[Iseng] Peran dan Topeng

Seperti lagunya Goodbless, yang dinyanyiin ulang oleh Teh Nicky “Panggung Sandiwara”, ada peran yang kita jalankan didunia ini.
Peran sebagai orangtua, sebagai anak, sebagai pendidik, sebagai murid, sebagai boss atau pekerja, dan banyak lagi peran yang lain.

Aku menyebutnya peran, mungkin beda dalam istilah sosiologi yang lebih dikenal dengan status (CMIIW) Dalam peran yang kita jalankan ternyata tidak hanya satu peran saja, tapi berbagai macam peran bisa dimainkan.
Bisa saja pada saat dirumah seseorang berperan sebagai seorang suami bagi istri  dan sekaligus sebagai ayah bagi anaknya. Tetapi pada saat ditempat kerja, dia bisa sebagai Boss atau karyawan.

Dan kadangkalapun kita bisa berperan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada..
berperan disini dalam artian Positif, bukan negatif. nah, itu sebagian kecil tentang peran yang kita jalankan.

Dunia ini panggung sandiwara
ceritanya mudah berubah
kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani
setiap kita dapat satu peranan
yang harus kita mainkan
ada peran wajar dan ada peran berpura-pura

Adalagi satu lagi tentang “Topeng”
Kalau temanku bilang, kita semua ini adalah pemakai dan penyimpan bermacam-macam topeng..
Alasannya, pada saat seseorang berada disuatu tempat bertemu dengan orang lain, maka orang tersebut akan menggunakan topeng yang sesuai dengan situasi dan kondisi
dimana dia berada.
Okelah, itu pendapat temanku.. aku juga ga bisa menyalahkan, Toh kita bisa bebas berpikir dan mengungkapkan semuanya selama ga merugikan orang lain.

Kalau dalam versi Topeng itu, ada satu topeng yang aku anggap paling berbahaya yaitu topeng Bunglon.
Jika untuk penyamaran diri dari melindungi musuh yang hendak menyerang,  itu tidak masalah, karena untuk proteksi diri..
Tapi jika sudah dipakai untuk menyamar dan digunakan untuk menyikut sana sini itu yang paling berbahaya, bisa membuat keadaan tidak nyaman, yang penting tujuannya tercapai..
Ini yang berbahaya sekali, bisa saja dalam dunia kerja kolega atau teman kita  bermuka manis, tapi tanpa kita sadari menikam dari belakang.
dan bisa saja dalam satu komunitas ketika kita sudah percaya pada teman kita dan menceritakan sesuatu hal, ternyata hal itu menjadi bumerang bagi kita sendiri.

So, lebih baik kita berjaga-jaga dan lebih memiliki mata hati yang bersih agar dapat bisa melihat hal-hal yang luput dari pandangan kita.

*lagi iseng posting lagi dari blog di FS, setelah habis belajar sama teman tentang masalah konsekuen dan putar balik*

Advertisements

[Aku Belajar] Menari Bersama Hujan

4 Feb 07
Minggu jam 06.10 ada telpon dari temanku, minta buat dijemput, tempatnya kebanjiran.
07.10, udah nongkrong diatas Tol Pulomas, Lumayan bisa naik motor di Tol.. 😀
enggak lima tahun sekali bisa lewat tol …. :p

Ternyata temanku yang mau ngungsi dari Kelapa Gading blum datang…
sambil nunggu aku turun kearah pintu keluar didepan Trisakti, udah pada kumpul para penjual jasa ojek gerobak,
antri dengan tertib menunggu orang ingin menyeberang.
yah.. ga lama hujan… ah… akhirnya bisa menari bareng hujan hujan…
Semua berusaha berteduh dibalik truk yang terjebak banjir.

Hujan berhenti, Tampaklah orang-orang yang tadinya ngumpet bermuculan.

Ternyata ada tukang Roti, lumayan buat ngisi perut dicuaca yang dingin gini.
Iseng iseng aku tanya knapa tetap berjualan, karena dimana-mana banjir
bapak tersebut bilang “yah, alhamdulillah rumah saya ga banjir, jadi saya tetep bisa cari uang.. kalau dimana-mana banjir saya diam disini aja dulu. Toh cari Rezeki ga harus berkeliling disini juga bisa, nanti siang-siangan baru pulang,, abis ga tau kondisinya banjir dimana-mana…”
*percakapanku terputus karena ada orang yang membeli roti si bapak, dan aku segera menyingkir untuk melihat para Tukang Ojek Gerobak yang menjual jasanya, bermacam-macam gerobak mereka pakai, ada yang gerobak sampah, gerobak untuk memulung, gerobak Roti (gerobak sari roti) dan gerobak bahan material..

Diantara orang-orang yang berada di pintu keluar itu, ada orang yang menarik perhatianku.
Seorang bapak yang mengendong karung dan mengambil botol serta gelas plastik bekas air mineral.

Ketika sampai didekatku, aku bertanya.. “dapatnya banyak pak?”
“yah, lumayan lah… lebih banyak rezeki saat banjir” sibapak menjawab pertanyaaku sambil mengambil botol mineral.
“ga bawa gerobak pak? kok pakai karung gini?” aku tetap menerskan pertanyaan
“itu, ada saya tinggal dibawah jembatan..” sembari membersihkan botol yang kena tanah dengan air luapan banjir.

aku makin penasaran..
“ndak ikut bersama dengan teman-teman pak… buat membantu orang yang membutuhkan penyeberangan?”
sibapak yang sibuk membersihkan botol langsung berhenti lalu menatap aku dan bilang..

“Saya orang susah, dan mereka juga sedang susah, ga usah cari duit dari yang kesusahan.
Gini aja saya udah bersyukur, rezeki saya tambah banyak dari barang-barang yang kebuang..”

belum sempet ngomong apa-apa lagi.. turun hujan lagi… ya, akhirnya sibapak pergi berteduh, dan aku meneruskan menari bersama hujan, berakhirlah moment belajarku hari itu dari dua orang bapak..