[Dua Sisi] Simalakama, Bantuan & Posko

Kemarin, jalan ke Kp Melayu, tepatnya ke kelurahan Kp Melayu, termasuk Kelurahan Selebritis pada saat Banjir besar melanda Jakarta.

Disana bincang-bincang sejenak dengan pak Lurahnya. pada saat datang, pak Lurah sedang sibuk bertelepon ria. Setelah itu, barulah ngobrol-ngobrol.

Kalau masaah banjir, itu sudah rutin, dan nyaris 90% wilayahnya termasuk wilayah rawan air.
Jadi untuk penanganan banjir (yang biasa) seperti untuk pengungsian, dan logistik sudah lumayan cara penanganannya. Kecuali pas Banjir kemarin. itu memang diluar dugaan. dan Kesibukannya makin luar biasa.

Nah, kembali keawal.. Pak Lurah yang sedang bersibuk-sibuk ria itu ternyata ditambah bonus sibuknya dengan para pengungsi dan pemberi bantuan (relawan, Posko)

Yah, semuanya mengerti kalau banjir tersebut membuat segalanya yang terkena banjir menjadi lebih sulit. Didalam rumah tergenang lumpur, banyak perabotan yang tidak bisa digunakan lagi. dan masih banyak kerugian lainnya.

Pengungsi & Bantuan
setelah banjir berlalu, mulai banyak yang meninggalkan posko, tetapi masih banyak yang bertahan.
Sebenarnya para pengungsi sudah bisa pulang, dan mulai membersihkan rumahnya,  Tetapi mereka lebih memilih tinggal, karena di posko keadaannya lumayan terjamin.
Dan mereka mencoba bertahan di tempat itu. Selama Posko masih ada, dan mereka masih disana, bantuan akan terus masuk.

Akhirnya kepala suster di santa maria, komplain. karena pelajaran jadi terganggu.. Setelah negosiasi dan waktunya di undur, tetap juga tidak mau beranjak 🙂
Nah, pas aku disana itu, pak Lurah baru selesai berunding dan para pengungsi dengan wakilnya membuat surat pernyataan diatas materai bahwa pengungsi sudah harus meninggalkan santa maria hari ini .. Aku baru membaca berita didetik setelah diberitahu temanku

Posko
Posko yang berada dipinggir jalan juga perlu dipindahkan,  tujuannya agar tidak menganggu kelancaran lalulintas. Para pemilik Posko pada komplain, kenapa disuruh dibongkar.
Ternyata berita yang tersebar seperti itu, padahal pihak kelurahan meminta agar posko dipindahkan, dan tidak memerintahan buat dibongkar dan sudah ada ketentuan waktu beroperasinya posko…
aku jadi berpikir, kalau membantu harus dengan spanduk tulisan gede-gede ya?  atau ini merupakan media iklan terselubung? 😀

Dari satu sisi, dalam hal membantu korban banjir, banyak sudah melaksanakannya,
Tapi kalau melihat dari sisi yang satu, seharusnya bisa disikapi dengan Arif. Toh tidak bisa terus menerus menunggu bantuan, tetapi juga harus bekerja untuk kembali beraktivitas pasca banjir.

Dan para posko yang mewakili apapun itu, entah Partai, Partai dan Partai ..  ups.. ralat, entah itu Partai, Golongan, atau Komunitas serta Perusahaan atau Kelompok
bisa lebih membaca situasi untuk membantu dengan cara yang lain, jika bisa turun langsung no problem, kalau dalam bentuk sumbangan misalnya jangan Mie lagi Mie lagi 🙂
Apapun Minumannya, makanannya Mie Instant haduh….

Pada saat ini, peralatan yang dibutuhkan adalah peralatan untuk membersihkan lumpur, peralatan memasak serta alas untuk beristirahat.

Ah… seperti yang temanku bilang… “Inilah Indonesia…. “