kantor ya ama pak kebon ini, ujung-ujungnya juga diceritain tentang keluarganya yang ada dikampung, karena keseringan ngobrol akhirnya kalo cari makan malam ya kalo ada rezeki lebih dibeliin juga, lama-lama parkir khusus dibawah puun didapat, dikasih ember berisi tanaman biar ga ditempatin motor lain. kalo bahkan kalo motornya nginep, dipindahin kebagian samping gedung yang otomatis lebih terlindung.

Ditempat yang sekarang ini, didaerah Thamrin, gedungnya kecil cuma 8 lantai, parkir motor penyewa ada di basement barengan parkir mobil para boss, kalo level karyawan yang bawa mobil ya kudu parkir diluar, jadi lebih enak kalo bawa motor dibanding bawa mobil. Enaknya ga kepanasan dan kehujanan, gratis pula, Satpam gedung ada, tapi ga ngurusin parkir. Ga enaknya kalo datang kesiangan tempat favorit udah ga ada, tempat favorit itu saat ngeluarin motor langsung jalan, ga perlu nyingkirin motor lain yang parkir menghalangi. Di basement ini ada seorang kakek yang tadinya supir pribadi dari boss pemilik gedung, pas udah pensiun, tugasnya cuma markirin mobil dan jagain mobil para boss, tapi tetap digaji full. Orang-orang manggilnya sih engkong, tapi gue panggilnya babeh, kalo datang kepagian dan kantor belum dibuka ya suka ngobrol sama engkong ini, sampai gue hapal jumlah anaknya, cucunya dan kerjaan para anak mantunya. Teman ngobrol itu enaknya ya cemilan, jadi sambil ngemil bareng si engkong sambil dengerin perjuangan waktu mudanya dulu. ujung-ujungnya sih ketebak, sekarang kalo parkir ya pasti dapat tempat favorit atau kalo motor kehalangi, udah pasti langsung dipindahkan dulu ama engkong, Sampai ada orang kantor lain tanya, “kok engkong mau sih bantuin mindahin motor elu, kalo motor gue kehalang ya gue sendiri yang kudu mindahin, emang elu bayar berapa?” gue sih jawab gini aja “elu kan tau disini parkir gratis, ga bayar, tapi kan kudu tahu siapa penguasanya, kalo udah ketemu ya ajak ngobrol aja, paling enggak say hello, kalo gitu kan engkong tau kalo ada elo, kalo cuma lewat doang, emang engkong tau elo kerja disini, dilantai berapa?”

Mungkin ada yang menganggap ga penting, tapi bagi gue jika ga dapat perlakuan khususpun rasanya juga senang bisa ngobrol ama mereka, bisa tahu pikiran mereka, apa yang ada dipandangan mereka bahkan kadang ga nyangka dapat bonus cerita tentang orang-orang yang parkir juga termasuk hal dalam kategori coret merah.
Intinya sih kalo nge-uwongke, pasti kita juga akan di-uwongke juga.

[Rumah] Menggapai Impian

house

Saat googling cari ref perpustakaan untuk dirumah, saya nyasar kemana-mana dan akhirnya asyik serta menikmati cerita perjuangan para blogger mulai saat proses memiliki rumah, pindahan, dan renovasi. Ada yang seru, lucu dan ada juga yang penuh airmata.
Dari postingan-postingan tersebut, saya melihat satu kesamaan hampir semuanya menyatakan rasa syukur dan penuh perasaan yang antusias dan penuh rasa gembira walau diiringi dengan hidup prihatin/hemat.

Setelah saya perhatikan, ada 3 pola pembelian rumah yang dilakukan para blogger tersebut :
1. Tunai
ini bisa untuk rumah bekas atau rumah baru, disini bentuk perjuangannya adalah dengan
hidup prihatin, rajin nabung dan berusaha keras cari sampingan. Tapi dari puluhan
postingan yang saya baca di WP, Blogspot dan domain sendiri , hanya 3-4 orang
berhasil membeli rumah (pertama) dengan tunai tanpa bantuan orangtua, saudara atau
teman untuk pembayarannya.
2. Pinjaman
kalau yang menggunakan pinjaman ini ada 2 kategori
A. Pinjaman non KPR
Kalau non KPR ini biasanya rumah dibeli dengan tunai, tapi uangnya berasal dari
pinjaman orang tua, saudara atau teman, hal yang melatar belakanginya adalah
kemudahan prosesnya, pembayaran bisa dicicil semampunya maksudnya jika tidak punya
uang bisa saja tidak mencicil tapi saat punya uang bisa mencicil dalam jumlah yang
besar, hal ketiga adalah tidak ingin terkena riba, ah mantap ini.
selain itu hal utama lainnya adalah perhitungan jika memakai KPR total jatuh harga
rumahnya lebih besar ya karena bunga tersebut.
B. Pinjaman dari KPR
lebih dari 90% menggunakan proses ini, baik KPR bank konvensional ataupun bank syariah, dan lebih banyak yang menggunakan bank konvensional, latar belakang pemilihannyanya karena cicilan bank konvensional tidak sebesar bank syariah dan jangka waktunya bisa lebih panjang.

Paket rumahnya sendiri ada 3 kategori :
1. Paket Kosong
rumah biasanya dibangun oleh pengembang, mulai dari tanah kosong hingga jadi bangunan berbentuk rumah
2. Paket Isi
Rumahnya sudah lengkap dengan furniture, pokoknya tinggal bawa badan aja sih bisa langsung tidur.
3. Paket Lengkap
kalau mau tau paket lengkap, udah baca berita ini kan? Wina Lia luruskan iklan jual rumah berbonus istri

Buat yang belum memiliki rumah semoga Allah SWT meringankan langkah untuk mengapainya, untuk yang dalam proses semoga Allah makin memudahkan jalannya dan untuk yang telah memiliki rumah agar bisa menjadikannya sebagai baitijannati.

Avengers – Cupu Of Father

Setelah makan siang dirumah yang difungsikan sebagai tempat berjualan, saya satu meja dengan grup bapak-bapak entah dari kantor mana, tapi acap bertemu saat jumatan dan ditempat makan tersebut.
Saat itu siaran TV menayangkan (iklan) tentang trailer film Avengers Age of Ultron, hampir semua memperhatikan, saat trailer selesai, seorang bapak dari grup tersebut berkata

The-Avengers-Age-of-Ultron-movie-wallpaper-1024x576

“wah harus bikin jadwal nonton bareng lagi nih ama anak gue”

salah seorang temannya bertanya “emang kenapa pake harus (nonton) bareng”
“ya wajib lah, kalo enggak, kasian anak gue nanti kalo masuk sekolah jadi cupu”
“loh, apa hubungannya?”
“elu gimana sih, yaa kalo nanti teman-temanya pada cerita (avengers) anak gue bengong-bengong ga ngerti, keliatan cupu jadinya”
“apa malah ga keliatan lebih cupu kalo anak lo nonton duluan, terus dia cerita disekolahan teman-temannya pada ga ngerti apa yang diomongin?”

Saya dan teman hanya tersenyum mendengar pembicaraan bapak-bapak tersebut, terbersit pertanyaan dalam hati ‘apa iya kalo anak ketinggalan hal yang tren (entah itu film, gadget, fashion dsb) termasuk anak cupu? kalo iyaaa…. disini saya kadang merasa………’

cupu

Kesimpulannya sih bapak yang sayang anak adalah yang tidak ingin anaknya kelihatan cupu didepan teman-teman sekolahnya.

[Publik] Rumah Masa Depan

Buat yang masih hidup, sebagian besar tujuannya adalah bagaimana mempunyai tempat tinggal yang nyaman, tapi terkadang lupa memikirkan rumah masa depan untuk tempat tinggal bernama TPU setelah meninggal dunia. Urusan ini hal remeh, hal kecil tapi acap terlupakan. Buat yang mempunyai uang, mudah saja, pilihannya bisa memesan pemakaman seperti di San Diego Hills atau pemakaman yang dikelola swasta. Mengurus makam untuk yang meninggal ternyata bukan hal sepele, dibutuhkan kesabaran ekstra. Pihak-pihak pengurus RT/RW adalah salah satu pihak yang berperan penting, dari merekalah mendapat surat keterangan untuk dibawa ke Kelurahan hingga keluar surat kematian. Pengalaman mengurus pemakaman ayah saya empat minggu lalu alur yang terjadi adalah seperti ini. 1. Surat Keterangan dari RT dan RW bahwa benar warga yang meninggal adalah warga yang berada dalam wilayah tersebut, lalu surat tersebut dibawa ke Kelurahan untuk dibuatkan…. 2. Surat Keterangan Kematian dari Kelurahan yang akan digunakan untuk mengurus ke dinas pemakaman, pembuatan surat keterangan kematian ini paralel dengan pembuatan surat keterangan pemeriksaan jenazah dari puskesmas atau dinas kesehatan setempat untuk yang meninggal dirumah, tapi jika meninggal di Rumah Sakit, secara otomatis pihak Rumah Sakit yang akan mengeluarkan surat tersebut. 3. Retribusi sewa tanah makam Simpel ya, tidak ribet seperti yang ditulis pada awal postingan ini. Memang hal tersebut simpel jika dimakamkan pada TPU dimana bertempat tinggal, nah saya bertempat tinggal di Bekasi, untuk TPU harusnya di TPU Perwira tapi lokasinya jauh, dan yang paling dekat justru TPU Pondok Kelapa, TPU Tanah Merah dan TPU Malaka, sekitar 3km dari rumah. Akhirnya datang ke TPU yang dibuatkan surat pengantar untuk mengurus Surat Izin Penggunaan Tanah Makam ke kelurahan Pondok Kelapa ke bagian PTSP. 4. Dari kelurahan Pondok Kelapa diminta mengisi data tentang mendiang lalu setelah selesai diberikan surat untuk melakukan pembayaran, setelah melakukan pembayaran lalu menyerahkan bukti pembayaran tersebut ke Kelurahan 1 lembar, 1 lembar untuk TPU dan 1 lembar untuk ahli waris. Sepengetahuan saya PTSP itu tujuannya baik, semua pelayanan dilakukan dalam satu pintu, jadi ga perlu muter-muter kesana kemari, tapi satu hal yang nengganjal yaitu saat melakukan pembayaran harus dilakukan di kantor walikota Jakarta Timur jadi bukan di kelurahan, yang jaraknya sekitar 5-6km. lebih baik dibuka saja kantor kas di kelurahan jadi saat mengurus tidak perlu pindah ketempat yang lumayan jauh. Jumlah retribusi sewa tanah makam selama 3 tahun antara Rp 60.000 – Rp 100.000, masih kalah murah dengan Surabaya yang dalam kisaran 200.000 – 270.000. Biaya Resmi menyangkut administrasi sebagai berikut : 1. Surat Keterangan RT – Gratis 2. Surat Keterangan RW – Gratis 3. Surat Keterangan Kematian Kelurahan * 4. Surat Keterangan Pemeriksaan Jenazah di Puskesmas * 5. TPU ** * Pengurusan di Bekasi biaya mulai dari Rp 0 hingga Rp seikhlasnya * Pengurusan di Kelurahan Wilayah Jakarta memang benar-benar Rp 0 Kalau pengurusan dari Kelurahan hingga Pembayaran retibusi memang tidak ada biaya aneh-aneh, tapi di TPU lain lagi ceritanya, dengan adanya PTSP hal-hal menyulitkan dan kemungkinan untuk berbuat ga benar bisa diminimalisir, kenyataannnya? jauh panggang(an) dari api. Beritanya bisa dilihat disini : – Urus makam lewat PTSP dinilai persulit warga ; –  keluhan mengurus izin pemakaman  Selain itu hal kurang benar bisa dimanfaatkan dari celah yang ada, misalnya dengan penuhnya tanah makam diwilayah Jakarta Timur, tapi tetap bisa dimakamkan dengan cara tumpang pada anggota keluarga yang telah dimakamkan terlebih dahulu atau pada lokasi makam yang sudah tidak bertuan yaitu lokasi makam yang tidak diurus ahli warisnya. Untuk kedua pilihan cara pemakaman diatas, alur yang terjadi sama dengan makam baru, hanya statusnya saja yang berbeda antara baru dan bekas (makam).

Slide1

Sudah perhatikan foto yang menggambarkan alur pemakaman diatas? tanda panah biru menunjukan jika keadaan normal berlaku, keadaan normal maksudnya saat meninggal itu pada hari kerja dimana birokrasi yang berhubungan dengan pihak institusi pemerintah membuka pelayanan, sedangkan situasi tidak normal saat meninggal itu pada hari libur, baik hari minggu atau libur nasional. Jika situasi tidak normal tersebut terjadi, maka alur yang paling umum terjadi adalah tanda panah merah, karena tidak mungkin jenazah menunggu birokrasi lalu dikuburkan. Nah, pada titik inilah celah tersebut membuka terjadinya hal tidak benar. Apakah setelah membayar retribusi melalui PTSP dan menyerahkan bukti pembayaran ke TPU lantas akan ada jaminan tidak ada biaya yang lain? Ya pastilah ga ada, yang ada jaminan akan terkena biaya lain lagi. ga percaya? ini hitungan kasarnya. Biasanya di TPU akan ada biaya sewa tenda dan kursi serta biaya gali makam besarannya berkisar Rp 500.000 – Rp 2.000.000 , kalau logikanya sih tenda dan kursi itu sudah tersedia dan merupakan inventaris Dinas pemakaman, dan untuk tukang gali makam (resmi) juga mendapat gaji bulanan dari pemda. Diluar itu ada biaya yang memang menjadi tanggungjawab ahli waris yaitu biaya pembelian rumput hingga pembuatan batu nisan. dan besarannya relatif mulai Rp 1,5 juta – Rp ~ tergantung nisan yang dipilih. Nah, ada juga sistem paket, keuntungan sistem paket ini : – Lokasi makam sudah pasti ada (entah baru atau bekas) – Sewa tenda, gali makam, rumput dan batu nisan sudah tersedia, jadi keluarga ahli waris tinggal datang ke PTSP dan membayar retribusi pemakaman saja. Tetangga yang kebetulan bertemu saat melakukan pembayaran retribusi untuk pemakaman kakaknya bercerita, awalnya diberitahu jika TPU sudah penuh, hingga tiga kali bertanya jawabannya tetap yaitu penuh, akhirnya beliau bilang ” Ya sudah berapa biayanya saya minta bersih dari gali makam sampai nisan, saya bayar cash” akhirnya keluar juga jawaban biayanya Rp 5.000.000 Hal ini memang sudah jadi rahasia bersama, kalau pemakaman di TPU itu harganya bisa jutaan rupiah.  bahkan hal tersebut sudah seperti permainan para preman. Memang salah satu kendala adalah informasi yang tidak jelas dan transparan tentang ketersediaan lahan makam yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk mencari penghasilan. Jadi tidak salah apa yang dilakukan oleh Pemda DKI untuk membuat sistem pemakaman online, mulai dari pemesanan hingga pembayaran retribusi. Jika hal ini terjadi, akan meminimalisir biaya-biaya yang tidak perlu walau tidak bisa dihilangkan seluruhnya.