Mood Booster -Alah Bisa karena….. Niat-

Sejak memproklamirkan diri sebisa mungkin ga bawa kerjaan kerumah, jatah yang tadinya untuk berselancar didunia maya untuk ngeblog, ngeliatin dunia lain numismatik, deltiologi dan sosial media makin berkurang. Biasanya kegiatan tersebut dilakukan saat waktu senggang, ini bukan korupsi jam kantor ya, tapi memang perjanjian awal saat mau masuk gue nego masalah jam kerja bahkan boss pun bilang “Elu mau masuk jam berapa terserah, yang penting sewajarnya orang kerja dan kerjaan beres”

“Disinilah Gue Merasa Bahagia” -Bahagia itu sederhana- karena gue lebih memilih masuk pagi, antar bu istri dulu untuk ngajar lalu pulang lebih cepat agar bisa bermain dengan Iza sebelum tidur. Bahkan kalo lagi mau maen ama Iza, gue berangkat siangan, pulangnya juga ga harus sampai malam atau menuhin 8 jam kerja. Konsekuensinya, agar kerjaan ga dibawa kerumah, jam kerja gue padetin, istirahat juga seperlunya ga perlu 1 jam full dan ga harus jam 12.00 – 13.00, bahkan diruangan juga gue bikin tempat shalat biar ga ada alesan buat telat shalat, alhamdulillahnya yang lain akhirnya pada bisa ikutan shalat, ga perlu turun ke Mushola gedung di basement. Boss gue cukup moderat, dia cuma wanti-wanti, bahwa disini banyak berlatar belakang yang beda, dari suku dan agama berbeda, jadi ga ada ampun kalo bertengkar tentang kedua hal tersebut dengan pegawe lain.
Tapi kalo kerjaan lagi senewen kayak sekarang-sekarang ini Apalagi saat proyek riset tentang kesehatan ditahun 2015 baru 70% *ini hasil riset tahun 2014, kali aja mau liat
udah diminta untuk mulai riset WOMM seperti tahun lalu.
Akhirnya seperti yang gue tulis diatas, ada yang harus dikorbanin dan gue lebih memilih ngorbanin sekian persen -yah sekitar 90% ajah- dari berselancar didunia maya itu, kecuali yang berhubungan ama kerjaan desk research melalui inet tentunya.

Tapi emang kalo kita udah terbiasa akan sesuatu hal terus ngurangin atau ngejalanin hal lain, maka saat akan kembali ke hal yang ditinggalin itu akan terasa canggung, bahkan bisa jadi malas ngerjainnya. bisa dilihat nih disini https://www.youtube.com/watch?v=MFzDaBzBlL0
Videonya tentang awalnya naik sepeda yang biasa, lu mau belok kiri, setangnya tinggal dibelokin kiri, mau belok kanan, stangnya tinggal dibelokin kanan, lu mau puterin setangnya juga bisa kayak anak BMX :p, tapi akhirnya polanya diubah, kalo mau belok kiri, setang kudu dibelokin kanan, begitu pula sebaliknya…  untuk kelanjutannya silakan nonton aja 😀

Balik lagi agar gue bisa berselancar didunia maya, kan ada gadget tinggal buka trus klak klik aja… beres kan? Nah ini dia, kalo dirumah atau pas lagi ama bu istri dan Iza, gue ga bakalan buka, kecuali saat mereka udah tidur itupun paling lama 10menitan saat hari kerja, cek email, pesan & buka grup WA diluar itu ya fungsi gadget hanya untuk teleponan aja.

MBTerus terang awalnya gue ga ngerasa nyaman, ada yang kurang, lama kelamaan jadi terbiasa, yang rada susah untuk balikin ke mood itu buat ngeblog, salah satu cara akhirnya kalo ada ide langsung gwe tulis di notepad aja, biarpun cuma dua atau tiga baris kata untuk dilanjutin kalo ada waktu senggang, tapi ternyata kalo makin lama ga ditulis, hilanglah apa yang udah terpikir itu.
Kalau untuk numismatics or deltiologi kayaknya gue skip dulu, uangnya dialihin untuk bikin rak buku perpus mini ++ dirumah, biar ga berantakan ga susah nyari buku apalagi kemarenan bu istri udah cemberut aja gara-gara buku yang dicari buat ngajar ga ada yang disalahin tentu aja gue lah, kan gue yang mindah-mindahin itu buku.

Moga mood buat nulis plus blogwalking kembali lagi, karena emang bisa bikin rilek sejenak.
Selamat hari kamis, selamat hari “Pekerja” 1 Mei besok dan selamat menikmati libur 3 hari, kalo yang hari sabtu masuk kerja, percayalah itu bukan “Derita Lo” tapi itu sebuah pilihan.

[Publik] Rumah Masa Depan

Buat yang masih hidup, sebagian besar tujuannya adalah bagaimana mempunyai tempat tinggal yang nyaman, tapi terkadang lupa memikirkan rumah masa depan untuk tempat tinggal bernama TPU setelah meninggal dunia. Urusan ini hal remeh, hal kecil tapi acap terlupakan. Buat yang mempunyai uang, mudah saja, pilihannya bisa memesan pemakaman seperti di San Diego Hills atau pemakaman yang dikelola swasta. Mengurus makam untuk yang meninggal ternyata bukan hal sepele, dibutuhkan kesabaran ekstra. Pihak-pihak pengurus RT/RW adalah salah satu pihak yang berperan penting, dari merekalah mendapat surat keterangan untuk dibawa ke Kelurahan hingga keluar surat kematian. Pengalaman mengurus pemakaman ayah saya empat minggu lalu alur yang terjadi adalah seperti ini. 1. Surat Keterangan dari RT dan RW bahwa benar warga yang meninggal adalah warga yang berada dalam wilayah tersebut, lalu surat tersebut dibawa ke Kelurahan untuk dibuatkan…. 2. Surat Keterangan Kematian dari Kelurahan yang akan digunakan untuk mengurus ke dinas pemakaman, pembuatan surat keterangan kematian ini paralel dengan pembuatan surat keterangan pemeriksaan jenazah dari puskesmas atau dinas kesehatan setempat untuk yang meninggal dirumah, tapi jika meninggal di Rumah Sakit, secara otomatis pihak Rumah Sakit yang akan mengeluarkan surat tersebut. 3. Retribusi sewa tanah makam Simpel ya, tidak ribet seperti yang ditulis pada awal postingan ini. Memang hal tersebut simpel jika dimakamkan pada TPU dimana bertempat tinggal, nah saya bertempat tinggal di Bekasi, untuk TPU harusnya di TPU Perwira tapi lokasinya jauh, dan yang paling dekat justru TPU Pondok Kelapa, TPU Tanah Merah dan TPU Malaka, sekitar 3km dari rumah. Akhirnya datang ke TPU yang dibuatkan surat pengantar untuk mengurus Surat Izin Penggunaan Tanah Makam ke kelurahan Pondok Kelapa ke bagian PTSP. 4. Dari kelurahan Pondok Kelapa diminta mengisi data tentang mendiang lalu setelah selesai diberikan surat untuk melakukan pembayaran, setelah melakukan pembayaran lalu menyerahkan bukti pembayaran tersebut ke Kelurahan 1 lembar, 1 lembar untuk TPU dan 1 lembar untuk ahli waris. Sepengetahuan saya PTSP itu tujuannya baik, semua pelayanan dilakukan dalam satu pintu, jadi ga perlu muter-muter kesana kemari, tapi satu hal yang nengganjal yaitu saat melakukan pembayaran harus dilakukan di kantor walikota Jakarta Timur jadi bukan di kelurahan, yang jaraknya sekitar 5-6km. lebih baik dibuka saja kantor kas di kelurahan jadi saat mengurus tidak perlu pindah ketempat yang lumayan jauh. Jumlah retribusi sewa tanah makam selama 3 tahun antara Rp 60.000 – Rp 100.000, masih kalah murah dengan Surabaya yang dalam kisaran 200.000 – 270.000. Biaya Resmi menyangkut administrasi sebagai berikut : 1. Surat Keterangan RT – Gratis 2. Surat Keterangan RW – Gratis 3. Surat Keterangan Kematian Kelurahan * 4. Surat Keterangan Pemeriksaan Jenazah di Puskesmas * 5. TPU ** * Pengurusan di Bekasi biaya mulai dari Rp 0 hingga Rp seikhlasnya * Pengurusan di Kelurahan Wilayah Jakarta memang benar-benar Rp 0 Kalau pengurusan dari Kelurahan hingga Pembayaran retibusi memang tidak ada biaya aneh-aneh, tapi di TPU lain lagi ceritanya, dengan adanya PTSP hal-hal menyulitkan dan kemungkinan untuk berbuat ga benar bisa diminimalisir, kenyataannnya? jauh panggang(an) dari api. Beritanya bisa dilihat disini : – Urus makam lewat PTSP dinilai persulit warga ; –  keluhan mengurus izin pemakaman  Selain itu hal kurang benar bisa dimanfaatkan dari celah yang ada, misalnya dengan penuhnya tanah makam diwilayah Jakarta Timur, tapi tetap bisa dimakamkan dengan cara tumpang pada anggota keluarga yang telah dimakamkan terlebih dahulu atau pada lokasi makam yang sudah tidak bertuan yaitu lokasi makam yang tidak diurus ahli warisnya. Untuk kedua pilihan cara pemakaman diatas, alur yang terjadi sama dengan makam baru, hanya statusnya saja yang berbeda antara baru dan bekas (makam).

Slide1

Sudah perhatikan foto yang menggambarkan alur pemakaman diatas? tanda panah biru menunjukan jika keadaan normal berlaku, keadaan normal maksudnya saat meninggal itu pada hari kerja dimana birokrasi yang berhubungan dengan pihak institusi pemerintah membuka pelayanan, sedangkan situasi tidak normal saat meninggal itu pada hari libur, baik hari minggu atau libur nasional. Jika situasi tidak normal tersebut terjadi, maka alur yang paling umum terjadi adalah tanda panah merah, karena tidak mungkin jenazah menunggu birokrasi lalu dikuburkan. Nah, pada titik inilah celah tersebut membuka terjadinya hal tidak benar. Apakah setelah membayar retribusi melalui PTSP dan menyerahkan bukti pembayaran ke TPU lantas akan ada jaminan tidak ada biaya yang lain? Ya pastilah ga ada, yang ada jaminan akan terkena biaya lain lagi. ga percaya? ini hitungan kasarnya. Biasanya di TPU akan ada biaya sewa tenda dan kursi serta biaya gali makam besarannya berkisar Rp 500.000 – Rp 2.000.000 , kalau logikanya sih tenda dan kursi itu sudah tersedia dan merupakan inventaris Dinas pemakaman, dan untuk tukang gali makam (resmi) juga mendapat gaji bulanan dari pemda. Diluar itu ada biaya yang memang menjadi tanggungjawab ahli waris yaitu biaya pembelian rumput hingga pembuatan batu nisan. dan besarannya relatif mulai Rp 1,5 juta – Rp ~ tergantung nisan yang dipilih. Nah, ada juga sistem paket, keuntungan sistem paket ini : – Lokasi makam sudah pasti ada (entah baru atau bekas) – Sewa tenda, gali makam, rumput dan batu nisan sudah tersedia, jadi keluarga ahli waris tinggal datang ke PTSP dan membayar retribusi pemakaman saja. Tetangga yang kebetulan bertemu saat melakukan pembayaran retribusi untuk pemakaman kakaknya bercerita, awalnya diberitahu jika TPU sudah penuh, hingga tiga kali bertanya jawabannya tetap yaitu penuh, akhirnya beliau bilang ” Ya sudah berapa biayanya saya minta bersih dari gali makam sampai nisan, saya bayar cash” akhirnya keluar juga jawaban biayanya Rp 5.000.000 Hal ini memang sudah jadi rahasia bersama, kalau pemakaman di TPU itu harganya bisa jutaan rupiah.  bahkan hal tersebut sudah seperti permainan para preman. Memang salah satu kendala adalah informasi yang tidak jelas dan transparan tentang ketersediaan lahan makam yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk mencari penghasilan. Jadi tidak salah apa yang dilakukan oleh Pemda DKI untuk membuat sistem pemakaman online, mulai dari pemesanan hingga pembayaran retribusi. Jika hal ini terjadi, akan meminimalisir biaya-biaya yang tidak perlu walau tidak bisa dihilangkan seluruhnya.

Pay It Forward

Pernah liat atau baca tentang Pay It Forward, ini ada ulasannya di sini “IMDB”  tapi gw bukan mau nulis tentang film tersebut, tapi hal tersebut bisa aja terjadi pada siapa aja,

Januari 2014, gw ketemu teman lama, dia cerita akhir bulan ini pindah kerja, emang sih dia udah ga betah, karena waktu buat anak dan istri makin berkurang karena sibuk ama kerjaan, dia bilang rada ajaib juga caranya, jadi sang istri ketemu mantan bossnya, si mantan boss minta tolong dicariin batik buat dibawah ke LN untuk koleganya. Pas batik udah didapat, ternyata ga bisa dianter karena anaknya sakit, dan teman gw itu juga udah berangkat kerja, pas banget mantan boss nya telpon minta dianter sebelum makan siang kekantornya, pusinglah istri teman gw ini, tapi memang sudah ada yang mengatur, tetangga sebelah rumahnya berangkat kerja rada siang karena harus anter anak kesekolah dulu, dan gedungnya bersebelahan dengan gedung dimana perusahaan mantan bossnya berada, lalu tetangganya menawarkan untuk dititipkan saja, dan paket tersebut sampai juga ke mantan boss nya, kejadian itu pertengahan 2013.

Selang 6 bulan kemudian, Bossnya kontak sang istri dan menawarkan pekerjaan kepada suaminya.

Februari 2009 gw mau balik ke Jakarta dari Manado, di bandara In’t Sam Ratulangi saat lagi asik baca buku nunggu boarding, ada orang berpakaian safari mendekati saya berbarengan dengan pramugari, terjadi tanya jawab :
OPS : Mas mau ke Jakarta?
Gw : Iya pak, kenapa?
Ops : Tujuannya kearah mana?
Gw : Bekasi
Ops : itu lewat Slipi mas?
Gw : iya,
Ops : Begini mas, komandan saya mau titip dokumen untuk anaknya di Pejompongan, kalau mas ga keberatan saya akan titip dan saya berikan nomer telp. nya, biar nanti anak komandan ketemu mas nya di Slipi.
Gw : (rada curiga) ya kalo gitu komandan bapak aja suruh kesini, biar jelas pak.
Ops : baik mas.
Trus orangnya telp, ga lama datang orang dengan seragam polisi, gw lirik ada melati tiga, kombes toh.
Kombes : saya titip dokumen buat anak saya mas, gpp kan?
Gw : gpp pak, nanti saya turun di Slipi, ketemu disitu aja, biar saya gampang naik bisnya lagi.
Kombes : ok mas, boleh liat KTP nya,
Trus gw kasih liat KTP gw n dia berikan nomer telp anaknya, n pesan kalau ke Manado lagi dan butuh bantuan agar kontak ajudannya.
Akhirnya gw anter dokumen ke rumahnya aja karena dekat kantor lama dulu di komplek PAM, baliknya gw dikasih uang taksi dan dengan gengsi gw tolak hehehe ga lah, niat gw bantu aja, akhirnya gw bilang siapa tahu gw juga berada di posisi dia, pas lagi butuh ada yang nolong, itu rasanya syukur yang terkira banget.

(Sebenernya nulis bagian gw ini udah sebisa mungkin gw hindari, tapi gw pikir gpp, karena ada benang merahnya, moga gw ga ada bermaksud riya.. aamiin)

Awal 2010 waktu gw masih di Sumatera, Gw ditelp teman lama, seminggu kedepan dia mau ke Medan, dan menanyakan apa ada yang bisa dibantu, gw bilang kalo ga keberatan tolong bawain netbook gw, tapi ada dirumah di Bekasi dan gw kasih alamat mamak teman gw di Medan buat dititipin karena posisi gw saat itu masih dia Aceh, dan dia ga keberatan untuk ambil, jadi dari kantornya diwilayah Kuningan, dia ambil netbook ditempat gw di Bekasi, terus pulang ke Pamulang.

Teman lama gw itu pada awal cerita tahun 2014 dan tahun 2010 adalah orang yang sama, gw takjub kalo inget, emang semuanya udah diatur oleh Allah SWT. Memang sih pembayaran itu bisa tunai (langsung), bisa ga langsung, bisa dalam bentuk lain, bisa dunia dan bisa juga buat tabungan di akhirat.
seperti yang gw pernah tulis juga disini  “Dibayar Tunai” 

tunai

Selamat hari rabu dan selamat bekerja kembali, jangan lupa bersyukur atas semua yang telah diberikan Allah SWT.

 

Kualat

Sebenernya ini ga ada korelasinya, tapi kalau diingat-ingat bikin mikir walau ga penting-penting banget.
Jadi waktu SMP dulu, saya pernah dihukum oleh guru matematika karena ketahuan memanjat tembok sekolah SD diseberang sekolah, dan akibatnya saya beserta beberapa teman “nangkring” di tiang depan ruang guru sekitar setengah jam, persoalan lain saya juga pernah memberikan contekan kepada seorang teman, dan guru matematika tersebut mendekati saya, duduk disebelah saya lalu memperbandingkan dengan kakak saya yang juga pernah diajarnya, dari situ saya benci dengan pelajaran matematika dan juga dengan gurunya.
 
Saat SMA, saya pernah mendebat guru matematika tentang pembuatan bujursangkar, jadi kami diminta membuat bujursangar dari besi, saya bilang diameter besinya makin besar otomatis mempengaruhi diagonal yang berpengaruh pada volume, guru saya bilang ga ada pengaruhnya, tapi karena kadung ribut, ujung-ujungnya saat pembagian raport saya mendapat nilai 5, satu-satunya angka bertinta merah yang saya peroleh selama sekolah. Saya benci setengah mati dengan guru tersebut, untung saja semester berikutnya guru matematika diganti oleh guru wanita yang cantik, dan karena kelamaan menatap wajah cantiknya saya disuruh maju untuk mengerjakan soal, plus dapat bonus dibilang bego, padahal soal saya kerjakan dengan benar hanya kurang satu angka dibelakang koma saya hanya menuliskan dua desimal, tidak mendengar yang diminta tiga desimal. makin ga suka saja saya dengan matematika.
 
Ketika kuliah, saat final test MK Statistik teman-teman saya nyontek berjamaah, dan kebetulan saya berada diantara para nyonteker tersebut, saat nilai keluar saya mendapat C, saat konfirmasi dibilang bahwa saya ikutan kaum nyonteker, mangkel rasanya, argumentasi malah ga diterima, akhirnya saya mengulang tapi dengan dosen yang berbeda.
Disini saya berpikir, kenapa sih selalu ada masalah dengan guru dan pelajaran matematika, benci banget pokoknya dengan yang berhubungan dengan Matematika dan statistik, tapi kayaknya saya kuwalat, pekerjaan saya ternyata berhubungan dengan data dan hitung menghitung alias statistik…
Beneran kualat kayaknya nih… kudu minta ampun saya sepertinya nih agar ga mumet kalo ngadepin angka 😀
 
Masih ada waktu buat tidur sebelum ngeliat ernestprakasa “manggung” disini

Ketika saya salah dan nyaris ngeyel

Minggu lalu saat selesai meeting dengan pimpinan salah satu majalah bisnis dan management, sempat ada joke terlontar, jadi ceritanya ada seorang teman rekan saya berasal dari Jogja bekerja di Surabaya, Nah kalau di Jawa Timur kan sudah terkenal dengan boso jawatimuran yang kebetulan teman ini tidak mengerti secara dalam, terus berceritalah kepada rekan saya
“aku ga betah pak, aku mau pindah kerja aja, habis aku ga ngerti boss ku suka bilang gini
-jancuk…. kerjamu kreatif tenan- itu boss ku ngomongnya sambil senyum-senyum, terus pas lain waktu juga bilang -jancuk kerjamu itu gimana? gini aja ga becus”
jadi aku bingung sebenarnya kerjaku itu jelek atau bagus”
Walhasil teman ini akhirnya keluar dari kerjaanya dan kebetulan ditawari pekerjaan di Amerika, tapi ga lama teman ini cerita kembali ke rekan saya “wes, aku ini bingung tenan, disini boss ku suka bilang sama aku pas ngasih kerjaan “fucking good job man, terus dia juga suka bilang You are fucking bad” aku beneran ga ngerti kerjaanku itu good, bad atau fucking” aku mau balik aja ke Jogja, bantuin simbok tani ae lah”
 
Mungkin bagi teman-teman yang asal Jawa Timur atau yang pinter bahasa Inggris bisa langsung mengerti apa maksudnya, kalau saya terusterang saja bukan berasal dari Jawa Timur dan ga ngerti bahasa Inggris perlu ekstra lebih waktu untuk mengartikan dan bisa mengerti hal tersebut.
sama seperti saat saya posting disini terus terang saya ga ngerti apa artinya itu tulisan di kaus, cuma mengartikan selintas “gue ga respek” dan saya ditegur teman dari kantor lama yang suka baca MP saya.. “kamu kasar sekali dengan menuliskan hal seperti itu”
 
Dari sini saya mulai berpikir kalau menulis sesuatu yang berhubungan dengan kalimat apalagi yang berbentuk frasa kudu bener-bener tahu artinya, jangan cuma selintas mengartikan karena bisa saja artinya jauh dari apa yang dimaksud.
Saya juga membaca jurnal tentang Whistle Blower disini diterangkan arti dari kata tersebut, jadi orang yang membaca jurnal mengerti dengan apa yang dimaksud oleh penulis jurnal.
Sebaliknya saat saya membaca jurnal tentang membesarkan multiply indonesia disini
pada komen tersebut ada kalimat “get a life” tapi ternyata arti yang dimaksudkan ternyata berbeda dengan arti yang sebenarnya, hal itu diterangkan oleh mbak Irma.
 
Dalam bahasa indonesia pun juga ada frasa yang artinya negatif, hal ini pernah saya alami dengan beberapa teman ditempat lama, kami biasa saling email dan pada suatu saat membahas tentang personal branding, disini saya berkata agar kita untuk menjual diri agar mendapat uang lebih banyak, dari sekian teman tersebut ada yang protes dan bilang kalau saya dan teman2 dari riset sangat kasar, kebetulan teman yang protes tersebut dari bagian finance. Dan saya baru menyadari setelah ditegur, karena tidak semua yang ikut dalam email adalah orang riset yang berhubungan dengan bahasa marketing.
Apakah saya dan teman-teman riset merasa marah dibilang kasar? tidak, saya dan teman-teman riset tidak marah karena kami menyadari bahwa penerima email itu adalah semua teman-teman dari berbagai lintas divisi, justru dengan adanya hal tersebut saya dikoreksi, saya sih ga ngeyel mempertahankan pendapat kami karena saya yang salah dan memang berada pada forum lintas divisi, lain halnya jika hanya divisi riset saja yang berkata seperti itu, karena kami saling mengerti.
 
Dan saya juga menyadari bahwa ada kalimat yang salah dengan bilang “Kita menjual diri” sekali lagi “kita” itu adalah bahasa yang ditujukan untuk semua yang terlibat dalam email lintas divisi, padahal belum tentu semuanya mengerti dan setuju dengan maksud tersebut, memang seharusnya saya gunakan kalimat nama saya sendiri serta saya sebutkan nama yang lain satu persatu (yang mengerti) atau saya sebutkan divisinya.
 
Kesimpulannya sih (buat saya, terserah jika yang membaca setuju atau tidak) mau nulis dimanapun saat membahas sesuatu jika ada hal yang samar atau berindikasi membuat salah tafsir lebih baik dijelaskan lebih dahulu, apalagi untuk kalimat dari bahasa asing yang belum tentu arti sebenarnya sesuai dengan apa yang dimaksud.
 
Selamat bekerja kembali, dan selamat membuat kopi karena ini adalah “jam ngantuk”
*ini juga frasa yang salah.. mana aja jam ngantuk.. :p :p “

Sahabat itu adalah………

Artikel ini ditulis salah satu sahabat baik saya, kami bersahabat sebelum kenal dengan multiply, saat di multiply, meninggalkan multiply dan tetap keep in touch saat saya di Jakarta dia di Tengah Laut, Saya di Medan dia di Jakarta, saya di Pedalaman Aceh dia di Karawang dan saya kembali ke Jakarta dia Pergi ke Medan.

Paragraf terakhir adalah perenungan paling mendalam atas tulisannya tersebut. Selamat membaca

Thanks tetap menjadi sobat saya hingga sekarang.

Sumber : http://iwan95.multiply.com/journal/item/148/Teman

==================================================================================================

 

Teman.

Satu kata yang multi intepretasi.

Masing-masing orang punya definisi yg berbeda tentang makna kata ’Teman’

Konsep ’teman’ di benak saya pada mulanya adalah seseorang yg selalu setia kemana pun saya pergi. Seseorang yang selalu sependapat dengan pendapat saya. Seseorang yang akan selalu membela dan menyelamatkan saya ketika dalam bahaya. Dan tentu saja tidak berkhianat.

Dan konsep itu juga berlaku sebaliknya pada saya. Saya merasa belum menjadi ’teman’ seseorang ketika saya tak mampu berlaku setia, selalu meng-amini pendapatnya, selalu membela dan menyelamatkannya ketika ia dalam bahaya (bahkan tak peduli apakah ia dalam posisi benar atau salah sekalipun)

Konsep tersebut bertahan cukup lama dalam alam pikiran saya. Kemudian seiring waktu mengalami sedikit pergeseran perlahan tanpa saya sadari. ’Teman’ bagi saya kemudian menjadi seseorang yang selalu siap dijadikan tempat berkeluh kesah, tempat berbagi dalam suka & duka, tempat menceritakan ide-ide gila, tempat melontarkan harapan-harapan masa depan, bahkan menjadi tempat kita menitipkan rahasia-rahasia pribadi saya.

Konsep ’Teman adalah Segalanya’ juga menghinggapi alam pikiran saya. Memiliki teman sebanyak-banyaknya adalah obsesi saya. Namun untuk mengejar obsesi tersebut juga memiliki konsekuensi logis, yaitu tidak sanggup berlaku adil dan jujur kepada hati nurani saya. Ketika ada seorang teman berbuat kesalahan kepada teman yang lain, saya tak sanggup untuk mengingatkan/menegur degan cara terbaik terhadap kesalahannya itu. Hal ini bisa terjadi karena saya terlalu takut kehilangan teman. Saya berpikir ”Jika saya menegurnya jangan-jangan nanti ia akan berbalik memusuhi saya, dan pada gilirannya saya akan memiliki musuh yang besar kemungkinan akan bertambah jumlahnya”.

Saya merasa amat sangat sedih dan teramat susah tidur ketika mengetahui ada satu saja orang yg memusuhi saya, terlebih dia sebelumnya adalah orang yang saya anggap ’teman’ saya. Alhasil, dalam dunia ’pertemanan’ saya tumbuh menjadi pribadi yang terlalu akomodatif dan serba maklum terhadap semua sikap/perilaku teman bahkan tak jarang menjadi orang yang tak berprinsip. (atau jangan-jangan prinsip saya waktu itu adalah ya itu tadi, teman adalah segalanya di atas kebenaran itu sendiri). Dan bisa jadi ada beberapa orang yang kemudian menganggap saya telah berkhianat kepadanya karena saya hanya bisa diam ketika ia disakiti oleh teman saya yang lain.

Pendeknya, rasa takut dimusuhi dan kehilangan teman menjadikan saya buta akan nilai-nilai kebenaran yang seharusnya diletakkan pada prioritas utama. Saya menjadi seorang pengecut untuk berkata benar sesuai fakta. Bahkan terlalu pengecut untuk menjadi saksi dari kezaliman yang terjadi di depan mata saya sendiri.

Sampai Akhirnya….

Berbagai peristiwa hidup membuat saya terus belajar dan berusaha mencari hikmah dibaliknya walau seringkali terlalu mahal harganya.

Teman & Musuh dalam Hidup adalah Keniscayaan. Bagi anda yang percaya konsep adanya mahluk Tuhan bernama Setan (kata ’Setan’ ini lebih tepat sebagai kata yang menunjukkan PERAN untuk membujuk manusia ke jalan keburukan, karena Setan bisa berujud jin maupun manusia) maka pasti akan meyakini pula bahwa orang yang dicintai Tuhan adalah orang yang sangat dimusuhi Setan dan sebaliknya. Dan selalu terbuka kemungkinan bahwa orang-orang yang selama ini kita anggap ’teman’ sesungguhnya telah menjalankan peran-peran ’setan’ dalam mempengaruhi kita. Juga sebaliknya, kita sendiri bisa jadi memainkan peran ’setan’ kepada teman-teman kita.

Kemudian saat ini, saya mendefinisikan teman adalah seseorang yang ketika berinteraksi dengannya (atau dalam beberapa kasus bahkan hanya cukup dengan mengingatnya) membuat kita kembali mengingat Tujuan Besar Hidup kita di dunia ini. Dan terbuka peluang bagi kita untuk berbuat sebaliknya kepadanya.

Bagi anda yg percaya Tuhan, percaya Kehidupan Setelah Mati, percaya Konsep Dosa & Pahala maka teman yg baik adalah orang yg ketika berinteraksi dengannya akan membawa anda kembali ke pertanyaan dasar tentang Hakikat Hidup dan Kehidupan anda. Pertanyaan-pertanyaan dasar seperti; “Untuk apa aku harus hidup?”, “Mengapa hidupku harus seperti ini?” mungkin akan menjadi trigger/pemicu untuk kembali menggali makna sejati tentang Hidup dan Kehidupan Diri.

Dengan definisi ‘Teman’ yang terakhir ini Insya Allah akan menjadi rangkuman dari definisi-definisi saya tentang ’Teman’ sebelumnya. Artinya, ketika saya memutuskan berteman dengan seseorang yang saya duga sebagai orang yang menularkan ‘virus’ ketaatan pada Tuhan yang saya yakini (beserta segala konsekuensi dari keyakinan tersebut) maka paling tidak orang tersebut minimal juga akan berlaku amanah terhadap ‘pertemanan’ kami. Insya Allah pertemanan atas dasar sebuah IDE yang lebih HAKIKI akan lebih immortal atau abadi. ‘Teman’ seperti ini Insya Allah juga akan ikut merasa sakit ketika kita disakiti, ikut bahagia ketika kita berbahagia, lebih setia dalam menjaga rahasia-rahasia kita, lebih berani membela ketika kita dalam bahaya. Dan setidaknya ia tak kan berkhianat.

Antara Aku, Gue dan Saya

Penggunaan kata ganti untuk diri sendiri begitu banyak, mulai dari bahasa Indonesia baku, bahasa gaul hingga bahasa daerah, walaupun berbeda-beda tapi tujuannya sama menunjukan sebagai “person” terhadap orang lain.
Jika dilihat ada perbedaan makna untuk setiap kata ganti tersebut, tapi kadang tidak terlalu diperhatikan karena biasanya sudah pada tahap saling kenal atau akrab.

Awal-awal nge-blog, saya mempergunakan aku untuk berkomunikasi, hal itu bertahan lumayan lama, karena saya menganggap “aku” itu adalah bentuk yang pas dalam berkomunikasi dengan sesama kontak, semakin lama aku mendapat tambahan “gue” jika untuk orang yang sudah akrab dan ketika lawan bicara mempergunakan kata gue sebagai pengganti diri.
Walau bagaimanapun, Aku masih saya pergunakan ketika untuk berbicara dengan orang yang sudah sangat akrab.

Semua itu akhirnya berbalik setelah saya bertemu dengan teman-teman baik yang lebih tua ataupun lebih muda mereka mempergunakan “saya” sebagai kata ganti untuk dirinya sendiri, saya sendiri tidak terlalu peduli, , tapi lama kelamaan setiap berinteraksi dengan mereka saya memperhatikan kalimat yang keluar itu menunjukan suatu bentuk kesantunan sekaligus menjaga interaksi melalui intonasi dan ritme dengan lawan bicara.

Hingga akhirnya saya mencari tahu bentuk interaksi dengan aku, dan ternyata aku tersebut selain menunjukan tingkat keakraban yang sudah tinggi, tapi juga menunjukan tingkat ke-aku-an yang lebih tinggi dengan kata lain ego yang lebih tinggi terhadap diri sendiri.
Ternyata setelah membaca kembali jurnal-jurnal terdahulu, tingkat ke-aku-an saya cukup tinggi, dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan saya sebagai kata pengganti.

Mungkin hal diatas bagi setiap orang tidak ada bedanya, dalam hal sebagai ganti ganti saya setuju bahwa itu tidak ada bedanya karena merupakan ganti orang pertama, tapi dalam makna saya pribadi berpendapat lain bahwa itu memang ada bedanya.
Jadi jika ada aku, gue dan saya berkeliaran pada jurnal saya atau reply di jurnal orang lain, itu tidak lain adalah hanya sebagai bentuk kata diri yang mewakili saya, jika untuk maknanya silakan ditafsirkan sendiri.

[Ga Penting] Sendal Jepit

Hari minggu kmarin jalan ke Bandung untuk kopdar (niat banget siy) sebenernya untuk bertemu dengan salah satu adek yang akan nikah.
Karena udah di telp ama bunda, kok blum jalan, padahal udah jam 6..  aku sih udah perkirakan waktunya paling lama bekasi-rambutan 15 menit,  Daripada di telp terus ya akhirnya jalan.. udah rapih packing, cari sendal jepit, langsung jalan. Ternyata, sampai sana… blum ada yang datang :p

Akhirnya ngajak muter-muter sendal jepit disekitaran tempat janjian.  Terus terang aja, aku ini senang banget pakai sendal jepit kalau keluar kota, aku paling enggak beli sendal jepit, buat jalan-jalan pas waktu senggang ga ada kerjaan. Mereknya mah mulai dari yang ga jelas, sampai kasogi.

Ketika mau jalan ke PVJ, buat makan siang salah seorang mbak ku bilang,  kok kamu pake sendal jepit sih?
lha… apa yang salah dengan sendal jepit, katanya kalau dulu mah, Nonton ke bioskop masuknya ga boleh pakai sendal jepit.. ya iyalahhhh… kalau masuk bioskop itu harus pakai karcis… itu aku juga tahu.. 🙂

Bahkan setelah itu, ada yang menyarankan buat beli sendal yang lebih beradab.
Fyuhhh… sendal jepit ternyata ga beradab ya? apalagi kalau jalan ke mal, sekuriti ngeliatinnya kayak gimana gituuuu… kayak pengen bilng : elo nyolong sendal di musola basemen ya..? trus elo pakai, gitu kali pikirannya

Terus pas mau makan di tempat yang rada beradab dikit, pelayan hingga spv nya  
ngeliat rada-rada ga percaya, apa orang ini bisa makan disini.. duh gusti, kalau makan ya bisa,… kalau masalah bayar kan ada yang traktir.. 😀 
Terus, pernah pula keluar kota, kehilangan sepatu disolo, akhirnya beli sendal jepit pas naik pesawat, mbak pramugarinya melihat dari atas kebawah, mungkin dipikirnya, cleaning serpis yang bersihin pesawat aja pakai sepatu, ini ada orang nyasar kepesawat.

Jadi inget, dulu pernah kondangan ke gedung juga pakai sendal jepit, untung ga di usir,
pernah juga pergi ama boss, diajak ketemu klien, sampai mau dibeliin sepatu,
akhirnya aku ga mau, n dipinjemin sepatu sopirnya…
Kalau masalah di usir pas pakai sendal jepit mah waktu dulu, pas mau kuliah,
pak dosen bilang, ini ruang kelas, bukan wc ya,.. ga ada yang pakai sendal jepit ke kelas.

Yah, walau bagaimanapun, kalau dalam keadaan santai, mo jalan nylusup-nyelusup kekebon atau muter2 mal, aku tetap pakai sendal jepit..
Cuma rada heran,… apakah memang pakai sendal jepit itu ga sopan ya? atau ga beradab..
tapi biarlah.. selama aku nyaman dengan sendal jepit, aku akan pakai terus..

Btw, kalau ada info yang tahu dimana jual sendal jepit kasogi, tulung kasih tahu yak,
terakhir aku dapat di Surabaya, di Supermarket Maharani. Sekarang rada susah nyarinya.

Siapapun menggonggong.. sendal jepit tetap berlalu…..

[Iseng] Kemajuan

Siapa sih yang ga ingin maju? tentu semua orang ingin maju, dalam hal postif tentunya.
Setiap tahun, kemajuan pasti selalu terulang,didaerahku.
Hari pertama tarawih, Masjid penuh, sehingga shalatnya bergeser ke halaman rumah orang.
Semalam, sudah mengalami kemajuan, maksudnya saf nya makin maju
bisa dipastikan, hingga akhir bulan nanti kemajuan yang diperoleh sangat pesat.
dan biasanya berbanding terbalik dengan pusat perbelanjaan, tapi pusat perbelanjaan makin maju juga sih… omsetnya :p

Tapi alhamdulillah, baru beberapa hari ini, perutku udah ga ngalami kemajuan,
yang mengalami kemajuan hanya ikat pinggangnya.. 😀

Kapan ya bisa bener-bener maju… ?

[LOMBA MENULIS:RAMADHANKU SERU] Kolak rasa asem

Setiap bulan puasa pasti aku teringat dengan cerita jaman dulu, waktu masih SMP.
Kalau dirumah, ada peraturan ga tertulis antara aku, kakak dan adik ku tentang pembagian tugas beres-beres rumah.
Kalau hari biasa, aku kebagian buat nyapu dan ngepel, pas bulan puasa ada tambahan buat beres-beres meja makan setelah buka dan sahur.

Suatu hari pas abis buka, mati listrik, ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu, apalagi teman-teman udah pada manggil untuk ke masjid dengan membawa obor yang dibuat dari batang pepaya.
Setelah maghrib, terburu-burulah beresin meja makan. Untung aja piring kotor sudah diangkut kebelakang, ang belum adalah mangkuk sayur dan kolak.
Panggilan dari teman-teman makin kencang, konsentrasi udah buyar, ambil mangkuk sayur, langsung bawa ke dapur, buka tutup panci, langsung tuang isinya, setelah itu langsung kabur.

Belum sampai luar, kakak ku udah teriak-teriak manggil, ku datang juga dengan bersungut-sungut, Ternyata sayur yang aku tuang kedalam panci itu salah,
aku bukan tuang kedalam panci berisi sayur, tetapi kedalam panci berisi kolak…


Kena hukum deh hari itu, abis taraweh ga boleh ngelayap..
sampai sekarang aku masih penasaran bagaimana rasa sayut asem dan kolak kalau digabung, karena pas kejadian itu, ya aku ga turut icip2 lagi.

Kalau ada yang udah perna coba, tolong beritahu rasanya ya, atau kirim sample nya buat buka 😀

LINK : Lomba menulis RAMADHANKU SERU