Dua Perbedaan

Sebelum shalat subuh, saya sempatkan melihat pengumuman yang ditempel papan pengumuman masjid, saya amati ada dua laporan keuangan. Yang pertama adalah laporan dari kotak tromol jum’at serta sumbangan-sumbangan dari donatur, laporan keuangan yang kedua yang berasal dari kotak tromol yang berada di teras masjid. saya lihat lebih detil ternyata laporan kotak tromol yang berada diteras cashflow-nya cukup bagus, hasilnya dalam satu bulan lebih besar dari kotak tromol jumat.

Saya bertanya kepada salah satu pengurus masjid kenapa sampai ada dua dua versi laporan, padahal satu saja kan bisa, sambil menghela nafas sang pengurus berkata, dahulu hanya ada satu laporan, tromol yang berada diluar yang beasal dari kotak kaca jumlahnya selalu berkurang, usut punya usut menjadi bancakan oknum ga bertanggungjawab, bahkan hingga minus, sampai akhirnya sang bendahara tak tahan dan mundur, karena selalu nomboki uang yang kurang walau laporan yang tertera ada saldo sekian juta, tapi pada intinya uang tersebut tidak ada, jadi bendaharanya hanya de jure, secara de facto bendaharanya ga jelas :D.

5587-curi-kotak-amal

Akhirnya salah seorang jamaah berinisiatif membuat kotak tromol dari lempengan besi dan digembok ditiang teras mesjid, setiap hari uangnya selalu ambil dan dikumpulkan lalu dibuat laporan keuangan setiap minggunya “Laporan Keuangan Tromol Teras” dan ditempelkan di papan pengumuman masjid. Disitu tertera secara jelas pemasukan dan pengeluaran, lama kelamaan jamaah lebih sering memasukan ke tromol yang berada di teras daripada yang berada didalam ruangan utama masjid, karena terlihat lebih jelas penggunaan dananya. Mungkin ada juga ga yang setuju dengan metode ini karena dianggap sebagai metode hizbiyin 🙂

Saat shalat subuh, imamnya ternyata salah satu ustad yang terpandang didaerah tersebut. Jamaah subuh sekitar 30-35 orang, lumayan lah untuk ukuran masjid yang ga terlalu besar, dan semua jamahhnya komplit dalam arti tidak ada yang melarikan diri.
Imam shalat subuh biasanya sistim menggantikan jika imam utama ga datang, nah pernah 4 orang yang biasanya menjadi imam tidak hadir, akhirnya mengikuti ketentuan yang ada, majulah seorang tetangga untuk menjadi imam, dan banyak jamaah yang putar balik menyisakan hanya sedikit orang. Alasannya karena yang menjadi imam termasuk mahzab yang tidak membaca qunut, walau pada prakteknya saat menjadi imam tetap membacakan qunut.
Saat saya bercerita dengan salah seorang kawan, dia bilang “lho, ta’ pikir hanya ditempatku (Gresik) aja yang jamaahnya puter balik, ditempatmu ada juga toh”
Sayang sekali, shalat berjamaah yang harusnya mendapat pahala lebih besar, jadi gagal karena perbedaan pandangan coba bisa lebih bijak dan sedikit cari tahu malah bisa menjaga ukhuwah.

jalan

Jadi, apa hubungannya dua cerita diatas ya? hubungannya ya itu tentang Masjid yang sama 😀

Selamat makan siang dan bersiap-siap ke masjid untuk melakukan shalat jumat bagi pria yang tidak ada uzur.

Advertisements

Tentang Pilihan

Kemarin siang gw dapat telp dari teman kerja ditempat lama (kayaknya itu mulu teman kerja ditempat lama.. ya gimana lagi, gw udah pindah kerja mulai tahun 2000 sampai sekarang ini tempat kerja yang ke 6)
Jadi teman ini telpon dari Kalimantan, awalnya tanya bagaimana tentang tim riset disana, siapa yang pegang dan gimana kerjanya.
Sempat gw bcandain, “kok Asmen turun langsung, biasanya yang turun setingkat Supervisor”, dia jawabnya sambil bcanda juga ‘iya nih mas, aku dibuang kayaknya”.
Obrolan berlanjut tentang rekan satu kantornya si X yang resign dan gw juga kenal, akhirnya gw cerita juga sebenarnya dari Oktober tahun lalu udah ketemu 3 kali ama X intinya pernah gwe tulis disini

Pembicaraan terakhir pas ketemu si X tanya kenapa gw santai aja kalo berangkat siang, terus kalo pulang bisa sore, ya gw cerita “Alhamdulillah ditempat sekarang ini enak, Boss gw ga nentuin gw harus datang jam berapa, pulang jam berapa, kalo jam kerja normal 8 jam kerja sehari, kalo gw berangkat siang, berarti pulang ya bisa disesuaikan, tapi emang untuk kerjaan yang butuh datang pagi juga ga bisa diganggu gugat, kayak tim telesurvey, ikut ketentuan 08.30-17.30.
Dengan datang siang gw bisa anter istri dulu walau cuma sampai tempat angkot, abis itu gw bisa momong anak dulu maksimal sampe jam 09.00 baru gw berangkat, kan emaknya pulang lebih cepat, jadi gantian momong anak.
Hari sabtu kalo ga kepaksa banget ada target gw juga ga masuk, itu juga gw berlakukan untuk anggota tim, jadi sabtu minggu itu bisa melakukan kegiatan lain, buat keluarga lah.
Terus si X bilang, kalo dia berangkat anaknya kadang belum bangun, bahkan kalo lagi banyak kerjaan pulang bisa sampai subuh.
Terakhir gw bilang, itu pilihan, elo dibayar banyak yang harus berikan sesuai dengan apa yang elo dapat, akhirnya ya si X resign.

Abis dengerin gw cerita, si asmen ini bilang “Iya mas, anakku kemarin pagi sebelum aku ke sini (kalimantan) bilang, “mama pulang tengah malam ya, aku kan tau waktu mama cium aku, tapi aku ngantuk jadi ga bangun”
Gw akhirnya bilang “semua pilihan ada konsekuensinya, terserah aja pilihan yang mau dipilih, idealnya sih secara materi dan keluarga itu secara kualitas bisa mendapat yang terbaik, tinggal dihitung aja kualitas untuk keduanya, karena kebutuhan, keinginan dan kebahagian tiap orang itu beda-beda”
Habis itu telpon terputus… Moga bisa mendapatkan apa yang terbaik buatmu kawanz.

IMG_5555

Semua udah diatur

Pulang jam berapa? itu subjek pada email, isi sekaligus pertanyaan.
Jam delapan dari sini, ada apa? tulis saya pada subjek email, lalu saya kirimkan
Aku mau ketemu, Jam 9 di BK Buaran, penting balasnya kembali pada subjek email
Ok.. kamu yang traktir ya, balas saya kembali
Itu adalah hal yang biasa kami lakukan, jarang sekali saya sms atau bertelepon dengan adik ketemu gede ini saat di Purwokerto dahulu.
 
Saat bertemu, terlihat matanya yang bengkak seperti habis menangis.
“Ada masalah apa? mas mu ama anak-anak mana?” tanya saya
“Mas ga ikut, aku udah izin, salam dari mas, kalau sempat nanti aku dijemput”
“wa’alaikumsalam, iya tadi si mas juga sms minta istrinya dipulangkan dalam keadaan utuh”
saya menunjukan sms dari suaminya.
“jadi ada apa sebenarnya?”
 
lalu mengalirlah cerita kalau dia dan suaminya sering “diledek” oleh orangtua sepupunya, diperbandingkan dengan sepupunya yang baru saja membeli mobil, usia mereka terpaut 5 tahun, tapi sepupunya itu lebih berhasil secara ekonomi.
Setelah mengalir semua cerita, barulah saya bertanya
“kamu percaya bahwa semua ini sudah ada yang mengatur? termasuk rezeki?
dia mengangguk,
lalu saya lanjutkan, “anak itu kan merupakan rezeki, kaalo kamu mau hitung-hitungan, silakan hitung aja, berapa biaya yang telah kamu keluarkan untuk 3 anak kamu hingga saat ini, lalu kamu bandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk membeli mobil oleh saudara sepupumu.
itu yang pertama, lalu yang kedua kamu ga mikir kalo setiap kamu dan mas mu pulang kerja, pas lagi cape2nya ngeliat anak udah tidur, kalian cium, kalau libur kalian ajak jalan walau dengan naik dua sepeda motor, belum lagi kalau mereka ribut akan sesuatu, itu emang bisa dibayar dengan mobil?
bayangin kalo anak kamu ditukar ama mobil, pulang kerja yang kalian elus-elus mobil, pas liburan kalian berdua jalan-jalan naik mobil, tanpa ada tawa anak-anak atau nangisnya anak-anak.
Mungkin orangtua sepupu kamu meledek agar kalian terpacu agar berusaha lebih keras sehingga bisa membeli mobil, bisa aja mereka merasa kasihan kalo kmana-mana kalau ga naik motor, kalian naik angkot.
Nah gimana, apakah rezeki anak mau dituker ama rezeki mobil?”
 
Cemberut saja wajahnya, lalu saya beranjak pergi. “Eh tunggu, kamu mau ninggalin aku ya, nanti aku bilangin ama mas kalo aku ditinggal”
“tuh mas kamu udah datang” -saya menunjuk sahabat saya yang telah menunggu diparkir motor, lalu saya meninggalkan mereka berdua.
Hp saya bergetar, sebuah sms masuk “thx bro tadi kontak, jadi bisa dengerin langsung, do’a kan kami ya”
“sama2, do’akan saya juga” lalu saya pencet tombol send, undelivered… yah ternyata pulsa saya habis.

Hak untuk orang lain

Rabu pagi, saya diberitahu bahwa kawan lama bapak sesama bikers yang hobby balapan dijalur Priok-Komdak waktu muda dulu, meninggal dunia karena sakit lever, malamnya saya diceritakan kembali, saat para tetangga dan pengurus RT/RW menyiapkan untuk penguburannya, ada seorang pengepul barang bekas yang sering berkeliling dikampung kami turut takziah, saya memanggilnya Babeh karena memang tidak tahu namanya, usianya sekitar 50tahun, si Babeh ini adalah pengepul langganan yang rutin menyambangi kami untuk membawa koran-koran dan majalah bekas dari rumah.
 
Saat ada pengurus RT yang kebagian berangkat ke TPU Pd. Kelapa untuk mengurus administrasi serta mengurusi pekerjaan para penggali kubur, si babeh minta ikut, gerobaknya ditinggalkan dekat rumah almarhum.
ketika urusan administrasi selesai, babeh ga ikutan balik dan minta ditinggalkan saja, ternyata si babeh membantu tukang gali untuk menggali kuburan, saya jadi ingat saat tahun lalu ada tetangga meninggal dunia dan akan dikuburkan dipemakaman keluarga (kampung tempat tinggal saya masih banyak pemakaman keluarga yang berada dekat rumah) , si babeh turut membantu menggali kubur, dan saat saya tanyakan kenapa jika saat ada yang meninggal dan babeh sedang berkeliling babeh takziah dan turut membantu mengurus pemakaman bagi yang meninggal dunia, dan jawabannya seolah diluar logika, “saya mah bisa bantunya cuma tenaga aja, dan kalo saya meninggal nanti ga ada yang bantuin ngurusin gimana? ini kan itung-itung menabung kalo saya meninggal nanti kan kita juga ada haknya sama-sama orang muslim
 
Sederhana sekali, tapi sangat dalam maknanya.
 
*Selamat makan siang semuanya, dan jangan lupa shalat jumat bagi para lelaki muslim.

Berbagi Ala Mbah Darno

Hari minggu kemarin saya bertemu dengan seorang bapak yang menjadi loper koran, mungkin bagi orang lain ga ada istmewanya, tapi bagi saya itu adalah salah satu hal yang istimewa, betapa tidak, saya mengenal bapak tersebut ketika masih kelas 6 SD, saat itu kami berlangganan koran dan majalah donal bebek, yang menjadi loper koran adalah anaknya yang seusia saya, tapi ketika masuk SMP, bapaknya yang menggantikan anaknya untuk mengantarkan koran, awalnya memakai sepeda BMX anaknya, tapi akhirnya berganti dengan sepeda mini, lalu berganti lagi dengan sepeda jengki.

Itu cerita awalnya, tapi ada sisi menarik dari mbah Darno sang loper koran ini, di usianya yang sudah menginjak 69 tahun, mbah Darno diminta berhenti menjadi loper oleh anak-anaknya, tetapi beliau menolak dengan alasan kalau tidak bekerja badannya sakit semua. akhirnya anaknya mengalah dan membelikan Betrix (sepeda listrik) agar beliau tidak perlu ngegowes kembali.
Seminggu sebelum puasa, koran yang diantarkan lebih pagi, saya penasaran karena biasanya mbah Darno mengantarkan koran ketempat saya sekitar pukul 7 pagi, tapi jam 6 koran sudah diantarkan, dan saya lihat anaknya yang mengantarkan sebelum berangkat kerja. rupanya mbah darno sedang pulang kampung, dan agar pelanggan korannya tidak kecewa anaknya lah yang menggantikan.
tanggungjawabnya terhanggap pelanggan cukup tinggi, tidak heran banyak orang yang tetap bertahan berlangganan terhadap beliau.

Saat bulan puasa seperti ini jadwalnya juga tidak berubah sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan menjelang Hari raya, mbah Darno memberikan kue buatan istrinya untuk pelanggan-pelanggan lama yang sudah dikenal secara akrab, dan bisa dipastikan tas untuk membawa koran akan berganti dengan kue-kue dari pelanggannya sebagai ucapan terimakasih, ada pula pelanggan yang tidak memberikan kue, tapi memberikan uang sebagai tanda terimakasih.
kalau membayangkan, jika mbah Darno mempunyai 15 orang pelanggan saja, bisa dipastikan ada 10 toples kue yang akan dibawa pulang tapi tidak begitu dengan mbah Darno, beliau setelah dapat kue dari pelanggannya hanya beberapa yang diambil dan sebagian besar dibagikan kepada teman-teman loper lainnya, begitu juga uang “THR” dari pelanggannya jika ada loper lain yang tidak mendapat apapun dari pelanggan, akan diberikan bagian oleh mbah Darno.

Begitu banyak pelajaran dari Mbah Darno sebagai loper… beliau bukan hanya mengajarkan nilai tanggungjawab terhadap Sang Pemberi Hidup dengan bekerja sesuai kodratnya, tetapi juga mengajarkan tanggungjawab kepada oorang lain serta tidak lupa dengan berbagi terhadap sesama.


Selamat berpuasa…. semoga kita tetap ingat ada “tanggungjawab2” yang harus dilakukan dan tanpa lupa berbagi kepada sesama..

cantik itu perlu…. berbusana sexy itu pilihan

Bagi wanita siapa sih yang ga pengen dibilang cakep atau cantik? kebanyakan sih pasti mau lah….. cara ingin terlihat cantik juga berbeda-beda bagi tiap wanita, kalau secara umum sih tentu saja melalui penampilan mulai dari riasan pada wajah, busana hingga asesoris yang dikenakan.
Menurut saya itu wajar saja, tapi paling tidak harus berhati-hati dengan busana yang dikenakan, yang bisa membuat wanita lain minimal melirik dan lelaki lain memandang ga berkedip kayak disini
Kalau hanya memandang mungkin bagi wanita ga ada masalah, tapi saat ada tindakan yang dilakukan lelaki, itu baru menjadi masalah.

Seperti pagi ini, karena janjian ketemu dengan adek maniez, saya yang biasanya berangkat siang hari dan naik bis, memutuskan untuk naik kereta api, biar bisa sambil cerita mengenang masalalu *halah*
Rupanya naik kereta itu sangat cepat, jam 07.30, sudah sampai stasiun Sudirman, lanjut naik kopaja sampai Ratu Plaza, dan saya memutuskan sarapan ketupat sayur didepan Ratu Plaza,


Lagi asyik makan tiba-tiba ada teriakan “anjing lo, babi”
Saya spontan menengok, rupanya yang berteriak itu seorang wanita yang cantik, sexy dengan memakai busana diatas lutut dan stoking menutupi seluruh kakinya.
Setelah selesai makan, saya bersama dengan seorang bapak yang ada disebelah saya menghampiri wanita tersebut, dan wanita tersebut bilang kalau tadi saat dia teriak boncengannya aka bokong nya diremes oleh seorang bapak-bapak, yang langsung berjalan cepat menuju Plaza Senayan melalui pintu Ratu Plaza,


Karena rada shock, si wanita cuma menunjuk-nunjuk, bapak tersebut yang bersama saya akan menguber tentu saja bingung pria mana yang dimaksud.. ternyata yang melakukan pelecehan adalah pria yang sudah lumayan tua, dengan memakai jaket hitam… bapak disamping saya langsung mengejar, tapi ga berhasil karena pelaku sudah menghilang…

Kalau saja wanita tersebut tidak shock dan memberikan ciri pelakunya dengan cepat maka lumayan lah bisa ikut sebogem dua bogem..

Jadi, Buat wanita yang ingin cantik dan tetap mempertahankan cara berbusana seperti wanita diatas, paling tidak tetap berhati-hati.

Selamat menikmati hari jumat dan met wiken temanz….

*sambil nyemil Bitterballen Maniapasta yang masih hangat baru diantar oleh sang koki langsung

Ga ada ruginya kan?

Waktu makan siang dengan seorang teman di lt 4 food court Mal ambasador, didepan sebuah tempat makan manado, ada seorang mbak-mbak yang memberikan brosur tempat makan.
Sambil menunggu makanan datang, aku memperhatikan mbak tersebut, sambil tersenyum sdia memberikan brosur ke orang-orang yang melewatinya. Jika ada yang mengambil, dia mengucapkan terimakasih walaupun itu ada yang mengambil dipegang dan dibuang ditempat sampah sambil ga lupa dikruwes-kruwes brosurnya, tapi kalau ada yang tidak mau menerima dia hanya tersenyum.
Mungkin bagi si mbak belia hanya mengerjakan tugasnya.
tapi tetap tersenyum yang bukan senyum palsu.. itu yang aku salut.

Sekitar 15 menit menunggu makanan, aku perhatikan orang-orang ada yang bersikap cuek (ambil untuk dibuang atau dibaca dan akhirnya dibuang) pura-pura ga melihat, atau menolak dengan mengibaskan tangan.
Tapi hanya ada satu orang ibu-ibu yang mengambil sambil tersenyum, menganggukan kepala sambil mengucapkan terimakasih.
Hanya satu orang diantara sekian puluh orang yang memberikan senyum.

Mungkin kita sering juga melakukan hal diatas, sambi lalu, cuek, mengibaskan tangan ketika ada orang yang memberikan brosur, tapi ga ada salahnya kita juga memberikan senyum, toh ga bayar ini ga rugi sedikitpun untuk menyunggingkan sedikit senyum.
Siapa tahu bagi si mbak atau mas yang bertugas memberikan brosur itu adalah salah satu semangat untuk menjalankan tugasnya.

Tapi jangan suka senyum-senyum sendirian tanpa ada sebab yang jelas… nanti bikin orang takut 😀 😀

Belajar dari penjual Mie Ayam

Selama di Asem Baris, biasanya, kalau berangkat kerja, aku ga pernah sarapan.
paling cuma minum teh atau kalau ga keburu ya bawa air putih dari rumah. Kalau perut minta diisi, baru deh cari sarapan. Biasanya cari yang ringan-ringan aja, Mie ayam dideket stasiun tebet jadi sasaran.

Senin kemarin, aku sarapan disana. diseberangku, dilantai depan AlfaMart, ada seorang anak kecil kira-kira berusia 10-12 tahun, dengan adiknya yang aku duga berusia 3 tahun, karena ga beda jauh besarnya dengan keponakanku.

Setelah mie yang kupesan datang, aku melihat anak yang paling kecil datang ke penjual mie lalu menyerahkan uang sebesar Rp 500, untuk membeli mie.
Lantas, sibapak meminta anak buahnya untuk membikin mie tersebut, setelah jadi diantarkan ke anak yang lebih besar. Makanlah mereka berdua.

Ketika aku telah selesai, aku bermaksud untuk membayari mie yang dimakan kedua anak tersebut.
Si bapak penjual Mie, lalu tersenyum dan berkata… anak tersebut sudah membayar, kalau bapak mau membayari, belikan saja mereka minum didalam (sambil menunjuk ke Alfa) si bapak bahkan tidak menyaranku untuk mebeli minuman ditempatnmya.
Dan dia juga bilang, kalau bapak mau memberikan sesuatu, jangan berikan uang pak, lebih baik yang lain.

Speechless deh aku…

Yang Terbaik..

Diundang makan malam dari dua orang teman MP yang sedang berbahagia, aku datang telat, karena cari buritan belakang bebek peking yang hancur dicium si irit tapi ga gesit.
Akhirnya naik express, yang kebetulan didekat rumah sedang menurunkan penumpang. Alhamdulillah, si bapak supir langsung bilang, akhirnya ga mati sela (dapat penumpang balik lagi ke arah asal)

Obrol sana sini dengan pak sopir ttg jalan tol tarif termahal jalur terpendek jalan yang pada berlubang hingga kemacetan yang sudah biasa hingga harga-harga yang menggila.
Ga lama ada bunyi hp, si bapak langsung minta izin u/ mengangkat telp, setelah terima telp, tiba-tiba bilang sama aku, duh istri saya telp, anak saya belum pulang, dihubungi ke hp nya ga bisa.
Akhirnya si bapak minta maaf u/ telp anaknya, setelah beberapa kali mencoba akhirnya berhasil.
Mau ga mau aku akhirnya jadi mendengarkan pembicaraan antara anak dengan bapak, setelah menjawab salam dari anak, si bapak langsung bertanya “ dimana kamu” si anak menjawab di kampus, dibilang lagi “ngapain dikampus jam segini”
ada acara dengan teman balas si anak, si bapak ga mau kalah bilang, ajak aja temannya main kerumah, daripada jam segini masih dikampus, nanti sampai rumah jam berapa, kamu tunggu aja, nanti dijemput sama om kamu.

Setelah selesai, si pak sopir cerita lagi, beginilah mas, anak-anak jaman sekarang, maunya sendiri dikhawatirin orang tua malah marah-marah, dibilangnya ngekang, padahal kan orang tua maunya yang terbaik buat sianak.
Aku bilang, namanya juga anak muda pak, kalau ada acara dikampus kan ya gpp.
Untungnya ga lama sampai di tujuan, jadi ga berlanjut cerita si bapak supir, mungkin si bapak melanjutkan mengontrol anaknya lagi.


Pagi ini, temanku bercerita, dia baru kembali dari surabaya, aku tanya ada masalah dengan keluargamu, atau mau nentuin tanggal nikahanmu.
Ternyata jawaban yang aku terima bikin terkejut, dia bilang, justru jauh bang, jadi setelah dia kemarin kesana, si orangtua gadis memberitau bahwa anaknya telah dipinang orang lain, anak dari sahabat orangtua lelaki, padahal sebelumnya temanku sudah meminta, dan disarankan untuk ke Jakarta, mencari kerja yang lebih baik..

Ternyata kmaren semuanya terungkap.. itu penolakan secara halus rupanya, kan ngeliat 3B juga. Siti Nurbaya hari gini? ya, masih ada kok 🙂

Dari dua kejadian itu, sebenernya kan orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya,..
bukan biar anak jadi terbalik dengan pilihannya..

*untunglah orangtuaku moderat.. anak2nya dibiarkan menjalankan pilihan masing-masing.
kalian mau nikah ama siapa aja silakan, yang ngejalanin kalian.. orang tua cuma bantu mengarahkan…

Berjalan dengan dua kaki

Ngobrol dengan para penggemar soto ceker di Sabang, ada hal yang menjadi bahan buat kita bahas.. tentang gossip di MP? ah.. sepertinya hal itu udah ga usah diobrolin… waktu itu kita ngobrol tentang diri kita sebagai kuli pada perusahaan.
Bagi para pekerja, sudah tentu terikat dengan kewajiban ditempat
dia bekerja.
Kalau mau bergerak, rada kurang fleksibel. karena kaki yang satu terikat.
Tapi hal itu sebenarnya tidak bisa membuat kreativitas mandek atau terhenti sama sekali.
Ada berbagai macam cara untuk mendayagunakan kaki yang satu lagi, Contoh ekstrim mungkin dari postingan sebelumnya, tapi kalau kita sebagai orang yang terikat satu kakinya pada tempat lain, kenapa juga tidak mempergunakan potensi yang ada untuk menggerakan kaki yang satunya.

Misalkan, anda senang menulis, toh jika diteruskan, bisa saja seperti mas Wisnu atau mbak Nadiah yang bisa menulis buku sesuai dengan kemampuan dibidangnya. Dan setahuku, pada saat itu mereka terikat pada tempat kerjanya. Masih banyak lagi contohnya, tapi aku ambil dari kontak aku.

Bisa juga potensi yang bagus itu ternyata dari hobi, jika hobi memotret, punya kamera pohon.. ada sedikit waktu, kan lumayan bisa jadi tukang foto panggilan.  Setahuku banyak lah di MP ini, salahsatunya temanku, udah beberapa  event dia jadi tukang poto.

Atau contoh lain, mengkolaborasikan dua orang dengan dua hobi yang berbeda menjasdi suatu usaha. Bisa dilihat Agung yang hobi kotak katik program dengan Ida yang hobi kotak katik resep hasilnya adalah kotak.kue.com

Semua itu tergantung kita, mau atau tidak mengeluarkan potensi yang dimiliki dan menangkap peluang yang ada.