[Publik] Rumah Masa Depan

Buat yang masih hidup, sebagian besar tujuannya adalah bagaimana mempunyai tempat tinggal yang nyaman, tapi terkadang lupa memikirkan rumah masa depan untuk tempat tinggal bernama TPU setelah meninggal dunia. Urusan ini hal remeh, hal kecil tapi acap terlupakan. Buat yang mempunyai uang, mudah saja, pilihannya bisa memesan pemakaman seperti di San Diego Hills atau pemakaman yang dikelola swasta. Mengurus makam untuk yang meninggal ternyata bukan hal sepele, dibutuhkan kesabaran ekstra. Pihak-pihak pengurus RT/RW adalah salah satu pihak yang berperan penting, dari merekalah mendapat surat keterangan untuk dibawa ke Kelurahan hingga keluar surat kematian. Pengalaman mengurus pemakaman ayah saya empat minggu lalu alur yang terjadi adalah seperti ini. 1. Surat Keterangan dari RT dan RW bahwa benar warga yang meninggal adalah warga yang berada dalam wilayah tersebut, lalu surat tersebut dibawa ke Kelurahan untuk dibuatkan…. 2. Surat Keterangan Kematian dari Kelurahan yang akan digunakan untuk mengurus ke dinas pemakaman, pembuatan surat keterangan kematian ini paralel dengan pembuatan surat keterangan pemeriksaan jenazah dari puskesmas atau dinas kesehatan setempat untuk yang meninggal dirumah, tapi jika meninggal di Rumah Sakit, secara otomatis pihak Rumah Sakit yang akan mengeluarkan surat tersebut. 3. Retribusi sewa tanah makam Simpel ya, tidak ribet seperti yang ditulis pada awal postingan ini. Memang hal tersebut simpel jika dimakamkan pada TPU dimana bertempat tinggal, nah saya bertempat tinggal di Bekasi, untuk TPU harusnya di TPU Perwira tapi lokasinya jauh, dan yang paling dekat justru TPU Pondok Kelapa, TPU Tanah Merah dan TPU Malaka, sekitar 3km dari rumah. Akhirnya datang ke TPU yang dibuatkan surat pengantar untuk mengurus Surat Izin Penggunaan Tanah Makam ke kelurahan Pondok Kelapa ke bagian PTSP. 4. Dari kelurahan Pondok Kelapa diminta mengisi data tentang mendiang lalu setelah selesai diberikan surat untuk melakukan pembayaran, setelah melakukan pembayaran lalu menyerahkan bukti pembayaran tersebut ke Kelurahan 1 lembar, 1 lembar untuk TPU dan 1 lembar untuk ahli waris. Sepengetahuan saya PTSP itu tujuannya baik, semua pelayanan dilakukan dalam satu pintu, jadi ga perlu muter-muter kesana kemari, tapi satu hal yang nengganjal yaitu saat melakukan pembayaran harus dilakukan di kantor walikota Jakarta Timur jadi bukan di kelurahan, yang jaraknya sekitar 5-6km. lebih baik dibuka saja kantor kas di kelurahan jadi saat mengurus tidak perlu pindah ketempat yang lumayan jauh. Jumlah retribusi sewa tanah makam selama 3 tahun antara Rp 60.000 – Rp 100.000, masih kalah murah dengan Surabaya yang dalam kisaran 200.000 – 270.000. Biaya Resmi menyangkut administrasi sebagai berikut : 1. Surat Keterangan RT – Gratis 2. Surat Keterangan RW – Gratis 3. Surat Keterangan Kematian Kelurahan * 4. Surat Keterangan Pemeriksaan Jenazah di Puskesmas * 5. TPU ** * Pengurusan di Bekasi biaya mulai dari Rp 0 hingga Rp seikhlasnya * Pengurusan di Kelurahan Wilayah Jakarta memang benar-benar Rp 0 Kalau pengurusan dari Kelurahan hingga Pembayaran retibusi memang tidak ada biaya aneh-aneh, tapi di TPU lain lagi ceritanya, dengan adanya PTSP hal-hal menyulitkan dan kemungkinan untuk berbuat ga benar bisa diminimalisir, kenyataannnya? jauh panggang(an) dari api. Beritanya bisa dilihat disini : – Urus makam lewat PTSP dinilai persulit warga ; –  keluhan mengurus izin pemakaman  Selain itu hal kurang benar bisa dimanfaatkan dari celah yang ada, misalnya dengan penuhnya tanah makam diwilayah Jakarta Timur, tapi tetap bisa dimakamkan dengan cara tumpang pada anggota keluarga yang telah dimakamkan terlebih dahulu atau pada lokasi makam yang sudah tidak bertuan yaitu lokasi makam yang tidak diurus ahli warisnya. Untuk kedua pilihan cara pemakaman diatas, alur yang terjadi sama dengan makam baru, hanya statusnya saja yang berbeda antara baru dan bekas (makam).

Slide1

Sudah perhatikan foto yang menggambarkan alur pemakaman diatas? tanda panah biru menunjukan jika keadaan normal berlaku, keadaan normal maksudnya saat meninggal itu pada hari kerja dimana birokrasi yang berhubungan dengan pihak institusi pemerintah membuka pelayanan, sedangkan situasi tidak normal saat meninggal itu pada hari libur, baik hari minggu atau libur nasional. Jika situasi tidak normal tersebut terjadi, maka alur yang paling umum terjadi adalah tanda panah merah, karena tidak mungkin jenazah menunggu birokrasi lalu dikuburkan. Nah, pada titik inilah celah tersebut membuka terjadinya hal tidak benar. Apakah setelah membayar retribusi melalui PTSP dan menyerahkan bukti pembayaran ke TPU lantas akan ada jaminan tidak ada biaya yang lain? Ya pastilah ga ada, yang ada jaminan akan terkena biaya lain lagi. ga percaya? ini hitungan kasarnya. Biasanya di TPU akan ada biaya sewa tenda dan kursi serta biaya gali makam besarannya berkisar Rp 500.000 – Rp 2.000.000 , kalau logikanya sih tenda dan kursi itu sudah tersedia dan merupakan inventaris Dinas pemakaman, dan untuk tukang gali makam (resmi) juga mendapat gaji bulanan dari pemda. Diluar itu ada biaya yang memang menjadi tanggungjawab ahli waris yaitu biaya pembelian rumput hingga pembuatan batu nisan. dan besarannya relatif mulai Rp 1,5 juta – Rp ~ tergantung nisan yang dipilih. Nah, ada juga sistem paket, keuntungan sistem paket ini : – Lokasi makam sudah pasti ada (entah baru atau bekas) – Sewa tenda, gali makam, rumput dan batu nisan sudah tersedia, jadi keluarga ahli waris tinggal datang ke PTSP dan membayar retribusi pemakaman saja. Tetangga yang kebetulan bertemu saat melakukan pembayaran retribusi untuk pemakaman kakaknya bercerita, awalnya diberitahu jika TPU sudah penuh, hingga tiga kali bertanya jawabannya tetap yaitu penuh, akhirnya beliau bilang ” Ya sudah berapa biayanya saya minta bersih dari gali makam sampai nisan, saya bayar cash” akhirnya keluar juga jawaban biayanya Rp 5.000.000 Hal ini memang sudah jadi rahasia bersama, kalau pemakaman di TPU itu harganya bisa jutaan rupiah.  bahkan hal tersebut sudah seperti permainan para preman. Memang salah satu kendala adalah informasi yang tidak jelas dan transparan tentang ketersediaan lahan makam yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk mencari penghasilan. Jadi tidak salah apa yang dilakukan oleh Pemda DKI untuk membuat sistem pemakaman online, mulai dari pemesanan hingga pembayaran retribusi. Jika hal ini terjadi, akan meminimalisir biaya-biaya yang tidak perlu walau tidak bisa dihilangkan seluruhnya.

Advertisements

Kuda Hitam dari Jakarta

Pertarungan dua kandidat ini semakin seru, kandidat pertama memiliki darah Indonesia Timur dan kandidat kedua dari Jakarta.
Saya salut dengan kandidat pertama, materinya tentang ketidakadilan, ketimpangan disampaikan dengan sangat jelas, sedang kandidat kedua tentu saja menyangkut tema keseharian di Jakarta.

Banyak yang tidak menyangka bahwa kedua kandidat ini akan masuk ke grand final, tapi tanda-tanda terbaca setelah masuk ke 6 besar. kandidat dari Jakarta ini memang dianggap sebagai kuda hitam, Sedangkan keunggulan kandidat pertama adalah konsistensi dari awal hingga masuk grand final.

SUCI 4 inilah yang gw pikir paling menarik diantara 3 periode sebelumnya, tema  yang dibawakan tentang daerah masing-masing sangat cocok dibawakan, dan performa mereka berdua tidak terlalu drop selama show 1 hingga show 16. Kali ini, memang para komik yang “smart” mendominasi 3 besar.

Selamat buat Abdur dan David sebagai grand finalis Stand Up Comedy Indonesia 4.
Siapapun pemangnya, kalian berdua konsisten mengangkat tema tentang daerah masing-masing.
Dzawin sebagai komik yang close mic diurutan ketiga gw rasa juga sudah tepat, karena beberapakali dzawin seperti nge-blank, namun yang ga habis pikir, kenapa Pras Teguh yang masuk 4 besar, padahal Dodit juga tidak kalah bagus dibanding Pras Teguh.

 

 

 

Jika Kenangan itu Berbentuk Kartu Pos

Saya tahu duniaely.com baru saja, ya kira-kira sekitar satu jam yang lalu, hal itu bermula saat salah seorang kontak di FB saya update status yang terkoneksi dengan blognya di WordPress.
Akhirnya saya malah asyik kelilingan dirumahnya tersebut.

Terus terang tema dalam blog tersebut sangat beragam, tapi satu hal yang membuat saya suka adalah kekonsistenan duniaely.com menyertakan foto dalam sebagian besar postingannya yang merupakan hasil foto sendiri, walau ada juga yang berbentuk video bahkan ada juga yang tanpa gambar.
Terus terang hal tersebut lumayan rumit jika membuat tulisan lalu mencari stok foto, yang lebih mudah itu lihat stok foto lalu buat tulisan :).
Saya pribadi jika berkunjung ke blog lain, yang dilihat adalah bagian kategori, jadi ketertarikan membaca disesuaikan dengan kategori empunya blog, seandainya jika duniaely.com menaruh “kategori” paling atas menggantikan “Meta” saya kira itu akan lebih baik.
Satu hal yang mungkin jarang orang mau lakukan adalah menerima penulis tamu, tapi hal ini dilakukan oleh duniaely.com . Salut.

Dari sekian foto yang ada di duniaely.com, saya suka foto yang ini, tentang koran cetak

koran-cetak

Karena sempat terpikir akan masalah paperless dimasa mendatang, saat ini terus terang saja saya masih berlangganan koran cetak, karena banyak hal yang bisa didapatkan dari koran cetak tersebut, salah satunya agar orangtua saya yang sudah pensiun bisa menikmati berita dari koran cetak, seperti saat mereka masih bekerja dahulu, selain itu juga bisa tetap menjaga silaturahim dengan mbah pengantar koran, yang saya kenal sejak 25 tahun lalu.

Saya tahu dan sadar bahwa gambar yang saya pilih bukan termasuk yang ditawarkan untuk dijadikan postcard, tapi  jika suatu saat nanti koran cetak sulit didapat, setidaknya saya masih bisa mempunyai kenangan akan hal tersebut dalam bentuk benda cetak yaitu kartu pos.

“–“

“Kamu mau dikirimi kartu pos cantik dari Jerman?”

Tentang Pilihan

Kemarin siang gw dapat telp dari teman kerja ditempat lama (kayaknya itu mulu teman kerja ditempat lama.. ya gimana lagi, gw udah pindah kerja mulai tahun 2000 sampai sekarang ini tempat kerja yang ke 6)
Jadi teman ini telpon dari Kalimantan, awalnya tanya bagaimana tentang tim riset disana, siapa yang pegang dan gimana kerjanya.
Sempat gw bcandain, “kok Asmen turun langsung, biasanya yang turun setingkat Supervisor”, dia jawabnya sambil bcanda juga ‘iya nih mas, aku dibuang kayaknya”.
Obrolan berlanjut tentang rekan satu kantornya si X yang resign dan gw juga kenal, akhirnya gw cerita juga sebenarnya dari Oktober tahun lalu udah ketemu 3 kali ama X intinya pernah gwe tulis disini

Pembicaraan terakhir pas ketemu si X tanya kenapa gw santai aja kalo berangkat siang, terus kalo pulang bisa sore, ya gw cerita “Alhamdulillah ditempat sekarang ini enak, Boss gw ga nentuin gw harus datang jam berapa, pulang jam berapa, kalo jam kerja normal 8 jam kerja sehari, kalo gw berangkat siang, berarti pulang ya bisa disesuaikan, tapi emang untuk kerjaan yang butuh datang pagi juga ga bisa diganggu gugat, kayak tim telesurvey, ikut ketentuan 08.30-17.30.
Dengan datang siang gw bisa anter istri dulu walau cuma sampai tempat angkot, abis itu gw bisa momong anak dulu maksimal sampe jam 09.00 baru gw berangkat, kan emaknya pulang lebih cepat, jadi gantian momong anak.
Hari sabtu kalo ga kepaksa banget ada target gw juga ga masuk, itu juga gw berlakukan untuk anggota tim, jadi sabtu minggu itu bisa melakukan kegiatan lain, buat keluarga lah.
Terus si X bilang, kalo dia berangkat anaknya kadang belum bangun, bahkan kalo lagi banyak kerjaan pulang bisa sampai subuh.
Terakhir gw bilang, itu pilihan, elo dibayar banyak yang harus berikan sesuai dengan apa yang elo dapat, akhirnya ya si X resign.

Abis dengerin gw cerita, si asmen ini bilang “Iya mas, anakku kemarin pagi sebelum aku ke sini (kalimantan) bilang, “mama pulang tengah malam ya, aku kan tau waktu mama cium aku, tapi aku ngantuk jadi ga bangun”
Gw akhirnya bilang “semua pilihan ada konsekuensinya, terserah aja pilihan yang mau dipilih, idealnya sih secara materi dan keluarga itu secara kualitas bisa mendapat yang terbaik, tinggal dihitung aja kualitas untuk keduanya, karena kebutuhan, keinginan dan kebahagian tiap orang itu beda-beda”
Habis itu telpon terputus… Moga bisa mendapatkan apa yang terbaik buatmu kawanz.

IMG_5555

Pay It Forward

Pernah liat atau baca tentang Pay It Forward, ini ada ulasannya di sini “IMDB”  tapi gw bukan mau nulis tentang film tersebut, tapi hal tersebut bisa aja terjadi pada siapa aja,

Januari 2014, gw ketemu teman lama, dia cerita akhir bulan ini pindah kerja, emang sih dia udah ga betah, karena waktu buat anak dan istri makin berkurang karena sibuk ama kerjaan, dia bilang rada ajaib juga caranya, jadi sang istri ketemu mantan bossnya, si mantan boss minta tolong dicariin batik buat dibawah ke LN untuk koleganya. Pas batik udah didapat, ternyata ga bisa dianter karena anaknya sakit, dan teman gw itu juga udah berangkat kerja, pas banget mantan boss nya telpon minta dianter sebelum makan siang kekantornya, pusinglah istri teman gw ini, tapi memang sudah ada yang mengatur, tetangga sebelah rumahnya berangkat kerja rada siang karena harus anter anak kesekolah dulu, dan gedungnya bersebelahan dengan gedung dimana perusahaan mantan bossnya berada, lalu tetangganya menawarkan untuk dititipkan saja, dan paket tersebut sampai juga ke mantan boss nya, kejadian itu pertengahan 2013.

Selang 6 bulan kemudian, Bossnya kontak sang istri dan menawarkan pekerjaan kepada suaminya.

Februari 2009 gw mau balik ke Jakarta dari Manado, di bandara In’t Sam Ratulangi saat lagi asik baca buku nunggu boarding, ada orang berpakaian safari mendekati saya berbarengan dengan pramugari, terjadi tanya jawab :
OPS : Mas mau ke Jakarta?
Gw : Iya pak, kenapa?
Ops : Tujuannya kearah mana?
Gw : Bekasi
Ops : itu lewat Slipi mas?
Gw : iya,
Ops : Begini mas, komandan saya mau titip dokumen untuk anaknya di Pejompongan, kalau mas ga keberatan saya akan titip dan saya berikan nomer telp. nya, biar nanti anak komandan ketemu mas nya di Slipi.
Gw : (rada curiga) ya kalo gitu komandan bapak aja suruh kesini, biar jelas pak.
Ops : baik mas.
Trus orangnya telp, ga lama datang orang dengan seragam polisi, gw lirik ada melati tiga, kombes toh.
Kombes : saya titip dokumen buat anak saya mas, gpp kan?
Gw : gpp pak, nanti saya turun di Slipi, ketemu disitu aja, biar saya gampang naik bisnya lagi.
Kombes : ok mas, boleh liat KTP nya,
Trus gw kasih liat KTP gw n dia berikan nomer telp anaknya, n pesan kalau ke Manado lagi dan butuh bantuan agar kontak ajudannya.
Akhirnya gw anter dokumen ke rumahnya aja karena dekat kantor lama dulu di komplek PAM, baliknya gw dikasih uang taksi dan dengan gengsi gw tolak hehehe ga lah, niat gw bantu aja, akhirnya gw bilang siapa tahu gw juga berada di posisi dia, pas lagi butuh ada yang nolong, itu rasanya syukur yang terkira banget.

(Sebenernya nulis bagian gw ini udah sebisa mungkin gw hindari, tapi gw pikir gpp, karena ada benang merahnya, moga gw ga ada bermaksud riya.. aamiin)

Awal 2010 waktu gw masih di Sumatera, Gw ditelp teman lama, seminggu kedepan dia mau ke Medan, dan menanyakan apa ada yang bisa dibantu, gw bilang kalo ga keberatan tolong bawain netbook gw, tapi ada dirumah di Bekasi dan gw kasih alamat mamak teman gw di Medan buat dititipin karena posisi gw saat itu masih dia Aceh, dan dia ga keberatan untuk ambil, jadi dari kantornya diwilayah Kuningan, dia ambil netbook ditempat gw di Bekasi, terus pulang ke Pamulang.

Teman lama gw itu pada awal cerita tahun 2014 dan tahun 2010 adalah orang yang sama, gw takjub kalo inget, emang semuanya udah diatur oleh Allah SWT. Memang sih pembayaran itu bisa tunai (langsung), bisa ga langsung, bisa dalam bentuk lain, bisa dunia dan bisa juga buat tabungan di akhirat.
seperti yang gw pernah tulis juga disini  “Dibayar Tunai” 

tunai

Selamat hari rabu dan selamat bekerja kembali, jangan lupa bersyukur atas semua yang telah diberikan Allah SWT.

 

Jadul Belum Tentu Langka dan Mahal

Berhubung ada benda filateli jaman sekolah dulu alias prangko, yang pernah gw posting tentang surat cinta pertama  gw nyasar ikutan https://www.facebook.com/groups/PostcrossingID/
ini gara-gara Fathia  dan Mas Yayan aka Om Ndut  yang bergabung dalam komunitas Kartu Pos Indonesia.
Pas ikutan grupnya, eh malah ketemu orang-orang yang hobi filateli khususnya Prangko.
Akhirnya join di group https://www.facebook.com/groups/IndonesiaStampsCollectorsCommunity/
Di group tersebut diperbolehkan untuk jualbeli, banyak juga yang posting koleksinya dan bikin ngiler.

Dari group, dan tanya-tanya dapat juga member termasuk dalam kategori nyata dan dapat dipercaya dalam hal transaksi jual beli prangko, tapi akhir-akhir ini ada member, dan menawarkan prangko koleksinya dengan harga bikin kening berkerut.
salah satu contohnya prangko dibawah ini pada baris pertama dengan nominal Rp 30

IMG_5524

ditawarkan dengan harga 20juta boleh nego sampai harga 15 juta.

Banyak member senior yang udah puluhan tahun memberitahu secara halus, tapi yang menjual keukeuh bahwa ini barang langka, hingga diberikan link katalog prangko oleh salah satu member senior, tapi tetap ga ngaruh.

Memang, seharusnya bagi orang yang ingin bermain dengan benda filateli harus mempunyai pengetahuan terlebih dahulu, admin di group ini  yang sudah sangat senior bahkan membuat file tentang mengenal filateli indonesia yang dapat diunduh secara gratis disini http://officepromosi.com/1/Mengenal-Filateli-di-Indonesia.pdf
tapi tetap saja, yang jual ngeyel.

Iseng gw telusuri profil yang menjual, ternyata masih kuliah, sekitar 19-21, kalo gw ambil kesimpulan sih dapat koleksi prangko bisa dari kakaknya, kerabat atau orangtuanya seperti mendapat harta karun melihat nila yang tertera di prangko Rp 20 – Rp 30 keluaran sebelum tahun 1980 yang gw yakin dirinya belum lahir dan menganggap harta karun tersebut sangat berharga sekali.
Lha, gw aja beli prangko dengan nominal tertera 1 – 5 Sen aja cuma 50 ribu perak, ini yang nilai nominal lebih besar dan jumlah beredar lebih banyak minta dengan harga seperti itu.

Ada juga yang menawarkan prangko satu set lengkap (biasanya prangko untuk edisi tertentu seperti PON atau Sea Games dengan tiap jenis cabang olahraga yang dipertandingkan dibuat satu prangko) dijual seharga 10 juta. woowww….
Saat diberitahu tahu acuan katalog dan ternyata barang yang ditawarkan tidak senilai tersebut, tetap saja jurus ngeyel dipakai.
Bahkan setelah itu ada keanehan, ada akun facebook baru dibuat, bergabung dengan grup dan langsung melakukan penawaran dengan harga 7juta.
Mungkin dipikirnya seperti jualan obat, untuk menarik calon pembeli di-setting terlebih dahulu pasien dadakan yang notabene adalah temannya sendiri.

Untungnya para collector senior selalu mengingatkan akan hal tersebut, dan dari salah satu poin diskusi, banyak orang yang ga tahu (belum teredukasi) dan tertarik dengan benda filateli bisa jadi melihat taksiran harga dari tokobagus, yang dibilang langka langsung percaya, padahal jika mau cari tahu secara ekstra bisa jadi harganya ga sebombastis yang ditawarkan.

Tertawa diatas penderitaan orang lain

WIBWAY

Sadis, itu kalo baca judul diatas. Tapi sebenernya hal tersebut bisa aja terjadi pada siapa saja, khususnya di Jakarta ini.

Di Jakarta yang tercintah ini, iya lho beneran tercintah, walau orang ngedumel seperti apapun akan kemacetan yang terjadi, tetap aja dijalanin, wong sebagian besar mencari penghidupan dan bertempat tinggal di Jakarta.
Ngedumel itu bisa jadi sebuah solusi, solusi mengatasi kepenatan hati, bukan solusi mengatasi kemacetan, toh ngedumel itu sekarang bukan hanya ditumpahkan pada ember atau tembok tapi seluruh dunia bisa tahu, wong jejaring sosial turut mendukung untuk hal tersebut.

Solusi bagi pengguna jalan raya yang butuh waktu cepet mau ketempat tujuan ya harus berangkat lebih awal, syukur-syukur kalo wilayahnya dilewati jalur KRL -yang saat jam sibuk untuk menaruh kaki saja sulit- atau naik transjakarta.

Kalau sekarang naik Transjakarta, lumayan lancar sejak ada denda Rp 500.000, penyerobot jalur busway tersebut memilih mlipir, mana ada sih yang rela bayar denda lumayan gede gitu.
Gw pribadi acap ikut rombongan pemotor melintas jalur busway tersebut, tapipas banget lagi nonton tipi bareng istri bahas tentang hal tersebut, dan istri tanya apa gw juga ikutan jadi penyerobot, ya gw jawab apa adanya kalo emang suka nyerobot, akhirnya gw dijewer dan ga boleh nyerobot lagi.

Akhirnya gw sih emang udah ga nyerobot lagi, bukan karena takut gara-gara abis dijewer istri, tapi karena denda segitu gede mendingan buat beli pampers anak.
Solusinya gw ga pindah moda, kalo mau naik KRL dari rumah ke stasiun sekitar 4km, sedangkan 4km itu udah 20% jarak perjalanan, ataupun naik ATPB yang konek dengan transjakarta karena jarak ke halte terdekat 7km, jadi tetap memilih naik roda dua, walau emang kudu berangkat lebih siang agar ga kena macet n kalo pas berangkat pagi akhirnya milih mlipir lewat pemukiman yang relatif lancar.

Nah, kalo lewat jalan biasa yang macet itu gw kadang bersyukur bisa menikmati kemacetan n asap knalpot, tapi gw lebih bersyukur lagi kalo ada yang lewat jalur busway trus dipertengahan atau ujung jalur ada Polisi, dan gw yakin banyak yang kayak gw, tertawa diatas penderitaan para penyerobot jalus busway yang kena tilang itu.

Bukan Pemenang

Postingan gw dua minggu lalu ttgi tantangan terhadap anggota satu tim akhirnnya dimenangkan oleh yang suka berdandan, sehingga selamatlah dia dari penghapusan make up secara semena-mena oleh yang lain.

Kemenangannya disebabkan tiga hal, pertama dia naik motor, jadi bisa datang lebih pagi tanpa takut telat, kedua lawannya pada hari terakhir tidak ditelpon bapaknya (yang berada di Medan), ketiga adalah ancaman dari anggota tim lain jika yang suka berdandan kalah, maka akan dimusuhi, sadis memang…
Kalo gw ya jelas aja saya yang menang, ndilalahnya seminggu itu anak gw minta digendong terus kalo pagi sebelum n sesudah mandi, jadi gw sukses datang siang terus & jenggot gw aman, ga jadi rebonding.

Nah, sebelum yang kalah itu rambutnya dicatok, ternyata dia punya kesadaran diri untuk rebonding di salon, everybody happy? Secara tantangan ga ada yang merasa dirugikan, tapi secara disiplin yang rambutnya sekarang rebonding balik lagi ke pola lama, telat… walau ga separah dulu, tapi ada yang bikin senewen, izin cuti seminggu sebelumnya padahal saat tanggal cuti tersebut saat dimulai proyek baru, yang bikin ga habis pikir ternyata tiket yang dibeli sudah 4bulan sebelumnya.

Gw dan manajemen tidak memberikan izin, tapi nekat berangkat juga demi tiket agar tidak hangus, ujung~ujungnya gw kena tegur bozz. Ya sudahlah, selamat berlibur dan gw akan memberikan cuti selamanya dari tempat kerja ini.

Sampah Masyarakat

“Alhamdulillah, akhirnya mati juga”

Sebagian caci maki ditujukan pada almarhum suamiku yang meninggal tadi malam akibat timah panas.  Pandangan negatif dari para tetangga ditujukan pada suamiku yang gondrong dan bertato disekujur tubuhnya.  Aku hanya dapat mendekap erat anak semata wayang kami yang berusia 3 tahun sekaligus menekan rasa sakit  didada.

“Cuih… tuh kan Polisi datang, dasar kriminal! pasti berhubungan dengan kejahatannya” ucap tetangga depan rumahku.

“Selamat siang bu Cindy, kami turut berduka cita atas meninggalnya AKP Alexander, beliau adalah salah satu anggota Reskrim kami yang paling handal, kesatuan kami sangat kehilangan beliau” ucap Kapolres dimana suamiku dulu bertugas dengan takzim.

phh

Diikutsertakan dalam #FF100Kata 

 

Edusextion

“Ah uh ah uh”
Suara dari gadget yang kutonton membuat libidoku naik, link film tersebut kudapatkan dari teman karibku. aku beranjak kekamar mandi untuk melampiaskan agar kepalaku tidak makin pusing.
Minggu ini aku mengikuti ajakan karibku untuk mencari kenikmatan yang sesungguhnya, semuanya ditanggung beres olehnya.
Lambat laun aku jalan sendiri tanpa karibku untuk menuntaskan semua hasratku.
Aku mabuk kenikmatan duniawi.
Hingga…

“Gimana Dok, virus ini ada penawarnya?”
“Adik seharusnya memikirkan akibatnya sebelum berbuat jauh, kalau download film dari warnet ya begini akibatnya, emang puas sih karena lebih cepet, tapi mestinya adik install dulu antivirus di gadgetnya” ucap dokter laptop padaku.

virus

Diikutsertakan dalam #FF100Kata 

Note :

* Mari jauhkan pornografi dari anak , Ref : Blog mas iwan disana juga banyak link tentang dampak pornografi. salah satunya di blog mas dani