[Xenophobia] Menggiring Opini untuk hal “benar”

Jika bertemu dengan sesuatu hal baru atau asing, wajar saja jika ada sebuah rasa takut dan ingin menghindar, saat sekolah dulu, menjelang skripsi saya nyambi jadi interviewer dan kebagian tugas buat pemetaan yang kebetulan didaerah Gajahmada-Hayamwuruk mulai dari Duta Merlin hingga Glodok, lumayan juga sih, lumayan cape dan bosen menyusuri daerah yang sama hampir dua minggu.
Salah satu tempat favorit saya adalah Jl. Kebun Jeruk III, karena disana ada mesjid besar dan adem, enak untuk beristirahat disitu berbarengan dengan para kurir, pedagang keliling atau yang yang dinas lapangan.
 
Suatu hari, karena terlalu capai, setelah shalat dzuhur, saya beristirahat hingga tertidur dan dibangunkan oleh orang untuk shalat ashar, setelah shalat ashar saya diajak mengobrol dan diajak untuk ikut pengajian serta diperkenalkan dengan jamaah tabligh, terus terang saya takut karena saat SMA, teman saya pernah ada yang terjerat KW9 tapi akhirnya bisa keluar, saya berpikirnya jamaah tabligh ini sama dengan ajaran KW9, jadi sejak diajak ngobrol itulah saya tidak pernah lagi mampir shalat di mesjid tersebut. Saya bercerita dengan teman saya, dan mendapatkan kesan negatif dari perkumpulan itu, jadi setiap bertemu dengan orang yang berjenggot panjang, berdahi hitam karena sering bersujud dan bercelana cingkrang.
Saya lebih memilih untuk menghindarinya jika sudah bertemu pun, lebih memilih untuk tidak berinteraksi. Continue reading

[Xenophobia] Rasa Penasaran Untuk Memahami

Keinginan saya sejak sekolah adalah bekerja sambil berkeliling kota di Indonesia, dan Alhamdulillah nyatanya memang demikian. Setiap akan bepergian ke daerah lain, selalu ada pesan dan doa tentu saja, sebuah pesan yang biasanya standar,
“jaga diri baik-baik di tanah orang dan jangan tinggalkan shalat” tapi jika dilakukan dengan penuh ikhlas maka pesan yang hanya sekedar kalimat basa-basi tersebut mampu menempati sebuah ruang dalam hati.
Tapi terkadang ada hal-hal yang tidak masuk akal acapkali mendesak masuk ruang yang begitu besar didalam hati hingga membuat hal yang lebih penting itu tertutup, contoh kecil saat akan ke daerah pasti akan ada pesan nyeleneh yang terkadang tidak masuk dalam nalar “jangan tidur diatas ranjang karena disana banyak ilmu hitam”, “jangan tidur sebelum jam 12 malam” “jangan minum air yang disuguhkan, nanti kamu ga akan bisa pulang”, “jangan makan berpindah-pindah warung jika menetap didaerah tersebut”, dan ribuan “jangan” yang lain, jikalau itu adalah jangan asem dengan ikan asin, tempe goreng dan sambal tomat, tentu akan sedap sekali untuk dimakan. *(sayur asem) Continue reading