Kerupuk sebagai pencetus Inflasi

Tahun 2012 sudah dalam hitungan beberapa hari saja, dan saya perhatikan dari beberapa informasi yang saya baca akan segera dilaksanakannya redenominasi ini.
Ternyata redenominasi ini sudah diwacanakan pada Mei 2010. (JPN)* , tapi beritanya kembali menghangat di bulan desember 2011 ini, jika membaca dari link tersebut, tahun 2011-2012 adalah tahun untuk pelaksanaan sosialisasi, tapi kenyataannya di tahun 2011 hanya gencar muncul diakhir tahun.
 
Ada apa sih dengan redenominasi itu? apakah ada masalah dengan (Rp) uang rupiah ?
ternyata “Kebijakan redenominasi ini diambil setelah hasil riset Bank Dunia menyebutkan bahwa uang pecahan Rupiah Indonesia Rp 100.000 adalah yang terbesar kedua di dunia setelah Dong Vietnam (VND) 500.000.” (wiki)**
Jadi uang indonesia adalah termasuk uang “sampah” karena pecahan terbesar terlalu banyak Nol nya.
 
Pengertian tentang “Redenominasi Rupiah adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1.
Hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat tidak berubah. Untuk penjelasan lebih lengkap, bisa ke situsnya (redenominasi)*
 
Jika redenominasi terlaksana yang akan terjadi adalah dengan gambaran seperti ini :
Misalkan seseorang bergaji Rp 1.000.000 (satu juta) per bulan, maka orang tersebut akan menerima gaji dalam uang lama sebesar Rp 1.000.000, namun jika dia dibayar dengan uang baru, maka dia akan menerima Rp 1.000. Begitu juga dengan pembelian barang, misal untuk membeli TV LED seharga Rp 6.000.000, maka dapat dibayar dengan Rp 6.000.000, uang pecahan lama atau Rp. 6.000 uang baru, begitu juga untuk pembelian kendaraan bermotor baik sepeda motor ataupun mobil, Nilai keduanya sama, tapi ini berlangsung selama masa transisi yaitu selama uang (pecahan) lama belum ditarik keseluruhan yang direncanakan ditarik dalam jangka waktu 5 tahun hingga tahun 2018.
 
Sepertinya tidak ada masalah, semuanya akan berjalan baik sesuai dengan rencana.
tapi hasil perbincangan saya dengan beberapa teman lama saat acara Conference Marketing* kita membahas bagaimana nilai (redenominasi) rupiah pada barang-barang kecil misalnya kita akan membeli nasi goreng yang harganya Rp 8,000 atau Rp 8 untuk uang baru tapi bisa terjadi efek psikologis dari penjual kok cuma Rp 8 ya, akhirnya digenapkan menjadi Rp 10, bisa juga saat membeli kerupuk yang harganya Rp 1.500 atau Rp 1,5 tapi akhirnya dibulatkan menjadi Rp 2.
Kecil memang kelihatannya, tapi jika itu terjadi pada barang-barang kecil lainnya seperti sembako dan dihitung secara makro akan mengakibatkan inflasi yang berarti harga-harga akan lebih mahal dari seharusnya, atau dengan nilai yang sama barang yang diperoleh akan lebih sedikit.
Ini Berarti nilai uang yang dimiliki akan menurun, baik itu yang disimpan di Bank atau dibawah kasur, jadi lebih baik uang tersebut diinvestasikan yang jika Inflasi terjadi nilainya tetap cenderung bertahan adalah pada tanah, properti ataupun Logam Mulia.
 
Selamat menikmati liburan dan selamat berinvestasi.
Advertisements