Flash Fiction : Ramadhan

Ramadhan

Advertisements

Semoga Tukang Bubur Naik Haji

7 tahun lalu gue pernah mengalami sebuah peristiwa dengan tokoh utamanya Penjual mie ayam,

483492_mie-ayam

Sumber

Minggu lalu mengalami peristiwa yang mirip dengan kejadian yang lalu lalu, tapi tokoh utamanya Penjual Bubur, oh iya, ini bukan tentang tipe orang yang suka makan bubur dengan cara diaduk atau tidak ya bahkan sampai ada pollingnya, tapi ceritanya tentang si Tukang bubur itu sendiri.

A Bubur Ayam (chicken rice congee) with chicken liver and gizzard satay, sold by travelling vendor cart that frequenting kampung or residential area every morning in Jakarta, Indonesia.

Jadi sudah beberapa kali gue mergokin seorang ibu tua dengan pakaian lusuh berdiri diam memandang orang-orang yang sedang sarapan bubur ayam, tapi si ibu tidak meminta apapun dari orang yang sedang bersantap, acap ada yang setelah bersantap memberikan uang lalu diterima oleh ibu tua tersebut. terkadang, hanya memperhatikan lalu berjalan lagi. Kalau disebut melanggar Perda DKI No. 8/2007, ya enggak juga, kan si ibu ga mengemis, hanya diam berdiri aja, atau mungkin itu salah satu style-nya gue juga ga tau jelas.
Nah, pas gue lagi makan, gue liat si ibu ada dipojokan ruko (Tukang bubur ayam mangkalnya dipojokan Ruko Selmis persimpangan antara Jl. Asem Baris Raya dengan Jl. Kh. Abdullah Syafei sebelum Stasiun Tebet dari arah Kp. Melayu)
Gue minta ama si bapak tukang bubur untuk bikinin bubur satu lagi buat si Ibu, pas selesai n gue mau bayarin buat si ibu itu, si bapak tukang bubur nolak “iku urusanku mas, aku sing maringi” Beneran mirip ama kejadian tujuh tahun lalu tapi beda versi.
Lain waktu pas mampir ada orang dari suku yang identik dengan ciri dan sikap tertentu makan disitu, setelah selesai langsung memberikan………… ucapan terimakasih dan langsung pergi sambil nepuk pundak si tukang bubur.

Disaat lain lagi ada orang yang makan duduk persis disamping gue, pas selesai orangnya nyari-nyari uang didalam tas kresek yangdibawanya, isinya ada sarung, baju dan alat mandi, ya gue bisa tau karena intip2 dikit lah… :p
Bayarnya kurang dari harga yang sebenarnya, tapi tetap diterima ama tukang bubur.

Beneran gue salut ama tukang buburnya, ekpresi wajahnya biasa aja dengan hal-hal tersebut, tetap ceria, ga pake cemberut. Penasaran dong, akhirnya gue tanya “kok santai aja sih pak ada yg makan bayarnya kurang, ada yang ga bayar terus bapak juga malah ngasih ke simbah (ibu tua)”
Tukang buburnya bilang “Rezeki ono sing ngatur mas, ra ketuker”
Sambil ketawa gue bilang lagi “kalo gitu lain kali ta’ mangan bubur ra usah bayar ya pak” si bapak tukang bubur ketawa dan bilang “ya gpp asal mas’e tega aja”

Banyak yang bilang Jakarta itu keras, tapi masih banyak orang-orang berhati baik di kota ini, tetap mau menolong orang lain ga pakai pamrih.
Selamat hari Rabu, dan selamat beraktifitas.