Its My Life – Toleransi dalam MP?

Dibandingkan dengan jejaring sosial yang lain, mulai dari FB, twitter hingga yang berbasiskan blog seperti Blogspot, WordPress dan lainnya, Multiply banyak mempunyai keunggulan, salah satunya bisa menyetel posting hanya untuk yang dikehendaki, mulai untuk “semua”, “Jaringan”, kontak atau bahkan hanya untuk orang-orang tertentu saja yang tentu saja sudah mempunyai akun di Multiply.
 
Selain itu salah satu yang membedakan dengan blog macam kompasiana atau forum adalah dengan “tidak adanya admin” kecuali jika “dibutuhkan” maka admin bisa ‘ujug-ujug’ muncul macam suster ngesot atau nenek gayung, dan biasanya kemunculan itu yang berhubungan dengan keadaan yang diindikasikan akan menganggu jalannya “stabilitas” perusahaan maka “admin” akan bisa malih rupa menjadi apapun yang dikehendaki, namanya juga malih rupa, bisa aja masuk kemanapun sesuai kehendaknya.
Nah, tulisan ini bukan untuk membahas admin, tapi mau dimuncratkan tentang apa sih ketentuan yang harus dilakukan untuk posting di multiply.
 
Setahu saya, tidak ada ketentuan untuk mau mem-posting apapun, bebas-bebas saja, mau posting tentang review film, buku, kaset, tempat makan dst bisa di kolom review, mau posting tentang tulisan ga jelas hingga serius bisa di kolom Journal, mau menulis singkat bisa di notes. terus tema yang diangkat juga tidak ada ketentuan. tapi ada beberapa orang yang konsisten dengan tema dan diberi tanda dalam kurung […..] untuk menunjukan tentang tema postingannya.
 
Sepembacaan saya tentang para mpers ini, sudah cukup beragam dalam membuat tema postingan, mulai dari kejadian yang baru dialami, catatan perjalanan entah itu perjalanan yang berhubungan dengan pekerjaan atau perjalanan wisata, jurnal tentang keluarga atau bahkan tulisan yang hanya untuk mengundang percakapan melalui komentar.
 
Mungkin ada beberapa tema bagi orang lain dianggap terlalu terbuka sehingga membuat jengah, tapi bagi sebagian orang hal itu adalah hal biasa, mungkin saja ada yang menulis notes “mamah, papah sangat puas atas layanan mamah tadi malam, mamah udah bantu dorong mobil sejauh 1km hingga ke SPBU Shell, .. lop u pul deh” atau hal-hal yang berhubungan dengan keintiman dalam rumah tangga lainnya.
Hal ini saya pikir sah-sah saja, orang mau curhat, berdo’a, menyindir bahkan ngambek dalam bentuk postingan silakan saja, tapi… tujuannya perlu dilihat lagi, apakah ingin sekedar berbagi, ingin benar-benar murni untuk mencurahkan uneg-uneg atau mendapat perhatian dari orang lain? terus terang hanya penulis jurnal yang tahu, karena hal ini juga akan berpengaruh terhadap persepsi orang lain yang membaca postingan si penulis.
 
Dengan contoh notes “mamah-papah” di atas yang kearah hubungan lebih personal, jika di-setting untuk everyone sepertinya akan timbul persepsi bermacam-macam, tapi jika diposting untuk “network” atau “contact”, bisa saja ada yang mengerti walau dapat dipastikan ada juga tanggapan yang berbeda, semua perbedaan tanggapan itu bisa di amini atau bahkan bisa juga kontra.
 
Kembali lagi ke tujuan, jika tujuannya hanya menulis tanpa menginginkan tanggapan, fitur di multiply sangat mendukung akan hal ini. misal penulis hanya ingin posting dan agar orang lain tahu, tapi kita tidak ingin tanggapan, maka kolom komentar dapat ditutup, dan jika ingin diposting agar orang lain bisa turut membaca tapi juga tidak mengganggu dengan kemunculannya di inbox, bisa tetap di-setting untuk everyone-network-contact dengan memilih agar tidak muncul di inbox.
Hanya untuk diingat, bahwa akan tetap ada bahwa sebagian orang suka dengan anda dan sebagian orang tidak suka dengan anda, jadi semua pilihan terdapat pada diri sendiri.
Selamat hari senin dan selamat beraktifitas kembali.
 
Tulisan ini dibuat karena membaca postingan Ihwan disini Mozaik Diri Ketika Niatan Berbagi Dimaknai Berbeda dan tulisan Dani disini tentang Toleransi
Advertisements

Semua udah diatur

Pulang jam berapa? itu subjek pada email, isi sekaligus pertanyaan.
Jam delapan dari sini, ada apa? tulis saya pada subjek email, lalu saya kirimkan
Aku mau ketemu, Jam 9 di BK Buaran, penting balasnya kembali pada subjek email
Ok.. kamu yang traktir ya, balas saya kembali
Itu adalah hal yang biasa kami lakukan, jarang sekali saya sms atau bertelepon dengan adik ketemu gede ini saat di Purwokerto dahulu.
 
Saat bertemu, terlihat matanya yang bengkak seperti habis menangis.
“Ada masalah apa? mas mu ama anak-anak mana?” tanya saya
“Mas ga ikut, aku udah izin, salam dari mas, kalau sempat nanti aku dijemput”
“wa’alaikumsalam, iya tadi si mas juga sms minta istrinya dipulangkan dalam keadaan utuh”
saya menunjukan sms dari suaminya.
“jadi ada apa sebenarnya?”
 
lalu mengalirlah cerita kalau dia dan suaminya sering “diledek” oleh orangtua sepupunya, diperbandingkan dengan sepupunya yang baru saja membeli mobil, usia mereka terpaut 5 tahun, tapi sepupunya itu lebih berhasil secara ekonomi.
Setelah mengalir semua cerita, barulah saya bertanya
“kamu percaya bahwa semua ini sudah ada yang mengatur? termasuk rezeki?
dia mengangguk,
lalu saya lanjutkan, “anak itu kan merupakan rezeki, kaalo kamu mau hitung-hitungan, silakan hitung aja, berapa biaya yang telah kamu keluarkan untuk 3 anak kamu hingga saat ini, lalu kamu bandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk membeli mobil oleh saudara sepupumu.
itu yang pertama, lalu yang kedua kamu ga mikir kalo setiap kamu dan mas mu pulang kerja, pas lagi cape2nya ngeliat anak udah tidur, kalian cium, kalau libur kalian ajak jalan walau dengan naik dua sepeda motor, belum lagi kalau mereka ribut akan sesuatu, itu emang bisa dibayar dengan mobil?
bayangin kalo anak kamu ditukar ama mobil, pulang kerja yang kalian elus-elus mobil, pas liburan kalian berdua jalan-jalan naik mobil, tanpa ada tawa anak-anak atau nangisnya anak-anak.
Mungkin orangtua sepupu kamu meledek agar kalian terpacu agar berusaha lebih keras sehingga bisa membeli mobil, bisa aja mereka merasa kasihan kalo kmana-mana kalau ga naik motor, kalian naik angkot.
Nah gimana, apakah rezeki anak mau dituker ama rezeki mobil?”
 
Cemberut saja wajahnya, lalu saya beranjak pergi. “Eh tunggu, kamu mau ninggalin aku ya, nanti aku bilangin ama mas kalo aku ditinggal”
“tuh mas kamu udah datang” -saya menunjuk sahabat saya yang telah menunggu diparkir motor, lalu saya meninggalkan mereka berdua.
Hp saya bergetar, sebuah sms masuk “thx bro tadi kontak, jadi bisa dengerin langsung, do’a kan kami ya”
“sama2, do’akan saya juga” lalu saya pencet tombol send, undelivered… yah ternyata pulsa saya habis.

Anda Siapa?

Lupa dengan orang itu biasa terjadi, seperti saat Ultah MPID tahun lalu, saya terlupa dengan Ai yang pernah bertemu, lupa nama om Dedy padahal sering liat foto najisnya dimana-mana.
 
Dan ternyata ga butuh waktu lama saya mendapatkan balasan, saat acara pestawirausaha saya mengunjungi booth nya omali, saya sapa apa kabar, dan dijawab baik, dari sini omali kelihatan bingung, saya ini sebenarnya siapa?.
Perbincangan berlanjut, Omali menanyakan rambut saya kok tidak gondrong? saya bingung, karena saya bertemu omali hanya saat ultah MPID dan hanya sempat bertanya kabar, dan rambut saya sudah tidak gondrong lagi, saya menangkap omali masih meraba siapa ini lawan bicaranya, mau menanyakan nama langsung pasti malu lah 😀
 
Lalu saya menanyakan apakah ada MPers yang sudah datang, omali bilang belum ada, kecuali Ai yang katanya akan datang.
Saya sebenarnya hanya ingin memberikan clue kalau saya ini mpers juga, dari hal tersebut, omali sudah tidak terlalu kaku, mulai mencair tapi tetap saja masih bingung terlihat diwajahnya.
 
Setelah ngobrol kesana kemari, lalu saya bilang akan memotret omali untuk saya kirimkan ke group bb nya MP, dari sini omali tersenyum sumringah, karena sudah mendapat jawaban secara tidak langsung, dalam group itu hanya ada 3 pria, omali, om Dedy dan saya, lainnya emak-emak semua :p
baru deh omali berbicara yang menunjukan dia kenal siapa saya “ente masih seneng aja pakai hitam-hitam”
 
Disatu sisi saya mau memberitahu omali dari awal, tapi disisi lain saya tersenyum kecut bahwa ini sepertinya balasan karena saya juga pernah seperti omali, yang lupa dengan nama teman 🙂
 
Sudah jam satu.. saatnya kembali kerja…. Selamat bekerja buat semuanya, semoga teman-teman tidak lupa dengan kenalan atau teman yang sudah lama tidak berjumpa 🙂

Ketika saya salah dan nyaris ngeyel

Minggu lalu saat selesai meeting dengan pimpinan salah satu majalah bisnis dan management, sempat ada joke terlontar, jadi ceritanya ada seorang teman rekan saya berasal dari Jogja bekerja di Surabaya, Nah kalau di Jawa Timur kan sudah terkenal dengan boso jawatimuran yang kebetulan teman ini tidak mengerti secara dalam, terus berceritalah kepada rekan saya
“aku ga betah pak, aku mau pindah kerja aja, habis aku ga ngerti boss ku suka bilang gini
-jancuk…. kerjamu kreatif tenan- itu boss ku ngomongnya sambil senyum-senyum, terus pas lain waktu juga bilang -jancuk kerjamu itu gimana? gini aja ga becus”
jadi aku bingung sebenarnya kerjaku itu jelek atau bagus”
Walhasil teman ini akhirnya keluar dari kerjaanya dan kebetulan ditawari pekerjaan di Amerika, tapi ga lama teman ini cerita kembali ke rekan saya “wes, aku ini bingung tenan, disini boss ku suka bilang sama aku pas ngasih kerjaan “fucking good job man, terus dia juga suka bilang You are fucking bad” aku beneran ga ngerti kerjaanku itu good, bad atau fucking” aku mau balik aja ke Jogja, bantuin simbok tani ae lah”
 
Mungkin bagi teman-teman yang asal Jawa Timur atau yang pinter bahasa Inggris bisa langsung mengerti apa maksudnya, kalau saya terusterang saja bukan berasal dari Jawa Timur dan ga ngerti bahasa Inggris perlu ekstra lebih waktu untuk mengartikan dan bisa mengerti hal tersebut.
sama seperti saat saya posting disini terus terang saya ga ngerti apa artinya itu tulisan di kaus, cuma mengartikan selintas “gue ga respek” dan saya ditegur teman dari kantor lama yang suka baca MP saya.. “kamu kasar sekali dengan menuliskan hal seperti itu”
 
Dari sini saya mulai berpikir kalau menulis sesuatu yang berhubungan dengan kalimat apalagi yang berbentuk frasa kudu bener-bener tahu artinya, jangan cuma selintas mengartikan karena bisa saja artinya jauh dari apa yang dimaksud.
Saya juga membaca jurnal tentang Whistle Blower disini diterangkan arti dari kata tersebut, jadi orang yang membaca jurnal mengerti dengan apa yang dimaksud oleh penulis jurnal.
Sebaliknya saat saya membaca jurnal tentang membesarkan multiply indonesia disini
pada komen tersebut ada kalimat “get a life” tapi ternyata arti yang dimaksudkan ternyata berbeda dengan arti yang sebenarnya, hal itu diterangkan oleh mbak Irma.
 
Dalam bahasa indonesia pun juga ada frasa yang artinya negatif, hal ini pernah saya alami dengan beberapa teman ditempat lama, kami biasa saling email dan pada suatu saat membahas tentang personal branding, disini saya berkata agar kita untuk menjual diri agar mendapat uang lebih banyak, dari sekian teman tersebut ada yang protes dan bilang kalau saya dan teman2 dari riset sangat kasar, kebetulan teman yang protes tersebut dari bagian finance. Dan saya baru menyadari setelah ditegur, karena tidak semua yang ikut dalam email adalah orang riset yang berhubungan dengan bahasa marketing.
Apakah saya dan teman-teman riset merasa marah dibilang kasar? tidak, saya dan teman-teman riset tidak marah karena kami menyadari bahwa penerima email itu adalah semua teman-teman dari berbagai lintas divisi, justru dengan adanya hal tersebut saya dikoreksi, saya sih ga ngeyel mempertahankan pendapat kami karena saya yang salah dan memang berada pada forum lintas divisi, lain halnya jika hanya divisi riset saja yang berkata seperti itu, karena kami saling mengerti.
 
Dan saya juga menyadari bahwa ada kalimat yang salah dengan bilang “Kita menjual diri” sekali lagi “kita” itu adalah bahasa yang ditujukan untuk semua yang terlibat dalam email lintas divisi, padahal belum tentu semuanya mengerti dan setuju dengan maksud tersebut, memang seharusnya saya gunakan kalimat nama saya sendiri serta saya sebutkan nama yang lain satu persatu (yang mengerti) atau saya sebutkan divisinya.
 
Kesimpulannya sih (buat saya, terserah jika yang membaca setuju atau tidak) mau nulis dimanapun saat membahas sesuatu jika ada hal yang samar atau berindikasi membuat salah tafsir lebih baik dijelaskan lebih dahulu, apalagi untuk kalimat dari bahasa asing yang belum tentu arti sebenarnya sesuai dengan apa yang dimaksud.
 
Selamat bekerja kembali, dan selamat membuat kopi karena ini adalah “jam ngantuk”
*ini juga frasa yang salah.. mana aja jam ngantuk.. :p :p “

Sahabat itu adalah………

Artikel ini ditulis salah satu sahabat baik saya, kami bersahabat sebelum kenal dengan multiply, saat di multiply, meninggalkan multiply dan tetap keep in touch saat saya di Jakarta dia di Tengah Laut, Saya di Medan dia di Jakarta, saya di Pedalaman Aceh dia di Karawang dan saya kembali ke Jakarta dia Pergi ke Medan.

Paragraf terakhir adalah perenungan paling mendalam atas tulisannya tersebut. Selamat membaca

Thanks tetap menjadi sobat saya hingga sekarang.

Sumber : http://iwan95.multiply.com/journal/item/148/Teman

==================================================================================================

 

Teman.

Satu kata yang multi intepretasi.

Masing-masing orang punya definisi yg berbeda tentang makna kata ’Teman’

Konsep ’teman’ di benak saya pada mulanya adalah seseorang yg selalu setia kemana pun saya pergi. Seseorang yang selalu sependapat dengan pendapat saya. Seseorang yang akan selalu membela dan menyelamatkan saya ketika dalam bahaya. Dan tentu saja tidak berkhianat.

Dan konsep itu juga berlaku sebaliknya pada saya. Saya merasa belum menjadi ’teman’ seseorang ketika saya tak mampu berlaku setia, selalu meng-amini pendapatnya, selalu membela dan menyelamatkannya ketika ia dalam bahaya (bahkan tak peduli apakah ia dalam posisi benar atau salah sekalipun)

Konsep tersebut bertahan cukup lama dalam alam pikiran saya. Kemudian seiring waktu mengalami sedikit pergeseran perlahan tanpa saya sadari. ’Teman’ bagi saya kemudian menjadi seseorang yang selalu siap dijadikan tempat berkeluh kesah, tempat berbagi dalam suka & duka, tempat menceritakan ide-ide gila, tempat melontarkan harapan-harapan masa depan, bahkan menjadi tempat kita menitipkan rahasia-rahasia pribadi saya.

Konsep ’Teman adalah Segalanya’ juga menghinggapi alam pikiran saya. Memiliki teman sebanyak-banyaknya adalah obsesi saya. Namun untuk mengejar obsesi tersebut juga memiliki konsekuensi logis, yaitu tidak sanggup berlaku adil dan jujur kepada hati nurani saya. Ketika ada seorang teman berbuat kesalahan kepada teman yang lain, saya tak sanggup untuk mengingatkan/menegur degan cara terbaik terhadap kesalahannya itu. Hal ini bisa terjadi karena saya terlalu takut kehilangan teman. Saya berpikir ”Jika saya menegurnya jangan-jangan nanti ia akan berbalik memusuhi saya, dan pada gilirannya saya akan memiliki musuh yang besar kemungkinan akan bertambah jumlahnya”.

Saya merasa amat sangat sedih dan teramat susah tidur ketika mengetahui ada satu saja orang yg memusuhi saya, terlebih dia sebelumnya adalah orang yang saya anggap ’teman’ saya. Alhasil, dalam dunia ’pertemanan’ saya tumbuh menjadi pribadi yang terlalu akomodatif dan serba maklum terhadap semua sikap/perilaku teman bahkan tak jarang menjadi orang yang tak berprinsip. (atau jangan-jangan prinsip saya waktu itu adalah ya itu tadi, teman adalah segalanya di atas kebenaran itu sendiri). Dan bisa jadi ada beberapa orang yang kemudian menganggap saya telah berkhianat kepadanya karena saya hanya bisa diam ketika ia disakiti oleh teman saya yang lain.

Pendeknya, rasa takut dimusuhi dan kehilangan teman menjadikan saya buta akan nilai-nilai kebenaran yang seharusnya diletakkan pada prioritas utama. Saya menjadi seorang pengecut untuk berkata benar sesuai fakta. Bahkan terlalu pengecut untuk menjadi saksi dari kezaliman yang terjadi di depan mata saya sendiri.

Sampai Akhirnya….

Berbagai peristiwa hidup membuat saya terus belajar dan berusaha mencari hikmah dibaliknya walau seringkali terlalu mahal harganya.

Teman & Musuh dalam Hidup adalah Keniscayaan. Bagi anda yang percaya konsep adanya mahluk Tuhan bernama Setan (kata ’Setan’ ini lebih tepat sebagai kata yang menunjukkan PERAN untuk membujuk manusia ke jalan keburukan, karena Setan bisa berujud jin maupun manusia) maka pasti akan meyakini pula bahwa orang yang dicintai Tuhan adalah orang yang sangat dimusuhi Setan dan sebaliknya. Dan selalu terbuka kemungkinan bahwa orang-orang yang selama ini kita anggap ’teman’ sesungguhnya telah menjalankan peran-peran ’setan’ dalam mempengaruhi kita. Juga sebaliknya, kita sendiri bisa jadi memainkan peran ’setan’ kepada teman-teman kita.

Kemudian saat ini, saya mendefinisikan teman adalah seseorang yang ketika berinteraksi dengannya (atau dalam beberapa kasus bahkan hanya cukup dengan mengingatnya) membuat kita kembali mengingat Tujuan Besar Hidup kita di dunia ini. Dan terbuka peluang bagi kita untuk berbuat sebaliknya kepadanya.

Bagi anda yg percaya Tuhan, percaya Kehidupan Setelah Mati, percaya Konsep Dosa & Pahala maka teman yg baik adalah orang yg ketika berinteraksi dengannya akan membawa anda kembali ke pertanyaan dasar tentang Hakikat Hidup dan Kehidupan anda. Pertanyaan-pertanyaan dasar seperti; “Untuk apa aku harus hidup?”, “Mengapa hidupku harus seperti ini?” mungkin akan menjadi trigger/pemicu untuk kembali menggali makna sejati tentang Hidup dan Kehidupan Diri.

Dengan definisi ‘Teman’ yang terakhir ini Insya Allah akan menjadi rangkuman dari definisi-definisi saya tentang ’Teman’ sebelumnya. Artinya, ketika saya memutuskan berteman dengan seseorang yang saya duga sebagai orang yang menularkan ‘virus’ ketaatan pada Tuhan yang saya yakini (beserta segala konsekuensi dari keyakinan tersebut) maka paling tidak orang tersebut minimal juga akan berlaku amanah terhadap ‘pertemanan’ kami. Insya Allah pertemanan atas dasar sebuah IDE yang lebih HAKIKI akan lebih immortal atau abadi. ‘Teman’ seperti ini Insya Allah juga akan ikut merasa sakit ketika kita disakiti, ikut bahagia ketika kita berbahagia, lebih setia dalam menjaga rahasia-rahasia kita, lebih berani membela ketika kita dalam bahaya. Dan setidaknya ia tak kan berkhianat.

Episode Tentang Nita

Pukul 23.03 ada misscall, tapi saya tidak mendengar karena sudah terlelap, saat bangun satu jam setelahnya saya baru memperhatikan yang telp ada lah mbak Niez, saya sms bertanya ada apa, dan mendapat balasan jika Nita telah tiada, tidak percaya saya langsung telepon mbak Niez, dan diberitahu kembali bahwa Nita kita telah tiada, saya terdiam mencoba konsentrasi atas apakah saya mimpi atau salah dengar, lantas dilanjutkan bahwa mbak Niez melihat dari FB nya Nita, kakaknya yang menuliskan berita tersebut.
Tidak banyak percakapan dengan mbak Niez, saya sempat terdiam dan mengambil beberapa kemungkinan apakah berita ini bohong atau tidak, bisa saja ada yang membuka FB Nita dan menuliskan hal tidak benar, sambil mencoba membuka multiply, muncul sebuah pikiran yang tidak masuk akal, saya sms ke hp Nita, tidak ada balasan

Saat Multiply terbuka, terdapat beberapa QN mengabarkan berita duka tersebut, belum sempat saya buka satu persatu telpon saya bergetar, rupanya Nita menelpon saya, saya angkat yang muncul adalah keheningan, lalu terdengar suara lelaki yang memperkenalkan diri sebagai adiknya Nita, dan menanyakan apakah saya mas Wibi temannya Nita, saya jawab iya dan dijelaskan oleh Edwin bahwa berita tersebut benar adanya.

Lemas saya mendengarnya tidak menduga hal tersebut terjadi, lalu saya baca QN satu demi satu yang mengabarkan berita tersebut hingga saya tertidur dengan hp masih tergenggam ditangan.

Pagi hari berbarengan dengan mbak Arni menuju kediaman orangtua Nita, kami waswas tidak sempat melihat Nita untuk yang terakhir kali, untungnya saat melewati mesjid terdengar pengumuman yang memberitahu untuk men-shalat-kan almarhumah, setengah berlari saya meninggalkan mbak Arni untuk ikut serta dalam barisan jamaah shalat jenazah.
Dipemakaman saya menyalami ayahanda Nita dan memperkenalkan diri, tanpa saya duga saya dipeluk dan ayahanda Nita berlinang airmata sambil berkata “maafkan Nita nak Wib… maafkan” hal tersebut berulang kali terucap. Saya hanya mampu memapah, ditemani oleh salah seorang tetangganya.
Terus terang saat tangan saya digenggam erat saya terbayang itu adalah bapak saya sendiri sedang menyalami teman-teman saya…

Saat akan dikebumikan, teringat kembali episode-episode bagaimana bertemu dengan Nita, dimulai kopdar bagi panci di danau UI, dilanjutkan dengan menemani cak Nono berkeliling Jakarta naik busway hingga terakhir bertemu saat di Gandaria City menanyakan perihal surat cinta.

31 May adalah pertama kali saya di sms Nita, rupanya berlanjut dengan kulSms, yang kadang saya tanggapi atau kalau sedang ga mood tidak saya balas.
4 Juli, saya di sms tentang kegalauannya, dan dia merasa ambruk, tapi tetap berusaha agar orang lain tidak tahu. Saya sempat sedikit berdebat dengannya tentang masalah ini.
30 Agustus, Nita sms minta izin untuk posting tentang saya, saya izinkan karena pasti ada hal lucu didalamnya
4 September, Nita mengucapkan terimakasih dan mulai beraktifitas melupakan kegalauannya, saya cuma berpesan agar dilancarkan dan mendapat hal-hal seru.
29 September, sms terakhir dari Nita memberitahu sudah membalas twit saya, disini adalah titik balik bagi saya untuk belajar, saya berkenalan dengan Angkie Yudistia dan banyak ngobrol tentang disabilitas dan dari sini saya kagum dengan Nita yang berusaha mengedukasi orang-orang tentang masalah disabilitas.

Hingga akhirnya saya mendapat kabar diawal postingan jurnal ini, saya teringat kembali dengan tulisan ini bahwa kita terlahir sebagai seorang pemenang tapi apakah akan berakhir sebagai pemenang?
Nita telah membuktikannya, begitu banyak yang telah dilakukannya, dibalik kekurangannya Nita menunjukan hal luar biasa yang belum tentu bisa dilakukan orang normal tanpa diasbilitas.

Selamat jalan Nita, semoga engkau mendapat kebahagian disana, kami semua juga telah mempunyai kartu antrian tapi nomornya hanya menjadi rahasia Allah
Oh iya, jika bertemu dengan bidadari di Surga, tolong bisikan padanya agar menjelma ke dunia untuk menemani saya ya.

Antara Integritas dan Kreatifitas

Perbincangan seminggu lalu dengan teman-teman lama mpers 2004-2005 yang sudah lama tidak berjumpa mengerucut menjadi satu titik, dimana pembicaraan awal tentang sebuah proses pertemanan yang berubah menjadi persahabatan yang awalnya hanya untuk saling bercerita atau berjalan-jalan membunuh waktu mulai dari nongkrong di Soto Ceker ceker pak Gendut di sabang, hingga mencari SGPC bu Wiryo ke Jogja.
dari sebuah proses itu ternyata banyak hal yang bisa didapat, selain silaturahim dan saling bercerita tentang kegiatan masing-masing hingga rembukan mencari solusi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi.

Semakin lama durasi bertemu semakin jarang karena memang selain jarak berjauhan saat saya ada Aceh, ada yang di Jakarta dan di Bandung, komunikasi tetap berjalan walau cuma sekedar untuk say hallo, bahkan kadang kalau sedang konyol dan merasa jenuh, foto-foto perjalanan bersama kadang di kirimkan kembali, semua itu tujuannya agar tidak terputus komunikasi yang telah terjalin.
Tapi paling tidak setahun sekali kami walaupun tidak lengkap selalu berkumpul.

Kembali ke pertemuan minggu lalu, disana kami sepakat bahwa silaturahim akan tetap terjaga dengan komunikasi yang baik tanpa ego dari masing-masing orang dan kami tidak ada yang menjadi pemimpin bagi yang lain, yang ada setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, selain itu poin yang kami sepakati adalah walau pertemuan hampir setahun sekali, paling tidak ada progress yang didapatkan, ide-ide kreatif yang muncul sebisa mungkin dijalankan, seperti para wanita yang membuat ide-ide untuk memasak dan terkadang mencoba resep-resep baru mulai dari bolu bantet hingga bolu gosong, bagi para pria walau matanya menatap MU yang sedang berlaga, tapi pembicaraanya kearah otomotif hingga investasi.

Dan satu hal yang paling penting rasa nyaman harus tetap dijaga tanpa ada ke-aku-an yang timbul dan harus bisa memberi manfaat untuk orang lain jikapun tidak semoga bisa untuk diri kami.
Satu pesan mereka kepada saya jika mengikuti kegiatan dimanapun lantas tidak merasa nyaman dan panggilan hati dilakukan dengan terpaksa serta tidak ada manfaat positif yang didapat maka lebih baik mencari kegiatan positif lain yang bisa diikuti dengan nyaman dan tanpa rasa was-was.

Salam, saatnya undur diri 🙂

[Ga Penting] MP itu apaan sih

Hari gini masih main FS... upss.. salah ding Hari gini ga ngempih?

Baca jurnal om hanif disini dan reply-an Nozqa,   jadi inget, tadi pagi ada teman lama dari milis sebelah
yang hobby baca buku n suka ngopi bareng, invite buat jadi kontak.
Padahal mah kalau ketemu sering banget diajak buat bikin account MP, tapi ga ada respon, yang ada malah nanya.. MP itu tempat makan baru ya? haiyahhh.. ada2 aja

Akhirnya hari ini invite juga… Duh Deeee, kmana aja sih? Hari gini baru tahu MP? hehehe

*udah minta izin buat bikin jurnal ini, data disamarkan :D*

Undangan

Undangan nikah dari temanku waktu bulan Juli kemarin.
mengambil angka 20.07 2007

Unik, dibuat seperti itu karena dia adalah (mantan) ketua Milys (Mailing List Yamaha Scorpio)

Mungkin kalau ada yang mau nikah, dari bidang IT
undangannya bisa berupa USB kali ya, ga usah yang gede2.. 1 Giga aja 😀

atau kalau yang dari perbankan bisa berbentuk uang
kalau dari media, bisa berbentuk Cover.

Kalau dari bidang pendidikan bisa berupa raport, atau tanda kelulusan…
Kalau dari imigrasi, bisa berbentuk paspor nih 😀

Trust Me

Pulang dari jogja minggu kemarin, pulang dari sana pagi milih naik KA, ternyata pilihannya salah, karena ga bisa tidur blass, padahal malamnya udah dibantu melek sampe jam 1 nongkrong di Bayonet.

Satu buku, satu koran, satu tabloid udah abis dibaca, tapi kok masih diwilayah jawa tengah, akhirnya malah merhatiin nama-nama daerah yang muncul di HP, jadi inget waktu dulu, balik ke kebumen sekali-kalinya bareng emak, bapak, adek, kakak n sepupu. Untuk ngusir kebosenan, bapak ngasih kita kertas ama pensil, buat nulis nama-nama stasiun yang kita lewatin, kalau rada ngerti daerahnya, diceritain pula tentang daerah itu, kayak
makanan khasnya apa, daerah wisata yang menarik didaerah itu apa, bahkan kalo keretanya berhenti luamaaaa (maklum ekonomi) kita dibilangin kalo ban keretanya kempes.

Eh, sambil ngeliatin nama-nama daerah di hp, sampe cirebon juga, akhirnya sms-an ama mbak Ienk, n ngasih tahu ga jadi mampir, karena Keretanya ga mau berhenti. Pas di daerah cirebon itu ada nama kabupaten atau kota? Trusmi, sempet kepikiran, apakah emang dulunya nama daerah itu trust me, biar gampang ngucapinnya melebur jadi trusmi,Karena ga mau penasaran, nanya ama mbak Ienk, katanya sih itu daerah sentra batik (bener, pas aku googling)

Masih pnasaran, balik nanya lagi, beneran itu nama daerahnya trusmi, dan kenapa dinamakan demikian, mbak Ienk bilangnya yang pada jual batik bilang ama yang beli, trust me.. batiknya bagus, ndak luntur kalo ndak dicuci. 😀


Trus versi satu lagi, kalo buat pasangan yang mau nikah,
si cowok ngajak ceweknya buat beli batik sambil bilang : trust me honey.. ini adalah batik nomer satu buat kamu.
jadi deh mborong batik buat seserahan, n buat seragam

*Mbak Ienk, dulu papap ngajak mbak Ienk ke situ ya hehehehe*